Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur: Tafsir Bil Ma’tsur karya Imam As-Suyūthī

Kajian terhadap tafsir al-Qur’an mengalami proses yang cukup panjang dalam sejarah perkembangan ilmu tafsir, dari masa klasik hingga kontemporer. Proses penafsiran pada setiap masa memiliki kecenderungan yang berbeda sehingga akan menghasilkan produk tafsir yang berbeda pula. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi objek kajian tafsir sebagai suatu proses penafsiran dan tafsir sebagai suatu produk dari kitab-kitab tafsir. Dalam hal ini, salah satu tokoh yang menarik untuk dibahas perihal karya tafsirnya adalah al-Imām Jalāl ad-Dīn As-Suyūthī dengan karyanya Ad-Durr al-Mantsūr fī at-Tafsīr al-Ma‟tsūr.

Biografi Imam As-Suyūthī dan Karyanya

Jalāl ad-Dīn As-Suyūthī lahir di Kairo pada bulan Rajab tahun 849 H/1445 M. Nama asli beliau adalah Abd ar-Rahmān bin al-Kamāl Abi Bakr bin Muhammad bin Sabīq ad-Dīn bin al-Fakhr Utsmān bin Nazhīr ad-Dīn Muhammad bin Sayf ad-Dīn Khudhr bin Najm ad-Dīn Abi as- Sholāh Ayyūb bin Nashir ad-Dīn Muhammad bin as-Syaikh Hamām ad- Dīn al-Hamām al-Khudhairy al-Asyūthi.

Pada usia delapan tahun As-Suyūthī telah menghafal al-Qur’an, dilanjutkan dengan hafalan al-Umdah, Manhāj al Fiqh wa al-Ushūl, dan Alfiyyah ibn Malik. Di usia lima belas tahun (864 H) As-Suyūthī menyibukkan dirinya dengan berbagai disiplin ilmu dan belajar kepada banyak ulama’ di antaranya Syaikh Syihāb ad-Dīn as-Syarmasahy (Faraid), Syaikh al-Bulqainy (Fiqh), Syaikh Syarāf ad-Dīn al-Manawi (Manahij), Syaikh Taqy ad-Dīn al-Hanafy (Hadits dan Bahasa Arab), Syaikh Muhyiddīn al Kafiji (Tafsir, Ushul, Bahasa Arab, ilmu Ma‟any, dan lain-lain), dan Syaikh Sayf ad-Dīn al-Hanafī. Ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu membuat As-Suyūthī menjadi mumpuni di dalam tujuh bidang keilmuan yakni: Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqh, Ilmu Nahwu, Ilmu Ma’any, Ilmu Bayan, dan Ilmu Badi’.

Baca Juga  Hari Natal dan Persaudaraan Antara Umat Islam dan Kristen

Dalam perjalanan keilmuannya, As-Suyūthī merupakan seorang ulama yang sangat produktif. Kesungguhannya mempelajari al-Qur’an telah dibuktikan sejak ia menghafal al-Qur’an di usia delapan tahun, dan pada tahun 865 H, As-Suyūthī muda mulai menulis kitab Syarh al- Isti‟ādzah wa al-Basmalah dan kitab Syarh al-Hauqalah wa al-Hai‟alah dengan niatan untuk mengharap barokah dari al-Qur’an. Kedua kitab tersebut kemudian diserahkan kepada guru beliau Syaikh al-Bulqainy dan As-Suyūthī mendapatkan pujian atas kedua kitab tersebut. Bermula dari keinginannya untuk mengabdi kepada al-Qur’an, As-Suyūthī mampu menghasilkan sekitar 500 karya di berbagai disiplin ilmu dengan beberapa kitab dalam lingkup kajian al-Qur’an dan Tafsir.

Kitab Tafsir Ad-Durr al-Mantsūr fī at-Tafsīr al-Ma’tsūr

Dalam perjalanannya, Jalāl ad-Dīn As-Suyūthī mengumpulkan kitab-kitab musnad yang di dalamnya berisi penafsiran dari Rasulullah SAW. Hadits yang berhasil dikumpulkan oleh As-Suyūthī berjumlah sekitar 10.000 hadits dengan status marfu‟ dan mawquf. Kumpulan dari hadits-hadits tafsir tersebut dijadikan dalam satu kitab yang diberi nama

