Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ruang Kemaslahatan Ekonomi dalam Al-Qur’an

keadilan
Sumber: www.dompetdhuafa.org

Islam sebagai agama pamungkas yang berkemajuan memiliki karekteristik yang unik dan tidak ada pada agama lain. Memiliki aspek yang universal, menjadikan Islam sebagai agama yang istimewa dibandingkan agama lain.

Dalam ajaran samawi terdahulu memiliki tujuan untuk umat tertentu, sementara ajaran dalam Islam diturunkan untuk seluruh umat, semenjak Muhammad diangkat menjadi Nabi hingga nanti hari menjadi gelap gulita dengan hancurnya semesta yakni hari kiamat (kaffah li al-alamin).

Sejalan dengan kemaslahatan universal (syumuliyah), manusia adalah objek dan subjek legislasi hukum al-Qur’an. Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Qur’an diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kepentingan umat, baik mengenai jiwa, akal, keturunan, agama maupun pengelolaan harta benda.

Islam bukan hanya doktrin belaka yang diidentikkan dengan pembebanan, melainkan sebagai ajaran yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia. Dengan al-Qur’an yang senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan, disinilah letak syariat Islam.

Persamaan dan Keadilan

Persamaan hak adalah salah satu prinsip utama syariat Islam, baik yang berkaitan langsung dengan Ibadah maupun yang berkaitan dengan muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku untuk umat Islam semata, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Persamaan hak tersebut berimplikasi secara langsung dalam pembentukan keadilan yang dalam Al-Qur’an dijadikan landasan dalam menetapkan suatu hukum. Salah satunya adalah yang ternukil dalam QS. An-Nisa ayat 54 yang artinya: “…dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil…”.

Maka, dari apa yang telah A-Qur’an tegaskan, prinsip persamaan hak dan keadilan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam menetapkan hukum Islam baik dalam Ibadah maupun muamalah. Keduanya harus diwujudkan demi terpeliharanya kemaslahatan dan martabat manusia.

Baca Juga  Warisan Para Nabi Dalam Al-Quran (1): Kisah Adam dan Setan

Asas Keadilan Ekonomi

Bagian dari asas terpenting dalam ekonomi Islam adalah pilar keadilan. Dalam kontek ekonomi, menelaah tafsir Q.S. al-Hadid ayat 25 dalam tafsir Quraish Shihab yakni;

“Kami benar-benar telah mengutus para rasul yang Kami pilih dengan membawa beberapa mukjizat yang kuat. Bersama mereka juga Kami turunkan kitab suci-kitab suci yang mengandung hukum, syariat agama, dan timbangan yang mewujudkan keadilan dalam hubungan antar manusia…”.

Tafsir tersebut menegaskan bahwa ruang keadilan haruslah tercipta dalam kehidupan manusia, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Yakni mewujudkan maslahah dengan menegakkan keadilan ekonomi dan penghapusan kesenjangan pendapatan meskipun berbeda gambaran keadilan itu sesuai dengan situasi, kondisi dan zaman.

Keadilan sosio-ekonomi dalam Islam, selain didasarkan pada komitmen spiritual, juga didasarkan atas konsep persaudaraan universal sesama manusia. Komitmen Islam akan persaudaraan dan keadilan, menuntut agar semua sumber daya yang menjadi amanat suci dari Allah digunakan untuk mewujudkan maqasid syariah (Muhammad Mufid, 2016).

Ruang maqashid syariah yang dimaksudkan Mufid dalam menanfaatkan sumber daya adalah pemenuhan kebutuhan hidup manusi, terutama kebutuhan dasar (primer), seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, serta kesehatan.

Lantas bagaimana agar seluruh sumber daya yang ada dapat tersalurkan secara merata? Maka ekonomi Islam memiliki instrumen untuk mendistribusikan kekayaan sumber daya sebagai jalan mencapai keadilan yang merata yakni zakat, infak, sedekah, kharaj, jizyah, dan pajak.

Asas Tolong-menolong

Dalam ruang kehidupan sosial manusia akan terbangun sebuah rasa empati terhadap sesama, sehingga memunculkan keinginan untuk saling tolong-menolong. Daniel Batson  (1995) menjelaskan adanya hubungan antara empati dengan tingkah laku menolong serta menjelaskan bahwa empati adalah sumber dari motifasi altruistic.

Perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, mewujudkan hubungan timbal balik antar manusia. Bahkan dalam hubungan tanggung jawab sosial orang lain harus memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan tanpa mengharapkan balasan di masa mendatang (Schwartz, 1975 dalam Sarwono, 2002).

Baca Juga  Umer Chapra: Inflasi yang Tinggi Di Tengah Pandemi

Dalam aktivitas ekonomi pun dianjurkan untuk memegang prinsip tolong-menolong, dimaksudkan agar supaya terbangun sebuah kemitraan dan solidaritas terhadap sesama. Dalam Islam, prinsip tersebut difirmankan pada Q.S. al-Ma’idah ayat 2 yang di dalamnya mengandung perintah (amr) tolong-menolong  dalam hal kebajikan antar manusia.

Dalam kontek saat ini maka, tolong-menolong (ta’awun) adalah perintah untuk menggelorakan semangat bermitra dan bekerjasama secara kolektif dalam menggerakkan ekonomi. Tindakkan nyata untuk saling menolong dalam hal kebaikan, kemaslahatan, dan kemajuan bangsa dan negara.

Sikap ta’awun inilah yang nantinya akan membawa kita sampai pada kondisi yang terlepas dari belenggu kemiskinan, bahkan nantinya prinsip ini akan membawa kita keluar dari merosotnya ekonomi akibat dari sebuah pandemi.

Islam sebagai agama yang universal akan menaburkan kemaslahatan melalui sikap ta’awun untuk seluruh umat manusia hingga mencapai kesetaraan dan keadilan.

Editor: M. Bukhari Muslim