Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Rouf Al-Singkili dan Tafsir Antiknya, Turjuman Al-Mustafid

Abdur Rouf Al-Singkili memiliki nama lengkap Abdul Rouf bin Ali Al-Fanshuri Al-Singkili Al-Jawi. Ia merupakan sosok keturunan melayu dari Fansur, Singkil yang berada di pantai Barat laut Aceh. Terkait dengan tahun kelahiran beliau belum terdapat data yang akurat yang menjelaskannya. Salah seorang tokoh Harun Nasution menyatakan bahwa bahwa ia lahir sekitar tahun 1001 H yang bertepatan denan 1953 M. ia berasal dari keluarga yang sangat religius, ayahnya yang dikenal dengan syekh al-Fansuri merupakan sosok ulama yang cukup terkenal. Ayahnya merupakan seorang pemimpin institusi pondok pesantren di Pulau Jawa. Begitu pula terkait tempat kelahiran, pendapat lain menyatakan bahwa ia lahir di Suro, sebuah desa pinggiran sungai Simpang Kanan, Singkil.

Biografi Singkat

Pada awalnya Abdul Rouf menuntut ilmu kepada ayahnya dan beberapa ulama Fansur dan Aceh lainnya. kemudian setelah menuntut ilmu dari ayahnya dan ulama-ulama Aceh lainnya ia melanjutkan studinya ke Timur Tengah. Proses belajar beliau selama di Timur Tengah selama 19 tahun.

Kemungkinan besar Al-Singklili meninggalkan Aceh menuju Arabia pada tahun 1052/1642. Ia belajar ke beberapa daerah di Timur Tengah. Beberapa tempat yang menjadi tujuan ia untuk menuntut ilmu seperti, Doha, Yaman, Makkah, dan Madinah. Doha adalah sebuah wilayah di Teluk Persia dan Qatar. Di sinilah ia belajar dengan Abdul Qadir Al-Mawwir.

Setelah meninggalkan wilayah Doha ia melanjutkan perjalanannya ke Yaman, khususnya di Bayt Al-Faqih dan Zabid. Bayt Al-Faqih dan Zabid merupakan pusat-pusat pengetahuan Islam yang paling penting di wilayah Qatar. Di Bayt Al-Faqih dia belajar terutama kepada keluarga Ja’man. Keturunan Ja’man adalah keturunan terkemuka di Yaman dan merupakan pilar keilmuwan masyarakat Yaman.

Setelah menuntut ilmu di Yaman ia melanjutkan perjalanannya dalam menutut ilmu ke Jeddah, disana ia belajar kepada Abdul Qadir Al-Barkhali. Setelah itu kemudian menuju Makkah dan belajar kepada Ali bin Abdul Qadir At-Thabari yang merupakan salah satu faqih yang terkemuka di Makkah.

Baca Juga  Kontekstualisasi Adzab Kaum 'Ad di Masa Kini

Kemudian, tahap terakhir dari perjalanan beliau dalam menuntut ilmu ialah ke Madinah sambil menunaikan ibadah haji. Di Madinah ia belajar kepada Ahmad Al-Qusyasyi, bersamanya ia belajar ilmu-ilmu batin seperti tasawuf dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait. Sebagai tanda bahwa ia telah mendalami ilmu-ilmu batin yang mistis, Al-Qusyasyi memilihnya sebagai khalifah tarikat Syatariyat dan Qadariyat.

Abdur Rouf Al-Singkili merupakan ulama pertama di wilayah Melayu-Indonesia yang menulis mengenai fikih muamalat. Melalui kitabnya yang berjudul Mi’rat ath-Thullab dia menunjukkan kepada kaum Muslim melayu bahwa doktrin-doktrin yang terdapat dalam hukum Islam bukan hanya sebatas pada ibadah, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari.

Karena kealimannya dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan, maka penguasa khususnya penguasa khususnya Sultanah ketika itu memberikan posisi kepadanya sebagai “mufti besar kerajaan Aceh”, bahkan sang ratu berkenan untuk mengangkatnya sebagai penasehat pribadi. Karena keistimewaan dan kedalaman ilmu yang ia miliki ia di beri gelar Syekh Al-Islam.

Dalam catatan biografi beliau sendiri yang ditulis dalam Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufridin ia belajar langsung kepada 19 guru tentang berbagai macam disiplin ilmu. Diantara guru-guru beliau ialah: Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurnani. Selain telah berguru kepada guru-guru yang sangat luar biasa Abdul Rouf selama hidupnya telah menulis beberapa buku yang sangat luar biasa. Dalam penulisan beliau terdapat berbagai macam disiplin ilmu tradisional Islam lainnya, yaitu ilmu tasawuf (bathin) dan fiqh (dzahir). Kajian penulisannya antara lain adalah mengenai Fiqh, Tasawuf (termasuk dzikir), Tafsir Alquran, Syariah, Sakrat maut, Tujuan Ibadah, Doktrin Ibn Arabi, Pengajaran Ahmad Qushashi, dan Tugas sebagi Pengajar dan Pembelajar.

Abdur Rouf Al-Singkili wafat pada tahun 1105 H yang bertepatan pada tahun 1693 M yang dikuburkan di dekat kuala mulut sungai Aceh. Berdasarkan pada tempat pemakamannya inilah ia dikenal sebagai syeikh di Kuala. Makam Al-Singkili menjadi tempat ziarah keagamaan hingga saat ini.