Tarjumān al-Qur‟an. Namun ada hal yang membuat As-Suyūthī tidak berpuas diri dari kitab tersebut, menurutnya Tarjumān al-Qur‟an terlalu panjang sehingga As-Suyūthī berkeinginan untuk meringkas kitab Tarjumān al-Qur‟an dengan cara membatasi sumber hadits hanya dari kitab-kitab yang mu‟tabar, menyeleksi hadits-hadits yang terdapat kejanggalan dalam sanadnya, dan menilai kembali riwayat hadits sesuai dengan kitab yang ia jadikan sebagai sumber. Setelah melakukan berbagai seleksi dan takhrīj hadits, As-Suyūthī memberi nama Ad-Durr al-Mantsūr fī at-Tafsīr al-Ma‟tsūr sebagai sebuah ringkasan dari kitab Tarjumān al- Qur‟an.

Kitab Ad-Durr al-Mantsūr fī at-Tafsīr al-Ma‟tsūr merupakan kitab tafsir yang berbentuk Bil Ma’tsur yang penafsirannya semata-mata didasarkan atas isnād yaitu bersambung kepada Rasulullah SAW. Pada tafsir ini, seluruh hadits dihimpun tanpa adanya kritik atau ra’yu. As- Suyūthī memulai penafsirannya dengan menyebutkan nama surat, jumlah ayat, makkiyah/madaniyah surat, kemudian menafsirkan satu persatu ayat al-Qur’an dengan menyajikan berbagai hadits yang bisa berbentuk sebagai asbābun nuzūl, munāsabah, serta hadits-hadits tafsir. Meski demikian, dijelaskan bahwa sumber hadits-hadits tersebut merupakan hasil takhrīj dari kitab-kitab yang mu‟tabar. Lebih lanjut, As-Suyūthī menggunakan metode tahlili untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalamnya dari berbagai

Baca Juga  Penafsiran Tokoh Tafsir Kontemporer tentang Hukum Poligami

Metode Tahlili adalah metode yang berusaha untuk menerangkan arti ayat-ayat Al- Qur’an dari berbagai seginya berdasarkan urutan-urutan ayat atau surah dalam mushaf dengan menonjolkan kandungan lafadz, hubungan ayat, surah, sebab-sebab turunnya serta hadits-hadits yang berhubungan dengannya.
seginya.

Contoh Penafsiran Tafsir Imam Al-Suyuthi

Sebagai contoh, berikut penafsiran As-Suyūthī dalam tafsir Ad- Durr al-Mantsūr pada QS. Al-Fātiḥah ayat 4:

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – ٤

Pemilik hari pembalasan.

As-Suyūthī dalam menafsirkan ayat tersebut memunculkan beberapa hadits, di antaranya merupakan hadits yang berisikan qirāat dan hadits yang menjelaskan kandungan ayat tersebut:

Dari At-Tirmidzi dan Ibn Abi ad-Dunya dan Ibn al-Anbāry keduanya dalam kitab al-Mashāhif dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi saw. ketika itu membaca ayat (Maliki Yaum Ad-Dīn) tanpa alif.

Dari Ibn Jarīr dan Ibn Abi Hātim dari Ibn Abbas dalam firman Allah (Māliki Yaum Ad-Dīn) ia berkata: tidak ada seorangpun yang berkuasa seperti-Nya pada hari itu sebagaimana kekuasaan-Nya di dunia. Dan dalam firman Allah (Yaum ad-Dīn) ia berkata: adalah hari perhitungan bagi seluruh ciptaan, yakni di hari kiamat akan diperhitungkan amal mereka. Jika ia berbuat baik maka akan baik, jika berbuat buruk maka akan buruk, kecuali sesiapa yang mendapat ampunan Allah.

Dari sini dapat dilihat bahwa Tafsir Ad-Durr al-Mantsūr benar- benar disajikan secara ma‟tsūr tanpa sedikitpun menggunakan unsur ra‟yi. As-Suyūthī tidak ingin mencampur adukkan antara penafsiran dengan pendekatan unsur ma‟tsūr dengan pemikiran pribadinya. Beliau juga memberikan isyarat bahwa jika hendak mengetahui pandangan pribadi beliau tentang ayat-ayat al-Qur’an dituntut juga untuk mengkaji kitabnya yang berjudul Tafsir al-Qur‟an al-Azhīm atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Jalālain.

Editor: An-Najmi

Baca Juga  K.H. MA. Sahal Mahfudh Sebagai Bapak Fiqih Sosial