Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Sains yang Sejati Menurut Seyyed Hossein Nasr

Seyyed Hossein Nasr merupakan salah satu filosof yang beraliran filsafat perennial. Ia mengkritisi silang peradaban baik itu barat maupun timur. Alur peradaban terbagi kedalam empat zaman; klasik, pertengahan, modern dan postmodern. Ia begitu kritis terhadap peradaban modern yang menurutnya sudah terpisah dari Yang Transenden (ilahi). Dalam penjelasannya, karakteristik modernisme ialah antropomorfismenya. Manusia modern menganggap dirinya bukan lagi wakil Tuhan, ia bebas mengkonstruktif alam semesta semaunya.

Dalam diri manusia modern, tidak ada yang lebih tinggi daripada akal-budinya dan dalam dunia obyektif  tak ada yang lebih tinggi daripada apa yang dapat dipahami akal itu dengan bantuan indera manusia yang normal. Karena itu manusia modern menolak menerima prinsip yang lebih tinggi daripada dirinya, maka jelaslah semua yang mencuat dari pikiran dan pemikirannya tidak bisa tidak musti antropomorfik.

Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan pemikiran Seyyed Hossein Nasr, seorang pemikir lingkungan mengenai sains sejati menurutnya.

Sains Antropomorfik dan Non-Antropomorfik

Manusia modern menghasilkan sains yang begitu luar biasa, hanya saja sains yang dihasilkan mengesampingkan nilai-nilai ilahiah. Akal dan indera manusialah yang menentukan warna sains modern. Pengetahuan tentang galaksi-galaksi terjauh sekalipun, tercakup didalam pikiran manusia. Oleh karena itu, dunia ilmu darinya didasarkan pada asas-asas antropomorfik. Menurut Nasr, adanya ketidakseimbangan pada sains modern membuat krisis dari peradaban modern yang memang merupakan produknya sendiri. krisis tersebut sangat terasa jika dihubungkan dengan krisis lingkungan dan ketidakseimbangan psikologis. Keadaan tersebut diakibatkan dari usaha manusia untuk hidup dengan hal-hal material semata dan meniadakan hal-hal spiritual sehingga mereka menyatakan kemerdekaannya dari kekuatan realitas tertinggi.

Satu-satunya harapan bagi manusia modern ialah tidak lagi menjadi makhluk yang ingkar, tetapi makhluk yang berdamai dengan penguasa alam semesta dan tunduk kepada-Nya. jika mereka menyeimbangkan antara antropomorfik dengan non-antropomorfik maka akan tercipta keseimbangan dan keharmonisan yang tidak menimbulkan krisis peradaban manusia. Itulah yang dimaksud sains sejati, bagi Nasr sains yang sejati tidak didasarkan pada akal yang murni manusiawi tetapi pada kecerdasan yang dimiliki tingkat supra-manusiawi dari realita yang menerangi pikiran manusia. Lokus dan wadah pengetahuan bukan pada pikiran manusia tetapi pada kecerdasan ilahi.

Baca Juga  Politik Devide Et Impera dalam Al-Qur'an: Tafsir Surat Al-Qasash Ayat 4

Saintis dalam Islam

Dalam Islam, manusia berpikir dan bertindak dalam fungsi homo sapiens dan homo faber-nya sebagai ‘abd Tuhan dan tidak sebagai makhluk yang telah memberontak melawan-Nya. fungsinya tetap, bukan mengagungkan dirinya melainkan mengagungkan penguasanya dan tujuannya yang paling bernilai adalah menjadi ‘bukan siapa-siapa’, mengalami fana’ yang bakal memungkinkannya menjadi cermin dalam mana Tuhan mengkontemplasikan semua pantulan Nama dan Sifat-Nya dan melalui teofani-teofani dari Nama dan Sifat-Nya dapat terpantul didunia ini. Pertumbuhan intelektual dan spiritual pada diri seorang saintis akan menghasilkan sains yang sempurna dan terhindari dari dekadensi peradaban manusia.

Sebagai wakil Tuhan, manusia harusnya mengelola dan memelihara alam semesta dengan sabaik-baiknya bukan malah mengeksploitasi. Tindakan tersebut tidak mencerminkan sebagai manusia seutuhnya. Alam semesta mesti direnungkan agar dapat meningkatkan akal dan intellek (mata hati) pada diri saintis sehingga potensialitas yang belum tersingkap pada alam semesta mengharuskan adanya upaya untuk mengaktualisasikannya bahwa segala ciptaan Tuhan memiliki pelajaran dan petunjuk bagi manusia.

Editor: An-Najmi