Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Syarat Menjadi Mufassir Menurut Manna’ Al-Qaththan dan As-Suyuthi

Syarat mufassir
Gambar: redaksiindonesia.com

Postingan admin Instagram jajaran redaksi Tanwir.ID, bertepatan pada hari selasa tanggal 9 November 2021 lalu, yang merupakan sebuah website kanal tafsir berkemajuan, cukup memberi rangsangan dan spirit kepada penulis. Sebut saja, nada pertanyaan yang cukup menggelitik dalam Instagram kanal tafsir berkemajuan Tanwir.ID sebagai berikut: ‘’Menurut sahabat tafsir, apakah menafsirkan al-Qur’an memerlukan syarat-syarat tertentu?”

Menyikapi pertanyaan yang dilontarkan admin Instagram Tanwir.id tersebut, penulis serasa ingin menggali jawabannya. Penulis merunut jawabannya dari kedua sosok ulama tafsir, yaitu Manna’ al-Qaththan dan al-Suyuthi. Namun sebelum menjurus ke dalam tema pembahasan, berikut penulis ulas terlebih dahulu mengenai definisi ilmu tafsir, berikut ulasannya:                   

Pengertian Ilmu Tafsir

Keilmuan dalam ranah tafsir merupakan aspek keilmuan termulia. Dikarenakan mengacu terhadap objek kajian, beserta tema-tema kajian yang juga mulia. Yang mana objek kajiannya adalah ‘’kitabullah’’, sementara tema kajiannya yakni ‘’kalamullah’’. Sedangkan dalam aaspek keilmuan dilihat dari kemuliaan tema-tema yang dikaji. Serta tidak terdapat kalam yang lebih amat sangat mulia, daripada kalamullah itu sendiri.

Selanjutnya tidak terdapat pula ilmu, yang aspek keilmuanya amat sangat mulia, selain daripada ilmu yang diejawantahkan untuk menelaah serta mengkaji kitabullah. Dan tidak terdapat juga sebuah pekerjaan yang paling utama, selain daripada menafsirkan kitabullah, berikut mendakwahkannya. (Nur, 2015) hlm 37

Sekelumit mengenai definisi tafsir, penulis kutip juga melalui penggalan ayat 33 dari surah al-Furqan. Dalam hal ini, merunut pendapat ulama besar yang satu tanah kelahiran dengan penulis, yaitu Imam Nawawi al-Bantani, yang terletak satu provinsi dengan penulis, yaitu provinsi Banten. Berikut ulasan penggalan ujung dari surah al-Furqan ayat 33:

            وَلاَ يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلاَّ جِئْنكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا

‘’Mereka tidak membawa sesuatu sifat yang ganjil kepadamu. Melainkan kami membawa kepadamu sesuatu yang haq (benar) dan yang lebih baik penjelasanya’’ QS. Al-Furqan [25]:33

Dalam hal ini, penulis ingin menggarisbawahi ujung ayat suci Tuhan, yaitu وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا (wa ahsana tafsiran). Imam Nawawi dalam kitab tafsirnya Marah Labid, memberikan pemahaman mengenai ujung ayat tersebut, yaitu ‘’ahsana bayanan wa aqwa hujjatan’’. Oleh karenanya, definisi tafsir dalam perspektif ulama bertanah kelahiran yang pamor dengan seni debusnya ini. Yaitu keterangan mengenai ayat-ayat kitab suci al-Qur’an yang berpijak pada penjelasan-penjelasan terbaik disertai dengan dalil-dalil yang terkuat. (Khalilurrahman)h. 45.

Baca Juga  Tafsir Ayat Qalamun : Perintah Untuk Menulis!

Pasca penulis uraikan mengenai definisi-definisi tafsir, berikut penulis paparkan beberapa syarat-syarat mufassir, yaitu menurut perspektif dua ulama. Berangkat dari Manna’ al-Qathan hingga Imam Suyuthi, berikut ulasan kedua ulama tersebut:

Syarat Mufassir Perspektif Manna’ al-Qaththan

Syarat yang diajukan pertama ialah memiliki jalur akidah yang benar. Dikarenakan akidah berpengaruh secara signifikan kepada pemiliknya. Seperti kekhawatiran yang mencuat akan mengubah nash-nash, serta ketidakjujurannya mengenai penyampaian pesan. Kedua, terlepas dari tujuan hawa nafsu. Artinya kecenderungan hawa nafsu tersebut, disinyalir mendorong pelakunya untuk membela kepentingan mazhabnya sendiri.

Selanjutnya poin ketiga, menjadikan pioner terdepan dalam hal menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Karena pada dasarnya suatu hal yang cenderung global, masih kemungkinan terperinci dengan ayat lain, dengan pengejawantahan secara ringkas. Keempat, menelisik penafsiran dari sunnah. Karena kedudukan serta posisi fungsi sunnah sendiri, yaitu sebagai pensyarah(penjelas) kitab suci al-Qur’an.

Kelima, pasca telisikan sunnah berujung tak memilki titik temu. Maka, telisklah pendapat para sahabat. Keenam, jikalau tidak diketemukan penafsiranya berangkat dari al-Qur’an, sunnah, serta pendapat para sahabat. Maka, mulailah merujuk kepada pendapat para tabi’in. Ketujuh, mempunyai kedalaman bahasa Arab yang baik. Dikarenakan kitab suci al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.  (Nur, 2015) hlm.40

Syarat Mufassir Perspektif Imam As-Suyuthi

Syarat menjadi mufassir diajukan oleh Imam As-Suyuthi antara lain: Pertama, mempunyai kedalaman pengetahuan bahasa Arab yang mumpuni berikut kaidah-kaidahnya. Berangkat dari ilmu tata bahasa, etimologi, morfologi, termasuk sintaksis. Kedua, mumpuni dalam ilmu retorika, seperti halnya, al-bayani dan al-badi’,  serta ilmul ma’ani.

Ketiga, memiliki kedalaman mengenai ilmu ushul fiqh, berupa, khas, aam, mujmal, dan mufashshal. Keempat, aspek keilmuan mengenai asbab an-nuzul, berupa background (latar belakang) meliputi hal-hal yang termasuk dengan turunnya ayat-ayat suci al-Qur’an. Kelima, mempunyai kedalaman mengenai nasikh dan mansukh. Keenam, memahami cakupan keilmuan qira’ah al-Qur’an. Ketujuh, ilmu al-Mauhibah (Nur: 2015, hlm.41). Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari         

Baca Juga  Mengenal Ibnu Al-Jauzi dan Ulumul Qur’an Abad ke-6 Hijriyah