Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Review Artikel: Kritik Neuwirth atas Sarjana Muslim dan Barat dalam Studi Al-Quran

Kritik Neuwirth
Gambar: https://www.iis.ac.uk/

Titik fokus dalam artikel ini adalah kritik-kritik yang diberikan Neuwirth kepada para sarjana Muslim dan non-Muslim atas kajian al-Qur`an yang selalu menjadi hal menarik untuk dibahas dari waktu ke waktu. Kritik yang diberikan oleh Neuwirth tersebut dipaparkan Fina dalam artikelnya secara jelas dan runtut dari awal hingga akhir.

Kritik tersebut berangkat dari pandangan Neuwirth terhadap studi al-Qur`an, bahwa studi ini bertujuan untuk menemukan jejak komunikasi al-Qur`an. Selanjutnya, Neuwirth menganalisis teks al-Qur`an agar maknanya dapat lebih diresapi oleh setiap orang. Untuk mencapai hal itu, Neuwirth memberikan tawaran pembacaan prakanonisasi (yakni al-Qur`an yang hidup pada masa Nabi Saw.) terhadap teks pascakanonisasi (al-Qur`an yang telah dikodifikasi).

Pembacaan prakanonisasi ini berangkat dari satu unit surat. Satuan unit surat tersebut merupakan suatu unit komunikasi yang menyebar di kalangan penerima wahyu sehingga dapat diketahui bahwa proses kanonisasi dan komunitas tumbuh bersamaan. Pembahasan al-Qur`an prakanonisasi ini juga telah dibahas pada tulisan Fina sebelumnya dengan judul “Membaca Metode Penafsiran Al-Qur`an Kontemporer di Kalangan Sarjana Barat: Analisis Pemikiran Angelika Neuwirth”, bahwa pembacaan tersebut berinti pada pencarian makna yang terkandung (original meaning) dalam al-Qur`an dan berpusat pada penelusuran konteks historisnya secara lebih mendalam.

Kritik Neuwirth Terhadap Sarjana Muslim dan Barat

Sehubungan dengan hal itu, pada artikel kali ini Fina berusaha menjelaskan bagaimana kritik Neuwirth yang membuka pandangan semua orang. Terutama kalangan sarjana Muslim dan Barat, bahwa al-Qur`an tidak hanya dianggap sebagai “teks sastra”, namun juga sebagai “teks komunikasi”. Pada kesarjanaan Barat, salah satu catatan kritis Neuwirth yakni pada penelitian Gunther Luling (1974) dan Christoph Luxenberg (2000). Bahwa metode, pendekatan, penelusuran data maupun hasil penelitian cenderung berat sebelah.

Baca Juga  Tanasub dalam Penafsiran Ibn 'Arafah Al-Tunisi

Tidak hanya itu, pada fokus penelitian mereka tidak mengaitkan al-Qur`an dengan masyarakat pagan, puisi Arab dan Yahudi. Meski begitu, Neuwirth mengapresiasi karyanya yang telah membuka ruang kritisisme. Selain pada kesarjanaan Barat, Neuwirth juga mengkritik sarjana Muslim yang memposisikan al-Qur`an sebagai teks yang “melampaui sejarah”. Sehingga menjadikannya sebagai sebuah teks yang tak dapat disentuh dan studi al-Qur`an menjadi berhenti berkembang.

Catatan-catatan kritis Neuwirth ini kemudian menjadi basis legitimasinya atas pentingnya pendekatan yang ia tawarkan dalam mengkaji al-Qur`an. Untuk mengkaji al-Qur`an, dibutuhkan pendekatan sastra-sejarah melalui pembacaan prakanonisasi. Pendekatan ini diharapkan dapat memadukan posisi tradisionalis dan revisionis. Ia juga menegaskan bahwa pendekatan yang ditawarkan bukan untuk menggantikan al-Qur`an pascakanonisasi yang saat ini telah tersebar luas.

Selain itu, fakta bahwa al-Qur`an erat kaitannya dengan konteks pada masa kelahirannya tidak bisa diabaikan. Jejak-jejak al-Qur`an prakanonisasi menurut Neuwirth masih bisa ditelusuri dalam teks pascakanonisasi melalui struktur mikro teks yang merekam banyaknya proses komunikasi. Hal terpenting menurut Neuwirth dalam mengkaji suatu teks adalah bahwa al-Qur`an postkanonisasi perlu untuk dianggap sebagai teks yang bergerak sehingga dapat merefleksikan dialog dan debat antara berbagai peran.

Langkah Kerja Pembacaan Prakanonisasi

Adapun langkah kerja yang ditawarkan Neuwirth dalam pembacaan prakanonisasi ini ada dua. Pertama, analisis dimulai dari satu unit surat yang dibaca sebagai teks sastra sekaligus teks komunikasi. Proses komunikasi tersebut dapat dilihat dengan membentuk hubungan logis antar bagian-bagian kelompok yang ditentukan dari berbagai subjek terlibat dalam komunikasi.

Kedua, analisis pada langkah pertama perlu dibaca dalam ruang intertekstualis. Neuwirth berasumsi bahwa masyarakat sebagai penerima teks telah melek (terbuka) dengan Bibel, bahasa Arab dan retorika Yunani. Kedua langkah ini kemudian diterapkan pada Qs. Al-Ikhlas (112) dan Qs. Al-‘Adiyat (100).

Baca Juga  Adab Berbicara dalam Al-Qur’an dan Hadis

Hal yang menarik bagi saya di sini adalah bahwa artikel ini diakhiri dengan kekaguman Fina terhadap kajian Neuwirth atas gagasannya yang dianggap memberikan warna baru bagi kesarjanaan Barat, sehingga studi terhadap al-Qur`an mampu menciptakan kesepahaman dan dialog yang bersifat akademis di tengah belantara kesarjanaan Muslim dan Barat.

Secara keseluruhan, artikel ini patut diapresiasi karena tidak hanya mampu menjabarkan secara runtut dan padat isi atas beragam catatan kritis Neuwirth terhadap penelitian/karya para sarjana Barat dan Muslim, tetapi juga memberikan keterangan-keterangan dan sudut pandang Fina dalam menanggapi pemikiran neuwirth dalam mengkaji al-Qur`an.

Penyunting: Bukhari