Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Sukses Tapi Tidak Bahagia, Bagaimana Pandangan Al-Quran?

Sukses
Gambar: liputan6.com

Banyak orang di zaman sekarang menganut pemikiran yang mengukur kebahagiaan seseorang berpaku pada uang dan harta. Kemudian mereka berkata “uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang”. Perkara ini sama halnya dengan kesuksesan, ketika mereka memiliki banyak uang mereka dikatakan sudah sukses dan bisa membeli apapun. Namun apabila kesuksesan itu ukurannya adalah uang atau harta, maka mengapa masih ada pertanyaan seperti, ‘apalagi sekarang?’ yang dilontarkan oleh orang-orang sukses, yang kalau diartikan, mereka, orang yang sukses, itu tidak sepenuhnya bahagia, bahkan mereka mengalami kekosongan, kekeringan dan kehampaan atas dirinya.

Tidak sedikit juga orang yang sudah di atas puncak kesuksesannya malah terjebak dan merasa diperbudak dengan apa yang mereka kerjakan. Kasus seperti ini sudah tidak asing di zaman sekarang, terutama di Indonesia. Lantas bagaimana Islam dan Al-Qur’an memandang perihal kesuksesan manusia?

Pandangan Al-Quran tentang Orang Sukses Tidak Bahagia

Kasus seperti ini pernah terjadi di Indonesia, yakni dialami oleh top eksekutif Indonesia, yang mati bunuh diri dengan terjun bebas di apartemen 56 lantai atau seperti presiden luar negeri, Hyundai, yang mati mengenaskan dari gedung pencakar langit. Padahal ketika dilihat, keduanya adalah manusia sukses yang dilimpahi banyak harta serta kekayaan. Persoalan ini dibahas dan dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Jatsiyah ayat 23, yang artinya;

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkan sesat sesuai dengan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? (Kemudian) maka siapakah lagi yang memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Dari ayat tersebut, ketika Allah membiarkan seorang hamba dalam keadaan seperti itu (dibiarkan sesat), maka perkara tersebut dinamakan dengan istidraj. Sehubungan dengan perkara ini atau kekosongan dan kehampaan hati seseorang bisa disebabkan karena kurangnya inner journey (penelusuran terhadap dirinya) yang dia lakukan, seperti pertanyaan ‘mengapa saya diciptakan?’, ‘untuk apa kehidupan saya ini diperuntukkan?’ atau pertanyaan lain yang serupa.

Baca Juga  Mengenal Muhammad Asad, Wartawan dan Muallaf Yahudi yang Mengarang Tafsir

Dalam kata lain mereka belum menemukan tujuan pasti dalam hidupnya. Islam mengibaratkan seperti planet merkurius, venus, bumi, mars, dll, yang memilki garis edarnya namun tidak mengetahui pusat orbitnya. Layaknya mereka mengitari dengan garis edar yang baik dan benar tapi mereka tidak mengenali apa yang seringkali mereka kelilingi? Karena ketidaktahuan itu, mereka frustasi terhadap perkara apa yang mereka kelilingi.

Tujuan Manusia Diciptakan

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa bulan mengelilingi bumi sebagai orbitnya, planet-planet itu berputar mengelilingi matahari sebagai pusat orbitnya.Kemudian matahari berpusat pada orbit galaksi bimasakti atau juga seperti electron yang bergerak mengelilingi inti atom. Semua harus mengetahui pusat orbitnya masing-masing. Maka, manusia juga begitu, tujuan utama atau pusat orbitnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an yang terkandung dalam surah Al-An’am ayat 162 yang artinya;

Katakanlah (Muhammad), “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan seluruh alam”

Atau dalam surah lain, yakni QS. Az-zumar ayat 11 yang artinya;

Katakanlah: sesungguhnya aku diperintahkan Allah dengan memurnikan ketatan kepada-Nya dalam (mejalankan) agama”

Maka sudah jelas bahwa pusat orbit kita adalah semata hanya Allah. Kemudian kita melakukan penghambaan tersebut melalui garis orbit kita. Dalam buku ESQ Power karangan Ary Ginanjar Agustian, menjelaskan bahwa yang diharapkan arti kiasan di atas adalah seseorang yang memiliki pusat orbit dan mengerti secara jelas mangapa ia mengorbit sesuatu itu dan tentunya bergerak pada garis orbitnya.

Artinya, yang diharapkan dengan penjelasan di atas bahwa seseorang memiliki pusat orbit yang benar yakni nilai-nilai spiritual dan memami secara jelas siapa pemilik makna spiritual tersebut, pun aktif bergerak dan berkarya dengan kinerja yang optimal sesuai pada garis edar, namun tetap memegang teguh nilai-nilai mulia (inner value) yang dikitarinya.

Baca Juga  Aplikasi Hermeneutika Paul Ricoeur pada Ayat Idul Adha

Kesimpulan

Sederhananya, mengapa orang-orang tersebut merasa hampa, kosong dan kekeringan? Maka jawabannya adalah karena mereka belum menemukan mengapa mereka bergerak pada orbitnya padahal mereka tidak mengetahui pusat orbitanya. Maka, sudah selayaknya seorang muslium menjadikan Allah adalah pusat orbitnya. Orbit kemudian kita bergerak dengan garis edar kesolehan, bahkan meniatkan pekerjaan duniawi dengan pusat orbitnya Allah juga artinya, semua keyakinan hati itu diniatkan untuk Allah bukan sekedar mencari uang saja.

Jika sudah dimikian, seseorang yang sukses duniawinya tidak akan merasakan kehampaan, kekosongan bahkan kekeringan dalam hatinya dan semuanya itu tidak berakhir dengan sia-sia atau berakhir secara menyedihkan. Demikian pemikiran sederhana yang semoga dapat membawa kita dalam kemajuan berpikir agar menuai penutup kehidupan yang baik kelak. Aamiin.

Penyunting: Bukhari