Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tadabur Makna Tinta Air Laut dalam QS. Al-kahfi Ayat 109

Sumber: kecilnyaaku.com

Akal merupakan anugrah terbaik yang diberikan Allah SWT kepada makhluknya. Tak ada makhluk yang dapat melakukan suatu hal dengan tertata rapi, penuh perhitungan, dan terpikirkan dengan amat baik selain manusia. Inilah bukti konkret bahwa akal merupakan pemberian terbesar Allah SWT terhadap manusia. Tadabur ayat-ayat Al-Qur’an merupakan salah satu alasan mengapa Allah SWT memberikan akal kepada manusia. Yaitu agar manusia senantiasa bersyukur atas akal yang dimilikinya salah satunya adalah dengan Tadabur ayat-ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam Q.S An-Nisa:82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفا كَثِيرا )٨٢(

Artinya:

  “Apakah kalian tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah SWT pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya

Karena ilmu-ilmu yang ada pada Al-Qur’an perlu dipahami dan dikaji secara mendalam menggunakan berbagai cara. Baik menggunakan penafsiran, pendekatan-pendekatan ilmiah dan lain-lain. Salah satu contohnya adalah pemahaman kontekstual mengenai makna Tinta Air Laut yang terdapat dalam Q.S. Al-Kahfi ayat 109.

Makna Konsektualisasi ayat-ayat al-Qur’an

Kontekstualisasi terhadap Al-Qur’an, merupakan salah satu pendekatan untuk mendalami makna Al-Qur’an. Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada teks yang ada, akan tetapi situasi ataupun suatu peristiwa yang terjadi didalamnya perlu adanya kajian. Pendekatan kontekstual dipandang mampu memperkuat pemahaman makna Al-Qur’an karena dalam upaya pemahamannya tidak menitikberatkan berdasarkan aspek kebahasan saja, akan tetapi juga dengan melihat berebagai faktor di luar teks itu sendiri.

Dengan demikian akan memunculkan pemahaman-pemahaman baru yang relevan atau sesuai. Sepertihalnya memahami ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat yang serupa, hadist, Asbab an-nuzul nya begitupula dengan sejarah sosialnya.

Tinta Air Laut dalam QS. Al-kahfi Ayat 109

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 109 yang berbunyi:

Baca Juga  Mengenal Al-Mizan, Kitab Tafsir Karya Thabathaba'i

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِه مَدَدًا

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

Pemahaman tekstual (teks) dalam diatas adalah bahwa Allah SWT memiliki keluasan Ilmu yang tidak terkira. Bahkan, Allah SWT memberikan permisalan bahwa “sekiranya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan segala ilmu tentang-Nya, niscaya tidak akan pernah cukup” untuk menandingi ilmu yang dimiliki-Nya. Yang berarti bahwa segala ilmu yang telah ada di dunia ini hanyalah sedikit dari ilmu yang Allah miliki. Baik ilmu agama maupun ilmu modern yang telah berkembang dengan pesat pada saat ini. Kemudian, memahami ayat tersebut dengan kontekstual salah satunya adalah dengan dengan melihat Asbab An-Nuzul nya.

***

Adapun Asbab An-Nuzul dari Q.S. Al-Kahfi ayat 109 Ibnu ‘Abbas mengatakan:  Ketika Nabi Muhammad SAW berkata kepada yahudi: “Dan tidaklah aku memberikan kalian ilmu kecuali hanya sedikit,” Lantas mereka berkata: “dan bagaimana dengan apa yang telah diberikan kepada kami taurat dan bukankah yang diberi taurat telah diberikan kebaikan yang banyak?”, maka turunlah ayat ini sebagai sanggahan atas apa yang telah mereka ucapkan. Dan dikatakan pula: yahudi berkata: “sesungguhnya engkau (Muhammad) telah diberikan kepadamu hikmah dan barang siapa yang diberi hikmah maka telah diberikan pula kebaikan yang banyak, lalu mengapa engkau berdalih bahwa engkau tak memiliki ilmu?”, Maka Allah SWT berkata: “katakanlah (muhammad) meskipun diberikan kepadaku Al-Qur’an dan diberikan kepada kalian At-Taurat dan jika itu dibandingkan atau disandarkan kepada kalimatullah maka itu adalah sedikit”.

Baca Juga  Tafsir Psikologi: Menilik Makna Ar-Raja dalam Al-Qur'an

Menurut buku Tafsir Fi Zhilalil-Qu’an, teks kalimatullah pada redaksi ayat tersebut yakni menggambarkan perbandingan ilmu yang dimiliki manusia dengan ilmu ilahi. Dikatakan bahwasanya, lautan yang ada pada redaksi itu menggambarkan ilmu manusia yang disangka luas dan berlimpah, padahal ilmu yang dimilikinya itu tak seberapa atau tetaplah terbatas. Sedangkan kalimatullah disini menggambarkan ilmu ilahi yang tidak ada batasannya dan tidak akan diketahui oleh manusia di mana letak puncak ilmu yang Allah SWT miliki.

Tadabur makna Q.S Al-Kahfi Ayat 109

Al-Qur’an sebagai kitab Allah pasti mengandung makna tersirat di dalamnya. Dalam upaya memahaminya, pasti akan Allah berikan kemulian dan juga pengetahuan-pengetahuan yang baru. Berikut merupakan beberapa contoh dari tadabur makna Q.S. Al-Kahfi ayat109.

  1. Mendapatkan pahala yang melimpah

Begitu dahsyat pahala yang dijanjikan Allah SWT terkait dengan ibadah membaca Al-Qur’an. Terdapat banyak hadist yang membahas kemuliaan dari membaca Al-Qur’an. Salah satu dalilnya adalah hadist riwayat Tirmidzi No.2910 yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ)) [أخرجه الترمذي]

Artinya:

Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur`an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.’ HR. At-Tirmidzi

2. Tidak sombong

Tadabur selanjutnya adalah tidak sombong. Telah dijelaskan dalam Q.S Al-Kahfi:109 bahwa seluruh Ilmu yang dimiliki manusia tidak akan dapat menandingi Ilmu yang Allah miliki. Dan dikatakan “Sekiranya lautan yang ada di bumi dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu-ilmu di dunia ini, niscaya tidak akan pernah cukup menandingi Ilmu-Ilmu Allah”. Itu merupakan perumpamaan yang Allah SWT cantumkan dengan jelas dalam Q.S. Al-Kahfi:109. Maka dari itu, seseorang seharusnya tetap rendah hati terhadap segala ilmu yang diperolehnya karena sesungguhnya tiada satupun makhluk di dunia ini yang dapat menandingiilmu yang Allah miliki.

Baca Juga  Literatur Tafsir Nusantara: Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Banten

Editor: An-Najmi