Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Semangat Imam Al-Ghazali dalam Mencari Kebenaran

Imam Al-Ghazali
Sumber: kalam.sindonews.com

Dalam dunia Islam, nama Imam Al-Ghazali (Abu Hamid al-Gazali) dikenal secara luas sebagai salah satu ulama terbesar sepanjang sejarah peradaban Islam. Ia merupakan seorang intelektual, seorang maestro tassawuf, dan dikenal sebagai hujjatul Islam. Ia dilahirkan di Tus Khurasan pada 405 H/1058 M.

Di balik nama besar Imam Al-Ghazali, salah satu hal yang menarik untuk ditelusuri, yakni semangatnya dalam mencari kebenaran (haq). Karena bagi saya, semangatnya dalam mencari kebenaran itulah yang menjadi salah satu penyebab ia menjadi salah satu ulama terpenting dalam tradisi Islam.

Karena Adanya Perbedaan

Dalam risalahnya, yakni Al-Munqidz minadh-Dhalal yang kemudian diterjemahkan menjadi Penyelamat dari Kesesatan (edisi Bahasa Indonesia, 1997), semangat mencari kebenaran tersebut tidak bisa dilepaskan karena adanya fakta bahwa ada perbedaan-perbedaan dalam soal agama, kemudian perbedaan antar para pemuka mazhab dan metodologinya.

Imam Al-Ghazali menggambarkan fakta tersebut dengan kiasan “lautan yang amat dalam”, yang menurutnya, dapat menenggelamkan manusia, dan tidak ada yang berhasil selamat kecuali sebagian orang saja. Sementara itu, tiap-tiap golongan merasa paling selamat, sebagaimana firman Allah dalam Q.S ar-Rum ayat 32; “tiap-tiap golongan merasa bangga dengan sapa yang ada di sisi mereka masing-masing”.

Dengan kalimat lain, usahanya mencari kebenaran tersebut, karena ia tidak ingin menjadi seorang yang taqlid, terlebih lagi di tengah-tengah beragamnya penafsiran agama, metodologi, perbedaan mazhab dan semacamnya. Luar biasanya, usaha secara serius mencari kebenaran tersebut, sudah ia lakukan sejak menginjak masa remaja. Dalam Al-Munqidz minadh-Dhalal, Imam Al-Ghazali menulis:

pada usia muda, ketika saya menginjak usia remaja sebelum meningkat ke usia dua puluh tahun, sampai sekarang, saat saya mencapai usia lima puluh tahun lebih, tengah mengarungi inti lautan yang dalam, lalu saya selami kedalamannya, bukan seperti seorang penyelam yang penakut. Tetapi saya telusuri setiap sisi yang amat gelap dan saya hadapi dengan rintangan dilema. Saya mencebur pada setiap tanah berlumpur, dan memeriksa setiap kaidah masing-masing golongan. Saya singkap berbagai rahasia mazhab setiap kelompok agar kelak dapat membedakan antara yang haq dan batil”.

Dalam buku Sejarah Tuhan (2001) yang ditulis oleh Karen Armstrong, mengutip juga pernyataan Imam Al-Ghazali; “aku telah menerobos setiap celah yang gelap, aku telah menyerang setiap persoalan, aku telah menyelam ke dalam setiap lautan, aku telah meneliti aqidah semua sekte, aku telah menelanjangi doktrin rahasia setiap komunitas. Semua ini ku lakukan agar aku dapat membedakan antara kebenaran dan kesesatan, antara tradisi yang sahih dan pembaharuan yang bid’ah”.

Menemukan Hakikat

Dalam Al-Munqidz minadh-Dhalal, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa menyelidiki dan membuat perbandingan guna menemukan hakikat kebenaran, merupakan kegemarannya sejak kecil. Meski demikian, Imam Al-Ghazali menyebut bakatnya tersebut merupakan anugerah dari Allah. Imam Al-Ghazali terdorong untuk membongkar ikatan taqlid maupun akidah warisan yang menyelimutinya

Baca Juga  Wahbah Az-Zuhaili (1): Sang Mufasir Inklusif Sekaligus Fakih

Imam Al-Ghazali berusaha menemukan kebenaran yang hakiki, karena tergerak untuk memperoleh hakikat fitrah yang orisinil, dan agar tidak mendasarkan kepercayaan hanya karena turunan atau lingkungan semata. Semua itu, berangkat juga dari keyakinan Imam Al-Ghazali yang bersumber dari hadits, bahwa pada dasarnya setiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaaa fitrah. Orang tua atau lingkunganlah yang turut membentuk pertumbuhan si anak (termasuk dalam mewarisi hal-hal yang salah dalam soal agama).

