Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Revitalisasi Pendidikan Islam: Gerakan Aksiologis Kitab Ayyuhal Walad

ayyuhal walad

“Pendidikan adalah pembinaan kepada semua orang untuk menjadi lebih beradab dan terdidik. Pendidikan merupakan rumah bagi seorang penuntut ilmu untuk memperoleh kejayaan dan kedamaian. Dan jadikan pendidikan sebagai ancaman perusak karakter bangsa.”

Esensi pendidikan bagi suatu negara adalah suatu hal yang dapat menumbuhkan rasa cintanya dan tingkat peradabannya, tidak hanya demikian, tetapi juga akan mencerminkan kualitas wilayah tersebut sebagai negara yang berdaulat, terhormat dana memiliki kompetensi dalam berbagai ilmu pengetahuan. Pendidikan juga dipandang sebagai suatu aset yang berharga yang pasti dimiliki oleh semua negara.

Mengapa pendidikan dikatakan begitu penting dalam kehidupan, terlebih lagi dalam pendidikan islam? Maka jawabannya adalah, karena dari dunia pendidikan inilah dilahirkan para ulama-ulama, pendidik, pemimpin, politisi, insinyur dan lain-lain. Maka begitu penting bagi kita ummat muslim terutama untuk selalu menjaga setiap instrument pendidikan islam itu tetap dalam kondisi stabil dan konsisten.

Dalam pendidikan islam, seorang guru merupakan instumen utama dalam perbaikan sistemasi pendidikan. Jika guru mendapat ilmu yang salah, maka ia akan berpikir dan mengaplikasikan apa yang ia ketahui selama dia belajar, akibatnya seorang guru tersebut akan memberikan pemahaman ilmu yang salah yang itu ia ajarkan kepada para muridnya.

Degradasi Ilmu Pengetahuan

Semakin maju berkembangnya zaman, maka ilmu pengetahuan juga semakin luas, jika ummat muslim tidak bisa menyaring ilmu, maka yang akan terjadi adalah deislamsi ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadikan pendidikan islam mengalami degradasi ilmu pengetahuan.

Dampaknya adalah kualitas pendidikan islam akan jatuh dan kalah bersaing dengan pendidikan sekuler, munculnya degradasi itu akibat ummat muslim lemah dalam menahan arus westernisasidan sekularasi dalam pemikiran islam.“It is true the muslim mind is now undergoing profound infiltration of cultural and intellectual elements alien to islam.”

Sangat menyedihkan bila kita melihat tragedi tersebut. Degradasi ilmu pengetahuan tidak hanya disebabkan massifnya perkembangan pemikiran-pemikiran yang menentang islam, akan tetapi ada permasalahan dasar yang menjadi sebab ilmu pengetahuan mengalami kemunduran, yaitu hilangnya adab dari individu ummat muslim sendiri. Terlebih lagi dalam pendidikan islam saat ini praktik adab justru lebih rendah.

Baca Juga  Mengendalikan Hawa Nafsu: Jihad Akbar dalam Islam

Jika seorang muslim memiliki adab dalam kepribadiannya maka dia bisa memahami dan membagikan keilmuannya kepada orang lain, masyarakat atau dengan keluarganya. Sehingga ilmu pengetahuan islam akan sampai pada seorang yang tepat. Dan juga, seseorang yang memiliki kepribadian yang baik akan meyakini dengan betul bahwa ilmu pengetahuan itu didapat atas ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tentu saja, dalam pendidikan islam praktik adab lebih utama daripada menuntut ilmu, karena seorang jika hanya memiliki ilmu tanpa memiliki perangai akhlak yang mulia, maka ilmu yang dibagikan pun akan menjadi ancaman bagi masyarakat. Demikian, membagikan ilmu pengetahuan harus didampingi dengan adab yang baik, agar masyarakat bisa menerima ilmu yang diperoleh dari seorang muslim.

Urgensinya Revitalisasi Ilmu dalam Pendidikan Islam

Sebagai upaya moral untuk menumbuhkan kembali sikap ta’dib terhadap dunia pendidikan islam, maka dibutuhkannya sebuah revitalisasi terhadap pendidikan islam. Revitalisasi adalah upaya untk menghidupkan kembali suatu kearifan atau tradisi dari suatu kelompok tertentu. Dalam hal pendidikan islam yang harus dihidupkan kembali adalah budaya adab sebagai suatu proses tazkiyatun nafs(pensucian jiwa).

Pembentukan adab terhadap peserta didik merupakan tradisi keilmuan islam yang sudah terbentang jauh sebelum masa revolusi dan teknologi zaman ini. Perhatian para ulama tentang adab juga sangat komprehensif dan spesifik. Seperti Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al Bukhari. Pembentukan adab terhadap peserta didik bukanlah suatu hal yang tabu dalam pendidikan islam, sejak masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, Khulafa’ Ar Rasyidin, masa Tabi’in sudah pernah membahas dan mengaplikasikannya, baik dalam pendidikan maupun masyarakat.

Lembaga pendidikan islam harus kembali menghidupkan tradisi yang sudah diwariskan oleh para nabi, ulama dan guru-guru ini. Adab adalah suatu perangai yang mulia, para ulama terdahulu mempelajarai adab lebih lama dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Al Imam Ibn Mubarok rahimahullahdijelaskan dalam kitab al-Luma’ fi Tarikh al-Tashawwuf al-Islamibeliau pernah berkata, “Kami lebih membutuhkan adab daripada ilmu yang banyak.”

Mutiara Hikmah dari Kitab Ayyuhal Walad

Semua pasti tidak asing dengan kitab Ayyuhal Walad ini, kitab karangan dari ulama besar, seorang filsuf muslim terkemuka yang disebut sebagai Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali rahimahullah. Kitab Ayyuhal Walad ini berisi kumpulan nasehat-nasehat penting dari Imam Al Ghazali terhadap para anak-anak dalam perjalanannya menuntut ilmu.

Baca Juga  Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Implementasi yang bisa kita ambil dari kitab kecil ini adalah keserisuan seorang penuntut ilmu dalam belajar mencari keagungan ilmu. Dalam kitab ini Imam Al Ghazali mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dua nikmat, yang manusia kebanyakan lalai darinya yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (H.R Al Bukhari)

Menuntut ilmu dalam keadaan sehat dan memiliki waktu yang lapang adalah sebuah keniscayaan yang sulit orang lain dapatkan. Dan nasehat Imam Al Ghazali bagi para penuntut ilmu adalah selalu muliakan adab dalam menuntut ilmu, jangan menuntut ilmu atas dasar kesombongan individu saja, Qarun dan Fir’aun sudah menjadi contoh pelajaran bagi kita semua.

Ini adalah contoh aksiologis yang ada di dalam buku mutiara Ayyuhal Waladdimana aplikasinya adalah kita sebagai penuntut ilmu harus menggunakan ilmu dengan sebaik-baiknya, memberikan kemudahan dan pencerahan bagi ummat muslim. Karena hakikat dari pendidikan adalah penanaman ilmu pengetahuan yang baik berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

Editor: An-Najmi Fikri R