Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Sederhana dalam Hidup Perspektif Buya Hamka

ma'ruf munkar

Buya Hamka, begitulah nama penanya yang sangat populer. Nama lengkapnya adalah Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia asal Sumatera Barat. Beliau berkarier sebagai wartawan, pengajar dan penulis. Dari beliau kita belajar tentang kesederhanaan hidup. Ada satu kutipan beliau yang mengunggah jiwa, “Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja”.

Sederhana dalam Hidup

Ketika berbicara mengenai kesederhanaan dalam hidup sepertinya generasi sekarang cenderung mengabaikannya. Karena sederhana itu sering kali di identikkan dengan kemiskinan, ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan tidak memiliki apa-apa. Akibatnya, banyak anak-anak muda sekarang cenderung menjadi lebih materialis dan hedonis bahkan yang tua pun terjebak ke dalam jurang ketamakan hidup. Di ikutilah seluruh hawa nafsunya untuk memenuhi hasrat keinginan.

Sebetulnya, tidaklah baik untuk menuruti semua kehendak. Islam menghendaki kehidupan yang sederhana yang oleh Buya Hamka bisa disebut dengan istilah “istiqomah” yang berarti tegak lurus di tengah-tengah. Dan “i’tidal” yang berarti sama berat.

Beliau pun memberikan pandangan tentang bagaimana agar bisa menjalani hidup dengan sederhana. Yakni dengan menjadi pribadi yang jujur terhadap kemampuan diri. Beliau mengatakan, “Bahwa kita harus jujur. Karena kejujuran itulah yang sederhana dan yang lurus. Kita tidak boleh bohong, kita mesti lurus, tak boleh menipu. Kita tidak boleh royal dan tidak boleh bakhil. Kita tidak boleh terlalu pendorong dan kita tidak boleh pengecut. Karena semuanya itu merusakkan tali hubungan kita dengan Allah dan dengan insan. Dan menghilangkan kesederhanaan.”

Dengan begitu, sederhana dalam menjalani hidup haruslah seimbang, sama berat, dan tegak lurus di atas landasan syariat. Apapun yang kita lakukan hendaklah semata-mata karena Allah Swt. Nabi saja dalam menjalani kehidupan penuh dengan kesederhanaan.

Baca Juga  Kedudukan Wanita Sebelum Islam

Salah Kaprah Makna Sederhana

Mengenai kesedehanaan, kebanyakan orang keliru dalam menafsirkan kata sederhana dalam hidup. Lantaran di berbagai kasus ada sebagian orang yang menyangka bahwa orang yang berpakaian jelek dan murah atau rumahnya kurang elok, orang itu bisa disebut sebagai seorang yang sangat sederhana.
Kalau dari sana hendak diukur kesederhaan, kita tidak akan bertemu hakikat yang sebenarnya. Kita tidaklah dapat berpedoman kepada lahiriyahnya saja.

Oleh karenanya, yang sederhana itu bukan pada bentuk lahir, bukan pada kemestian orang kaya dan termasyhur saja, bukan pula diperuntukkan bagi kaum fakir miskin. Tetapi Buya Hamka mengatakan yang sederhana itu adalah niat, sederhana tujuan, yang merupakan tujuan segala manusia yang berakal.

Buya Hamka menjelaskan beberapa hal tentang menjadi pribadi yang sederhana. Pertama, sederhana dalam niat. Beliau menjelaskan bahwa “Tidak usah berniat hendak jadi raja. Tidak perlu bercita-cita jadi orang yang berpangkat dengan gaji besar, akan mengharapkan bintang yang akan dihiaskan di dada. Yang perlu ialah meluruskan niat.

Sebagai makhluk hidup, kita harus berjasa kepada kehidupan. Sebagai laki-laki kita harus tegak pada garis laki-laki. Sebagai perempuan kita harus tegak pada garis perempuan. Sebagai manusia, kita harus mempunyai kemanusiaan. Jika telah cukup kemanusiaan, walaupun kaya atau papa, termashyur atau tidak, semuanya hanya warna hidup belaka, bukan hakikat hidup. Hakikat hidup ialah, tujuan, niat suci dan sederhana itu.”

Kedua, sederhana dalam berpikir. Beliau mengatakan, “Supaya tercapai tujuan niat yang suci itu dan teratur urusan hidup kita, tercapai keselamatan hidup di dunia yang fana, menjelang akhirat yang baka, hendaklah kita mementingkan pikiran kita sendiri.
Pikiran yang matang dapat membedakan yang gelap dengan yang terang, yang hak dengan yang batil. Dapat membuang jauh-jauh pendapat yang salah dan pendirian yang curang.

Baca Juga  Tuhan Itu Nyata (2): Sains Itu Terbatas!

Kalau tidak dengan pikiran yang teratur beres, tidaklah lahir kemanusiaan yang sempurna dan tidak pula akan maju langkah menuju kemuliaan dan ketinggian. Yang amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak tegak sendiri, yang hanya berlindung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain. Kekuatan hanya apabila ditolong orang lain.

Tidak dapat dibiarkan hidup sendiri. Tak ubahnya dengan rumput yang tumbuh di bawah naungan pohong beringin, hidup segan mati tak mau. Sebab dia tidak mendapat cahaya yang langsung dari matahari.”

Hakikat Kesederhanaan Menurut Buya Hamka

Ketiga, sederhana keperluan hidup. Buya Hamka menerangkan dalam bukunya, “Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan, rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Cuma nafsu jugalah yang meminta lebih dari itu. Sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan kesederhanaan.”

Selanjutnya dijelaskan, “Kalau kita perturutkan saja kehendak nafsu, tidak kita beri batas perjalanannya supaya sederhana, tidaklah nafsu itu akan berujung. Padahal jika kita terima apa yang ada, sabar dan tahan hati, dan berusaha menghindarkan pengangguran, maka nafsu itu akan menerima berapapun yang ada.”

Dengan kesederhanaan, seseorang akan selamat dari jeratan hawa nafsu, memburu yang semu dan menanggalkan yang hakiki. Oleh karena itu, sederhanalah dalam hidup, karena sederhana itulah yang di butuhkan semua manusia dan sangat penting untuk diajarkan kepada generasi kita.

Oleh karena pekerti sederhana itu adalah hasil dari akal orang yang bijaksana, maka hubungannya dengan pendidikan adalah besar sekali. Beliau menegaskan, “Pendidikan yang sejati ialah membentuk anak-anak berkhidmat kepada akal dan ilmunya. Bukan kepada hawa dan nafsunya, bukan kepada orang yang menggagahi dia.”

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 21: Tuhanmu yang Menciptakan

Dengan begitu, didikan tentang kesederhanaan hidup inilah para generasi muda akan mendapatkan hakikat dari pendidikan hidup yang sejati.

Editor: M. Bukhari Muslim

Muhammad Awaluddin Al Kirom
Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta