Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Syaikh Yasin al-Fadani, Ulama Nusantara yang Mendunia

Selain diberkahi bentagan alam yang luas, ternyata Indonesia juga diberkahi dengan banyaknya para ulama yang telah mendedikasikan waktu dan hidupnya untuk mendalami sumber hukum Islam. Menyebarkannya ke seluruh dunia demi terwujudnya salah satu tujuan baginda Rasulullah diutus ke bumi, yakni rahmatan lil ‘alamin. Jika ditelusuri, kita akan menemukan banyak tokoh-tokoh besar yang keberadaannya memiliki dampak luar biasa bagi masyarakat.

Salah satunya adalah Syaikh Yasin al-Fadani. Ia merupakan ulama yang masyhur dikenal sebagai pemegang sanad hadis tertinggi. Selain itu, ia juga menyimpan sanad dari berbagai disiplin keilmuan yang paling banyak se-dunia. Dengan sanad-sanad yang dimiliki, Syaikh Yasin kemudian menyebarkan sanad-sanad  dan banyak disiplin ilmunya ke seluruh dunia. Maka tidak heran jika akhirnya ia dijuluki dengan musnid al-Dunya.

Biografi Syaikh Yasin

Martin van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia menyebutkan, nama lengkap Syaikh Yasin adalah Alamuddin Abuul Fayd  Muhammad Yasin bin Muhammad Isa bin Udik al-Fadani al-Makki al-Syafi’i. Ia dikenal dengan Syaikh Padang yang dinisbatkan kepada tempat dimana keluarganya berasal, yang kemudian gelar Padang atau Fadaninya disematkan.

Syaikh Yasin dilahirkan di Makkah pada 1915 M. Ia memiliki perhatian yang besar terhadap kajian sanad. Dengan kerja keras dan kegigihannya, beliau berhasil mengumpulkan banyak sanad yang didapatkan dari 700 lebih gurunya. Guru beliaupun tidak hanya berasal dari Haramain, melainkan juga dari luar Haramain.

Di antara guru-guru beliau ketika masih berada di Makkah ialah  ayahnya sendiri, Syaikh Muhsin bin Ali al-Falimbani, Syaikh Umar Junaid, Sayyid Syaikh Umar bin Husain al-Dagestani al-Maliki, dan guru lainnya. Dan di antara guru-guru Syaikh Yasin yang dari luar Haramain ada Sayyid Syaikh Nashrullah bin Ahmad Afandi al-Syathi al-Syami, Sayyid Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Hasan al-Nabhabhani, dan sederet guru-guru beliau lainnya yang berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Mesir, Syiria, Yaman, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Untuk Orang Yang Sering Berpuasa: Ada Dua Kebahagiaan

Sanad-sanad yang dimiliki beliau kemudian dibubukannya. Pendidikan ilmu agama pertamanya beliau dapatkan dari ayahnya sendiri yang bernama Isa al-Fadani. Tidak cukup hanya di situ, Ia kemudian melakukan pengembaraannya tahun 1346 H di bidang intelektual ke Madrasah Shaulatiyyah. Saat masih berstatus sebagai siswa, beliau terkenal sebagai murid yang sangat antusias, haus ilmu dan senang sekali memburu sanad (berpetualang mencari ilmu).

Ijazah dan Karya-Karyanya

Meski bergelar Musnid al-Dunya, beliau termasuk sosok ulama yang mudah memberikan sanad beserta ijazah kepada murid-muridnya yang dapat dilihat dengan adanya ijazah umum untuk orang-orang semasanya. Hal ini juga dapat dilihat di dalam kitab beliau Waraqat fi Majmuat al-Musalsalat wal al-Awail wa al-Asanid al-Aliyah, Syaikh Yasin berkata,

Di kitab ini, kami telah ijazahkan seluruh isinya di dalam kumpulan kertas-kertas, kepada siapapun yang hidup semasa dengan kami, dan ingin meriwayatkan dari kami. Dan bagi orang yang tidak semasa, semua isinya pun telah kami beri izin periwayatannya dan semua pengetahuan di dalamnya.”

Tidak hanya ijazah ‘amm (umum), beliau juga memberikan beberapa muridnya ijazah khas (khusus). Di antaranya Syaikh Yahya al-Ghautsani, Sayyid Alawi al-Maliki al-Makky, dan murid-murid beliau lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dengan kelapangan Syaikh Yasin dalam memberikan ijazah serta melalui karya-karyanya, beliau telah memberikan jasa yang besar bagi para Ulama di Nusantara dan para pembelajar.

Dari banyaknya ulama-ulama hebat asal Indonesia di Haramain, Syaikh Yasin merupakan ulama yang pertama kali memperhatikan sanad ulama Nusantara. Berkat beliau yang telah membukukan sanad-sanad para ulama Nusantara, membuat periwayat-periwayat dari Arab dan Timur Tengah mulai mengenal ulama Nusantara.

Begitulah tradisi yang telah dipertahankan para ulama kita terdahulu. Ilmunya tak sekedar bagi diri mereka. Namun mereka merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikannya lewat goresan-goresannya yang kelak akan dibaca oleh para generasi selanjutnya. Kontribusi beliau di bidang hadis, khususnya sanad, tidak disangsikan lagi.

Baca Juga  Sekelumit Kisah Penghafal Al-Quran

Karya-karya beliau yang bisa kita nikmati di antaranya al-Durr al-Madhud fi Syarh Sunan Abu Dawud yang terdiri dari 20 jilid. Al-Ujalah fi al-Hadis al-Mursalat, Arba’un Hadisan min Arbain Kitaban al-Arba’in Syaikhan, dan karya luar biasa beliau lainnya. Setelah berkiprah banyak bagi umat dan mengabdikan hidupnya untuk ilmu, akhirnya beliau diwafatkan pada 20 Juli 1990 M di Haramain. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang baik di sisi-Nya.

Editor: Yusuf