Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Syarat Menjadi Umat Terbaik: Tafsir Ali Imran Ayat 110

Terbaik
Sumber: islami.co

Untuk menjadi umat terbaik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat itu termaktub dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 110:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Syarat Umat Terbaik

Ayat ini dengan jelas menyebutkan setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi, jika ingin menjadi umat terbaik. Tiga hal itu adalah amar ma’ruf, nahi munkar dan beriman kepada Allah. Oleh M.Qurais Shihab ayat ini dikaitkan dengan ayat Ali Imran ayat 104:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Di ayat 104 surat Ali Imran, Allah secara tegas memerintahkan kepada umat Islam, agar ada di antara mereka yang menyeru kepada kebaikan (al-khair), melakukan amar ma’ruf, dan nahi munkar.

Menurut M.Qurais Shihab  kedua ayat itu (Ali Imran ayat 110 dan 104), memiliki muatan yang sama. Dua di antara tiga hal yang disebut dua ayat itu sama, yaitu amar ma’ruf, dan nahi munkar. Namun di ayat 104, digunakan redaksi menyeru kepada kebaikan (يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ), sedangkan di ayat 110 digunakan redaksi beriman kepada Allah (وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ). Meskipun kedua ayat menggunakan redaksi yang berbeda(يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ dan وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ), namun keduanya sejalan. Keduanya memiliki makna keimanan yang diimplementasikan dengan amal shaleh.

Baca Juga  Terjemah Al-Quran dan Upaya Merespon Dinamika Masyarakat

Amar Ma’ruf

Secara bahasa, amr berarti perintah. Adapun menurut istilah adalah ucapan yang menuntut adanya ketaatan yang diperintah dengan menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya (Al-Ghazali, 1413:61). Sedangkan ma’ruf (al-ma’ruf), adalah kebaikan yang disepakati oleh mayoritas masyarakat di satu tempat dan waktu tertentu selama tidak bertentangan dengan nilai islam (Shihab, 2020:170).

Perlu digarisbawahi bahwa al-ma’ruf di satu tempat bisa berbeda dengan tempat lain. Bisa jadi di satu tempat, suatu hal dikatakan ma’ruf namun ditempat lain tidak. Begitu pula, pada kurun waktu tertentu. Suatu hal bisa dikatakan ma’ruf namun seiring berjalannya waktu, hal itu tidak lagi dikatan sebagai ma’ruf.

Dari pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa amar ma’ruf adalah memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan yang sudah disepakati bersama oleh mayoritas masyarakat disatu tempat dan pada kurun waktu tertentu.

Yad’una Ilal Khair

Yad’u bisa diartikan mengajak. Sedangkan al-khair bisa diartikan sebagai nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadis (Shihab, 2020:164). Maka yad’una ilal khair berarti mengajak orang lain untuk melaksanakan nilai-nilai universal yang ada dalam Al-Qur’an dan hadis.

Ketika mengajak orang lain untuk merealisasikan nilai-nilai ilahi tidak diperbolehkan ada paksaan. Akan tetapi disampaikan dengan persuasif dalam bentuk ajakan yang baik.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat di atas  menjelaskan, jika dalam mengajak orang lain terjadi perdebatan maka lakukan perdebatan dengan cara yang terbaik bukan sekedar baik. Setelah kita melakukan ajakan, maka siapa yang hendak beriman silahkan. Siapa yang hendak kufur juga silahkan. Sekali lagi, kita tidak diperkenankan memaksa mereka untuk beriman, firman Allah swt:

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

Al-Qur’an memasangkan alkhair dengan yad’unna. Ini berarti nilai-nilai ilahi tidak boleh dipaksakan dan kita hanya diperintahkan untuk mengajak. Karena dalam suatu masyarakat bisa jadi ada beragam kepercayaan. Sedangkan al-ma’ruf dipasangkan dengan ya’muruna, ini berarti untuk kebaikan yang disepakati bersama oleh suatu komunitas masyarakat (al-ma’ruf) tidak sekedar mengajak tapi memerintahkan.

Baca Juga  Mufasir Progresif (2): Isu-Isu yang Menjadi Perhatian

Ini membuktikan betapa Al-Qur’an mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bertoleransi. Dengan menonjolkan persamaan (titik temu) di antara banyaknya perbedaan, nisacaya akan tercipta persatuan.

Nahi Munkar

Secara bahasa, nahyi berarti larangan. Adapun secara istilah berarti ucapan yang memberi makna untuk meninggalkan suatu perbuatan (Al-Ghazali, 1413:61). Adapun al-munkar adalah kebalikan dari al-ma’ruf, yaitu perbuatan-perbuatan buruk yang sudah disepakati oleh setidaknya mayoritas masyarakat di atu tempat dan waktu tertentu. Sama halnya dengan al-ma’ruf, al-munkar juga bisa jadi berbeda antar suatu tempat dan tempat lain begitupun bisa berbeda dari satu kurun waktu dan kurun waktu yang lain.

 Dalam suatu komunitas masyarakat tidak boleh ada yang keberatan jika diperintah untuk mengerjakan al-ma’ruf dan dilarang berbuat munkar. Karena keduanya telah disepakati bersama. Selain itu, setiap elemen masyarakat harus mengambil peran sesuai dengan kemampuannya dalam rangka ber-amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan tentunya, amar ma’ruf dan nahi munkar, harus dilakukan dengan lemah lembut dan bijaksana.

Sabda Nabi saw: “Siapapun di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubah dengan wewenangnya, jika tidak mampu maka dengan ucapannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian adalah selemah-lemahnya iman. (H.R Muslim).

Penyunting: M. Bukhari Muslim