Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Syarat Mufasir Jika Ingin Menafsirkan Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Perlu kita ketahui bahwa seseorang tidak boleh sembarangan dalam menafsirkan al-Qur’an. Apalagi dengan motif tertentu, seperti kepentingan pribadi, hawa nafsu, apalagi agar tidak dikatakan bodoh. Orang semacam ini dikatakan dalam hadis Nabi Saw. yang diceritakan Ibnu Abbas “barang siapa yang menafsiri Alquran dengan akalnya, maka tempatnya adalah neraka”. (H.R. Tirmidzi).

Dua Macam Tafsir

Prihal menafsiri Alquran, para ulama membagi dua macam tafsir sebagai acuan seseorang dalam mengambil penafsiran Alquran, yaitu: tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi.

Tafsir bil ma’tsur adalah penafsiran yang dilakukan oleh mufassir dengan cara mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah, ucapan para sahabat dan pemahaman para tabiin dari golongan salafusshalih. Dengan cara memperhatikan sanadnya, memilih yang sahih dan mentarjih masalah-masalah yang bertolal belakang. Contoh konkret tafsir model ini seperti karya Al-Qurtubi jamiat al bayan fi Tafsiri Al-Quran, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At-Thabari dan lain sebagainya.

Sedangkan tafsir bil ra’yi eksistensinya menimbulkan polemik antara para ulama: ada yang melarang, ada yang memperbolehkan. Para ulama yang melarang, karena ia sangat berhati-hati dalam menafsirkan Alquran. Ibnu Athiyyah berkata “Ulama salafusshalih berpengaruh seperti Said bin Musayyab, Amir bin Sya’bi dan lain-lain sangat mengagungkan tafsir Alquran, mereka sangat berhati-hati sekalipun mereka sangat alim dan mumpuni.

Beberapa di antaranya berpendapat bahwa orang menafsirkan Alquran dengan akalnya dan tidak sesuai dengan kehendak Allah maka ucapanya ditolak. Para ulama terdahulu juga sangat keberatan jika menyandang gelar mufassir, dan diikuti banyak orang. Mereka takut jika penafsiranya tidak sesuai dengan maksud, tujuan, yang ditetapkan Allah dan Rasulnya.

Penafsiran Menggunakan Akal

Mereka takut dengan hadis dari Jandub ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa menafsirikan Alquran dengan akalnya, maka dia dianggap salah, sekalipun penafsiranya benar. (H.R. Tirmidzi dan Abu Dawud). (Al-Qurtubi, Jamiat Al-bayan, juz 1 hal. 29).

Baca Juga  Sekilas Mengenai Asbab al-Nuzul

Juga diperkuat hadis dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. bersabda: “ Berhati-hatilah dalam berbicara tentang aku, kecuali jika kalian mengetahuinya. Barang siapa sengaja berdusta tentang aku, maka tempatnya adalah neraka, dan barang siapa menafsirkan Alquran dengan akalnya, maka tempatnya adalah neraka. (H.R. Tirmidzi).

Namun hadis tersebut di jawab oleh ahli ra’yi (rasionalis). Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menafsirkan ayat dengan akal di dalam hadis di atas adalah menafsirkan ayat tanpa menggunakan ilmu, karena malas belajar atau kesulitan atau tidak ingin dikatakan bodoh. Atau ia menafsirkan ayat menurut keinginan nafsunya dan disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang dapat memalingkan seseorang dari jalan kebenaran.

Jadi selama menafsirkan ayat Alquran dengan menggunakan ilmu menurutnya sah-sah saja. Namun saran penulis ahli rasionalis semacam ini dalam menafsirkan Alquran jangan sekali-kali diikuti. Sebab bahaya jika penafsiran tadi tidak akurat sesuai yang dimaksud Allah Swt. dan Rasulnya.

Syarat Menafsirkan Al-Qur’an

Hasan Al-Bana dalam bukunya Wasiat Qurani Aktivis Harakah halaman 60 memaparkan bahwa seseorang yang akan menafsirkan Alquran harus selalu memperhatikan dengan serius hal-hal penting sebagai berikut:

  1. Jangan menafsirkan Alquran dengan tujuan-tujuan tertentu
  2. Hendaknya menghindari keingnan-keinginan pribadi
  3. Jangan menafsirkan Alquran berdasarkan peritiwa yang sedang terjadi.

Lebih lanjut Al-Bana mengatakan, jika sudah memperhatikan hal-hal di atas secara baik, maka tidak diragukan lagi Alquran akan selalu menjadi pemimpin dalam setiap gerak-gerik langkahnya. Hawa nafsunya akan selalu mengikuti hadis Rasulullah Saw.

Dari keterangan di atas maka para ulama merumuskan suatu syarat bagi seseorang yang ingin menafsirkan Alquran, atau mengambil keterangan dalam al-Qur’an; untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Tentu syarat tersebut ber-tujuan agar seseorang mufasir tidak tersesat ketika menafsirkan Alquran dan apa yang ditafsirkan sesuai dengan maksud turunnya ayat.

Baca Juga  Israiliyat: Contoh dan Cara Menyikapinya

***

Imam Suyuthi telah meletakkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin menafsirkan Alquran. Dinukil dari az-Zarkasyi syarat-syarat tersebut adalah:

  1. Menukil hal-hal yang datang dari Rasulullah Saw. yakni hadis. Juga perlu diperhatikan tingkat kesahihanya serta jangan sekali-kali mencantumkan hadis dhaif dan maudhu.
  2. Mencantumkan ucapan sahabat, karena ditetapkan sebagai hadis marfu’ secara mutlak
  3. Mengacu kepada bahasa Arab dan berhati-hati menggunakannya dalam menafsirkan ayat
  4. Memilih kaidah-kaidah mantik yang benar dan dikuatkan oleh aturan syara’

Minimal jika ingin menjadi mufasir syarat-syarat tersebut harus dipenuhi. Namun jika dari keempat syarat tersebut tidak mampu kita penuhi, cukup kita sebagai orang awam yang ingin belajar Alquran; mengikuti para ulama yang sudah menulis tafsir yang kualitasnya diakui oleh ulama lain, dan tentu memenuhi syarat-syarat diatas.

Tafsir yang populer dan memenuhi syarat diatas antara lain: Tafsir Mafatih al-Ghyb karya ar-Razy, Tafsir Anwar at-Tanzih wa Asrar at-Ta’wil karya Imam Baidhawi, Tafsir Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil karya imam an-Nasafi dan lain sebagainya. Wallahuaalam.

Penyunting: An-Najmi