Dalam upayanya mencari kebenaran, pertama-tama sasaran yang Imam Al-Ghazali cari adalah mengetahui tentang beberapa hakikat persoalan, kemudian ia harus mencari apakah hakikat ilmu yang sebenarnya. Sebab itu, dalam konteks pemikiran Imam Al-Ghazali, pengetahuan keilmuan merupakan hal yang sangat penting, sangat fundamen dan elementer untuk mencari kebenaran sebagai upaya untuk mencari jalan keselamatan.

Ilmu dan Hidayah

Dalam pengantar yang ditulis dalam buku Rawdah at-Talibin wa ‘Umdah as-Salikin diterjemahkan menjadi Tangga Menuju Tuhan (edisi 2003), dikatakan bahwa salah satu inti pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah, yakni bahwa ilmu dan hidayah itu saling berkaitan. Dengan kalimat lain, hidayah tidak bisa digapai tanpa pengetahuan, dan pengetahuan mesti menjadi sasaran untuk mencapai hidayah. Dapat juga dikatakan, bahwa; apa yang disebut sebagai hidayah itu harus dicari, harus diperas, dan ke semua itu dilakukan juga dengan modal pengetahuan.

Imam Al-Ghazali sendiri, sebagaimana yang tercatat dalam bukunya Tangga Menuju Tuhan, menyebut bahwa; apa yang disebut sebagai hidayah merupakan lawan kesesatan, yang disebutnya sebagai “keterputusan” dari Tuhan. Sebab itu, saya berpandangan, bila menilik pada pemikiran Imam Al-Ghazali tersebut, pengetahuan merupakan jalan untuk ‘menghubungkan’ dengan Tuhan.

Menjadikan Imam Al-Ghazali sebagai Teladan

Berdasarkan pemaparan-pemaparan di atas, saya rasa, ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan teladan. Pertama, semangat Imam Al-Ghazali dalam mencari kebenaran, yang bahkan dalam ulasannya, nampak jelas ia tidak pernah merasa puas dengan pengetahuannya. Sehingga di usia senjanya (di atas usia 50 sebagaimana yang tertulis di atas), ia tetap belajar dan mengarungi samudera pengetahuan. Semua itu, tentu saja upayanya untuk mencari jalan selamat, jalan yang mendekatkannya dengan Tuhan, jalan untuk “menaiki tangga menuju Tuhan”.

Baca Juga  Islam Menganjurkan Kita Berfilsafat

Keduanya, soal bagaimana Al-Ghazali menghindari sikap taqlid, tentu perlu kita apresiasi terlepas kesetujuan ataupun ketidaksetujuan kita terhadap pemikirannya. Poin pentingnya, Ghazali mengajari kita, bahwa; untuk menolak suatu hal, sebut saja pemikiran filsafat, mazhab dan sebagainya, bukan dengan kebencian yang membabi buta ataupun bukan dengan pengetahuan yang tidak mendasar. Ghazali mengajarkan kita untuk mengkritik dengan “ilmu”.

Ketiganya, semangat Imam Ghazali dalam mencari kebenaran, turut mengantarnya menjadi ulama yang sangat produktif. Menurut Dr. Abd. Rahman Badawi dalam Muallafat al-Ghazali yang dikutip dalam pengantar penerbit buku Tangga Menuju Tuhan; Imam Ghazali telah menulis karangan sejumlah 457 buah. Dan saya rasa, produktivitasnya yang luar biasa tersebut, tentu harus dimulai dan dibarengi dengan semangat iqra.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Cusdiawan
Penulis adalah mahasiswa Program Magister Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Penulis pernah tercatat sebagai Ketua Pembinaan Anggota HMI Cabang Jatinangor Sumedang 2018-2019.