Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Sab’atu Ahruf dan Ragam Perdebatannya di Kalangan Ulama

Sab'atu Ahruf
Sumber: istockphoto.com

Lafaz sab’atu ahruf terdiri dari dua kata yakni sab’ah dan ahruf. Sab’ah bermakna tujuh dan ahruf adalah bentuk jamak dari harf yang memiliki arti huruf. Jadi makna dari sab’atu ahruf adalah tujuh huruf. Para ulama khallaf memiliki berbagai pendapat mengenai makna dari tujuh huruf tersebut. Perbedaan pendapat di mereka mencapai kurang lebih 40 pendapat.

Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada nabi pemimpin umat dan rahmat bagi semesta, yakni Nabi Muhammad Saw. Dengan menggunakan bahasa kaumnya agar lebih mudah dipahami dan diambil pelajarannya. Karena Nabi Muhammad saw berasal dari kabilah Quraisy di daerah Arab, maka menurut salah satu pendapat ulama menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab berdialek Quraisy.

Kisah Umar dan Petunjuk Sab’atu Ahruf

Dalam sebuah hadis dari sahabat Umar bin Khattab r.a. menceritakan pengalamannya saat mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam sedang membaca surah al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada Umar bin Khattab. Hal tersebut membuat Umar kaget dan langsung membawa Hisyam (setelah selesai membaca) untuk menemui Rasulullah.

Umar mengadukan bacaan Hisyam bin Hakam tersebut kepada Rasulullah. Lalu ia meminta agar Hisyam kembali membacakan ayat yang dibaca tadi di hadapan beliau. Kemudian Rasulullah menjawab bahwasanya bacaan Al-Qur’an yang dibaca oleh Hakam adalah benar. Sesuai dengan apa yang telah diajarkannya kepada para sahabat. Nabi Muhammad saw juga menginformasikan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dengan berbagai variasi.     

Dalam hadis lain disebutkan, sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengatakan: “Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku satu huruf kemudian saya terus meminta tambahan huruf dan JIbril menambahkan huruf tersebut hingga mencapai tujuh huruf.” Banyak juga ulama yang mengkonfirmasi bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf adalah hadis yang mutawatir.

Baca Juga  Memahami Keindahan Relasi Antarkata dalam QS. At-Tin

Penurunan Al-Qur’an dengan tujuh huruf tidak lain adalah untuk memudahkan kaum Nabi Muhammad. Sejarah Arab menyebutkan bahwa bangsa Arab terdiri dari berbagai kabilah dan dialek yang berbeda. Sehingga tidak jarang ditemukan ada suatu kabilah yang tidak memahami dan tidak bisa membaca dialek kabilah lain. Oleh karena itulah Nabi Muhammad memohon kepada Jibril untuk menurunkan al-Qur’an dengan berbagai variasi.

Perbedaan Ulama tentang Makna Sab’tu Ahruf

Karena Nabi Muhammad tidak menjelaskan secara detail makna dan hakikat dari sab’atu ahruf kepada para sahabat, maka ditemukanlah berbagai pendapat di kalangan ulama mengenai hal itu. Ibnu Hayyan mengatakan bahwa berbagai pendapat ulama banyak yang tumpang tindih, namun ada juga pendapat yang paling mendekati kebenaran, yakni sebagai berikut:

Pertama, makna dari tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna. Artinya bahwa jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan suatu makna, maka Al-Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafaz yang sesuai dengan ragam bahasa tentang satu makna tersebut. Ketujuh bahasa tersebut adalah bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman.

Kedua, makna dari tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa orang Arab dengan mana Al-Qur’an diturunkan. Artinya tujuh bahasa tersebut adalah tujuh bahasa yang bertebaran di berbagai surah dalam Al-Qur’an. Serta bukan tujuh bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna. 

Ketiga, makna dari tujuh huruf adalah tujuh wajah, yaitu amar, nahyu, wa’d, wa’id, jadal, qasas, dan matsal. Dalam riwayat lain disebutkan; atau amar, nahyu, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal. Keempat, makna dari tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang di dalamnya terdapat ikhtilaf (perbedaan), yakni:

Baca Juga  Mengenal Ushul fi Tafsir Karya Utsaimin: Kitab yang Mudah Dipahami

(1) Ikhtilaful asma’ (perbedaan kata benda) dalam bentuk mufrad, mudzakkar, ta’nits, tasyniyah, dan jamak, (2) Perbedaan dalam segi I’rab (harakat akhir kata), (3) Perbedaan dalam tasrif, (4), Perbedaan dalam taqdim dan ta’khir, (5) Perbedaan dalam segi ibdal (pergantian)

(6) Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan, (7) Perbedaan lahjah, seperti bacaan tafkhim dan tafqiq, fathah dan imalah, idzhar dan idhgham, hamzah dan tashil, isymam, dan sebagainya.

Kelima, makna tujuh huruf itu bukan bilangan antara enam dan delapan, akan tetapi tujuh huruf tersebut tidak bisa diartikan secara harfiah dan hanya sebagai lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang Arab. Keenam, sebagian ulama berpendapat bahwa tujuh huruf tersebut adalah qiro’at tujuh.

Kesimpulan

Berbagai perbedaan pendapat mengenai makna dan hakikat dari sab’atu ahruf tidak dapat menafikan bahwa Al-Qur’an sangatlah istimewa. Tidak ada yang dapat menandingi kalam Allah Swt yang sempurna tersebut. Selain sebagai pedoman hidup manusia yang abadi, Al-Qur’an dengan sab’atu ahruf-nya sangat mampu untuk menjadi bukti bahwa Al-Quran berasal dari Allah Swt dan bukan buatan Nabi Muhammad.

Penyunting: Bukhari

Zakiyatun Najwa
Mahasiswi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya