Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Surat Hud Ayat 7: Fenomena Proses Penciptaan Alam Semesta

alam
Sumber: istockphoto.com

Ngomong-ngomong tentang fenomena penciptaan alam semesta, menurut Al-Qur’an dapat ditemukan dari ayat-ayat yang tersebar melalui beberapa surat. Akan tetapi, informasi yang terpapar dalam Al-Qur’an itu hanya sebatas prinsip-prinsip dasar saja, karena Al-Qur’an bukanlah buku fisika ataupun kosmologi. Sehingga, penafsiran dari mufassir terhadap kandungan ayat, termaktub sebagai hasil keilmuannya.

Al-Qur’an merupakan sebuah pedoman yang bukan hanya ditujukan kepada manusia, melainkan juga kepada seluruh ciptaan Allah. Begitu banyaknya ayat di dalamnya, nampaknya Allah dengan sendirinya bersumpah atas nama berbagai ciptaannya. Seperti halnya matahari, bulan, dan lain sebagainya.

Ayat tentang Fenomena Alam Semesta

Dalam Al-Qur’an terdapat 750 ayat yang merujuk kepada fenomena alam. Hampir semua ayat ini, memerintahkan manusia supaya mempelajari kitab (hal-hal yang berhubungan) dengan penciptaan dan merenungkan isinya.

Alam raya yang ada di dalamnya adalah semuanya sedaging (gumpalan); lalu seluruhnya dipisahkan oleh Allah, yakni dua hal yang merapat kemudian Allah memisahkannya dan menghilangkan kesatuannya. Adapun penafsiran Thathawi tentang kejadian alam semesta, merujuk pada firman Allah yang bebunyi:

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِنۢ بَعْدِ ٱلْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Artinya: Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air; agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata” (QS. Hud: 7).

Proses Penciptaan Alam Semesta

Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa sebenarnya yang menciptakan langit dan bumi, terang dan malam begitu juga siang dan malam; hanyalah Allah. Adapun bumi pada awalnya; itu dimulai dari kegelapan kemudian Allah menciptakan air untuk menyelimutinya, dan air tersebut lalu terciptanya langit di atas kegelapan; yang kemudian menjadi siang dan malam. Sedangkan air itu tetap berada di bawah langit yang kemudian berkumpul dalam satu tempat yakni alam semesta.

Baca Juga  Menilik Manfaat Madu: Penjelasan Ilmiah dan Al-Quran

Kemudian bumi yang tetap itu menjadi basah dan ditumbuhi sayur mayur bahkan pepohonan, lalu Allah menciptakan di langit berupa bulan, bintang, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya. Sedangkan di air, Allah menciptakan hewan melata yang memiliki nyawa seperti halnya ikan, dan lain sebagainya. Lebih lanjutnya, Allah juga menciptakan burung-burung dan manusia yang keseluruhannya saling berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Adapun semuanya ini, sudah termaktub di lauh mahfudz.

Sejalan dengan itu, Allah juga mengisyaratkan dalam firmannya bahwa awal mula penciptaan alam semesta dari satu kesatuan padu, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 30 yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya’: 30).

Kewajiban Setiap Hamba

Sayyid Quthub menjelaskan di dalam tafsirnya; bahwa sesungguhnya fenomena alam semesta merupakan wisata dalam alam semesta yang terlihat di depan mata. Namun, hati sering lalai dan lengah dari tanda-tanda yang besar itu. Padahal, seharusnya sebagai seorang hamba, yang harus dilakukan adalah menggugah dengan pikiran serta nurani yang lapang, hati yang sadar, dan perasaan yang hidup.

Dengan demikian, ketetapan Allah bahwa langit dan bumi yang awalnya bersatu kemudian dipisah, merupakan sebuah perkara yang pantas direnungkan. Setiap teori alam semesta mencapai kemajuan dalam melampiaskan fenomena-fenomena ruang angkasa, maka teori-teori itu; hanya melayang di sekitar hakikat yang telah diungkapkan Al-Qur’an sejak empat belas abad silam.

Baca Juga  Embrio Transportasi Modern dalam Al-Quran

Maka dari itu, teori-teori itu saling membatalkan dan tidak pernah konsisten. Kita sebagai orang-orang yang beriman dan memiliki akidah yang meyakinkan, jangan sampai menafsirkan nash Al-Qur’an yang lebih meyakinkan dengan teori-teori yang masih meragukan. 

Editor: An-Najmi