Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Aktual: Pandangan Al-Quran Terhadap Sikap Insecure

Insecure
Gambar: Jeda.ID

Sudah menjadi hal yang biasa di zaman sekarang, banyak dari kalangan remaja, dewasa, baik laki-laki maupun perempuan tidak heran lagi jika diantara mereka semua merasa insecure. Siapapun pasti sudah kenal dengan insecure, yang kemudian pasti membanding-bandingkan diri kita sendiri terhadap kelemahan dan kelebihan orang lain, merasa dirinya tidak berguna dan akhirnya hanya merendahkan diri sendiri.

Jika ditelaah kembali, Al-Qur’an yang diturunkan ribuan tahun sebelum kita lahir, dapat menjawab problematika yang terjadi di zaman ini. Yang kemudian kembali lagi pada diri kita masing-masing, apakah mau menerima nasihat-nasihat di dalamnya? Atau tetap bertahan dengan insecurity yang jelas tidak akan ada manfaatnya. Berikut pandangan Al-Qur’an menanggapi insecurity, antara lain:

Orang Beriman Tidak Boleh Insecure

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman”

Ayat ini bermaskud, manusia tidak seharusnya insecure karena mereka adalah golongan orang-orang beriman. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa orang beriman yakni menerima ketentuan Allah dengan lapang dada segala nikmat yang diberikan Allah. Dengan kata lain, orang beriman itu banyak bersyukurnya. Memang pada dasarnya, insecure seseorang bisa terjadi ketika iman kita turun.

Maka, sekalipun iman kita sedang turun, tetap perbanyaklah bersyukur. Karena mungkin itu adalah salah satu jalan agar kita lebih mencintai dan menghargai diri kita sendiri. Di mana ketika bersyukur kepada Allah, bukan insecure yang akan kita dapatkan melainkan tambahan nikmat yang Allah berikan. Seperti yang terkandung dalam QS. Ibrahim: 7

“Dan ingatlah (juga), tatkala tuhanmu memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”.

“Dan sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan” (Al-Isra’: 70)

Baca Juga  Fatwa Ijtihad ‘Bukanlah’ Hukum Allah

Manusia Tidak Boleh Larut dalam Insecure

Dalam ayat ini menjelaskan, bahwa salah satu alasan kita tidak boleh larut dalam insecure adalah karena Allah sendiri sudah memuliakan kita sebagai manusia, yang hakikatnya kita tidak perlu dan tidak butuh seperti pujian dari orang lain yang akan mambawa kita terbang sampai ke langit, padahal nyatanya mereka mengatakan seperti itu semata kalimat penenang belaka. Bukankah cukup Allah sebagai penolong kita?

Dalam ayat ini, bentuk Allah memuliakan kita adalah dengan memberi rezeki dari jalan yang baik. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah memuliakan kita yakni, manusia berjalan pada dua kakinya dengan tegak dan makan dengan tangannya. Sedangkan mahluk lainnya ada yang berjalan dengan keempat kakinya dan makan dengan mulutnya. Dan Allah menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagi manusia yang dengan kesemuanya itu manusia dapat mengerti dan memperoleh banyak manfaat. Berkat hal itu, manusia dapat membedakan diantara segala sesuau dan dapat mengenal kegunaan, manfaat serta bahayanya bagi urusan agama dan duniawinya.

Proses Orang Berbeda-Beda

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda” (Al-Lail: 4)

Kebiasaan orang yang insecure pasti mempunyai pemikiran seperti ‘padahal sama-sama belajarnya dari 0, tapi dia lebih unggul dalam bidang ini. Apakah dia yang memang pintar atau aku yang bodoh?’ Dan pemikiran-pemikiran lainnya yang merujuk pada insecuritiy. Ayat ini sudah menjelaskan bahwa kita lahir dengan potensi masing-masing, yang dibekali dengan keceerdasan dan intelektualitas berbeda antara mahluk satu dengan mahluk lainya. Tidak semuanya bisa di generalisir (sama ratakan). Sebab sudah tentu seseorang dengan usahanya sendiri untuk mecapai target kehidupannya, itulah yang membedakannya.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa Allah tidak menciptakan manusia bodoh, dungu, dan sebagainya. Semua lahir dengan kemampuan. Allah tidak akan menguji bahkan membebani hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya (tidak melebihi batas kemampuan hamba itu sendiri). (QS. Al-Baqarah: 286).

Baca Juga  Hermeneutika Derrida: Tidak Boleh Ada Tafsir yang Dominan

Demikian tulisan ini saya tulis, semoga kita senantiasa tergolong dalam golongan orang-orang yang bersyukur terhadap karunia dan nikmatnya. Dengan begitu, kita tidak berlarut-larut dalam insecure yang kita buat sendiri dalam pikiran-pikiran kita dan mencukupkan Allah sebagai objek dari niat kita dalam segala hal.

Penyunting: Bukhari