Baca Juga  Mengenal Khazanah Tafsir Pertama di Nusantara

Deskripsi Turjuman Al-Mustafid

Kitab ini merupakan kitab tafsir perdana dalam bahasa melayu lengkap dalam 30 juz yang ditulis dengan huruf pegon. Tafsir Turjuman Al-Mustafid dianggap semata-mata sebagai terjemahan dari tafsir Al-Baidhawi, bendapat ini dikemukakan oleh Snouck Hurgronje. Begitu juga dengan dua sarjana Barat lainnya, yaitu Voorhoeve dan Rinkes mereka berpendapat bahwa tafsir Turjuman Al-Mustafid merupakan kitab terjemahan dari kitab tafsir Al-Baidhawi dan tafsir Jalalain.

Dalam sebuah sejarah disebutkan bahwa manuskrip tafsir Turjuman Al-Mustafid dibawa ke Belanda oleh Epirnus (seorang ahli bahasa Belanda) pada awal abad ke-17 M. Saat ini manuskrip ini menjadi koleksi Cambridge University. Belum terdapat info pasti kapan beliau menyusun tafsir tersebut. Namun dalam sebuah sejarah disebutkan bahwa tafsir Turjuman Al-Mustafid disusun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar. Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh Peter Riddel yang berpendapat bahwa tafsir ini ditulis sekitar tahun 1675 M.

Latar Belakang dari disusunnya tafsir ini ialah masyarakat Aceh kala itu sangat membutuhkan kitab rujukan yang berbahasa Melayu yang disebabkan oleh penafsiran-penafsiran golongan Wihdatul Wujuh, yaitu golongan salik buta yang menafsirkan al-Quran sesuai kehendaknya.serta banyaknya kasus pertumbahan darah oleh sifat-sifat agresif mereka.

Apabila dilihat dari perpektif interpretasi dan arti bahwa penafsiran kitab ini menggunakan metode tahlili, sedangkan jika dilihat dari penjelasan aspek konten pada penulisan ayat dalam penafsiran ini menggunakan metode ijmali. Tafsir ini merpakan tafsir yang memberikan banyak sekali petunjuk dalam sejarah keilmuan Islam di tanah melayu, ia memberikan banyak seklai kontribusi pemikiran terhadap telaah tafsir alquran di Nusantara.

Dalam penulisan tafsir Turjuman Al-Mustafid Al-Singkili menggunakan beberapa metodologi yang meliputi tehnik penulisan dan kandungan surat. Untuk dapat mengetahui metode penafsiran kitab ini maka perlu bagi peneliti untuk membaca kitab-kitab tafsir yang menjadi sumber rujukan kitab Turjuman Al-Mustafir ini. Berikut ialah penjelasannya:

  1. Tehnik Penulisan
Baca Juga  Keutuhan Jasad Fir'aun yang Tenggelam dan Hikmah Di Baliknya

Dalam penyusunan kitab Turjuman Al-Mustafid tidak didahului dengan muqaddimah seperti yang dilakukan oleh ulama lainnya. Setiap memulai penafsiran surat selalu dimulai dari nama surat dan dijelaskan status dari surat tersebut, apakah makkiyah ataukah madaniyah. Setelah itu ia menyebutkan bilangan masing-masing surat. Ke semua penjelasan yang ada di atas dikemukakan dengan bahasa Arab yang kemudian dijelaskan dengan bahasa Melayu. Baru setelah itu mulai menafsirka ayat demi ayat.

2. Kandungan Turjuman Al-Mustafid

Dalam kandungan tafsir ini dijelaskan beberapa aspek meliputi keutamaan surat, sebab-sebab turunnya, kisah-kisah israiliyat, nasikh mansukh, dan memuat sedikit tentang pembahasan fikih.

  1. Keutamaan Surat. Dalam pengambilan keutamaan surat terdapat beberapa cara dalam pengambilannya, yaitu:
  2. Dalam menjelaskan keutamaan surat Al-Fatihah sampai surat An-Nur ia menukil dari tafsir Al-Baidhawi dan Manafi’ Al-Quran.
  3. Dalam menjelaskan keutamaan surat Ar. Ra’d dan surat Al-Furqan sampai surat An-Nas ia menukil dari tafsir Al-Baidhawi.
  4. Dan yang terakhir dalam penjelasan keutamaan surat Yasin ia menukil dari tafsir Al-Baidhawi dan tafsir Al-Khazin.
  5. Sebab-sebab turunnya ayat. Dalam penjelasan sebab-sebab turunnya ayat banyak menukil dari tafsir Al-Khazin yang bisa dikatakan sebagai rujukan utama dalam penjelasan sebab-sebab turunnya ayat. Selain itu, juga ua menukil dari beberapa kitab tafsir lainnya sebagai pelengkap seperti tafsir Al-Baidhawi dan Al-Baghawi.
  6. Israiliyat. Kisah-kisah israiliyat yang dicantumkan dalam tafsir ini lebih banyak dinukil dari tafsir Al-Khazin.
  7. Nasikh dan Mansukh.
  8. Qiraat. Dalam perbedaan-perbedaan terjemahan ayat menurut qiraat Al-Singkili lebih banyak menukil dari bacaan Abu ‘Amr.
  9. Fiqh.

Editor: An-Najmi

Aida Ayu Lestari
Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Asal Blimbing-Paciran-Lamongan