Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Respon Artikel: Mengenal Pembacaan Prakanonisasi Anggelika Neuwirth

Neuwirth
Gambar: https://www.syahida.id/

Ketertarikan Angelika Neuwirth Terhadap Studi Al-Quran

Artikel ini memaparkan secara runtut bagaimana metode tafsir al-Qur’an kontemporer dari sudut pandang Angelika Neuwirth. Ia adalah seorang sarjana Barat Yahudi yang menekuni kajian al-Qur’an. Sebelum terjun pada kajian al-Qur`an, Neuwirth adalah spesialisasi dalam bidang sastra Arab klasik dan modern. Sehingga ketertarikannya terhadap sastra ikut mempengaruhi pemikirannya terhadap studi al-Qur`an sebagai sebuah pendekatan. Oleh karenanya, sejak tahun 1990-an, Neuwirth menjadi lebih produktif dalam menghasilkan karya-karya yang berkaitan dengan studi al-Qur`an dalam berbagai bahasa.

Metode analisis al-Qur’an yang ditawarkan oleh Neuwirth adalah pembacaan prakanonisasi al-Qur’an. Pembacaan tersebut berinti pada pencarian makna yang terkandung (original meaning) dalam al-Qur’an dan berpusat pada penelusuran konteks historisnya secara lebih mendalam. Untuk mencapai hal itu, Neuwirth membentuk sebuah proyek bernama Corpus Coranicum dengan berfokus pada tiga agenda besar.

Dari ketiga agenda tersebut, yang terkait dengan kajian ini adalah menghasilkan interpretasi terhadap al-Qur’an dengan pendekatan historis kritis dan sastra. Agar agenda tersebut tercapai, Corpus Coranicum melakukan beberapa riset, terlibat dan mengadakan berbagai konferensi internasional. Serta menerbitkan buku bertema pendekatan historis-sastra terhadap al-Qur’an.

Pembacaan Prakanosisasi

Pembacaan prakanonisasi ini lahir karena isi, gaya bahasa, struktur dan retorika teks al-Qur’an berkembang sesuai keadaan yang melatarinya. Oleh karena itu, pembacaan prakanonisasi dibutuhkan untuk menggali informasi atau pesan yang terkandung di dalamnya (setiap surat dalam al-Qur’an). Ini dilakukan agar tidak terjadi dehistorisasi al-Qur’an setelah kodifikasi.

Hal yang menarik bagi saya disini adalah bahwa kegelisahan yang dirasakan oleh Neuwirth sejalan dengan kegelisahan para sarjana Muslim kontemporer, seperti al-Khulli, Arkoun, Fazlur Rahman dan Abu Zayd. Akan tetapi, cara yang dilakukan dalam mengatasi hal tersebut berbeda. Para sarjana Muslim memberikan solusi dengan menerapkan metode tafsir tematik, sedangkan Neuwirth menerapkan metode penafsiran berbasis surat (analisis struktur satuan mikro), di mana unit satuan surat (dalam hal ini adalah surat Makkiyah) diyakini dapat menggambarkan secara jelas dan utuh kronologi perjalanan al-Qur’an dan perkembangan dakwah Nabi Saw.

Baca Juga  Rasm Imla'i: Tidak Jauh Berbeda Dengan Rasm Usmani

Neuwirth meyakini bahwa surat menyimpan proses komunikasi dan redaksinya terjamin sebagai teks sastra. Pada prakteknya, Neuwirth mengkaji dan melibatkan surat dengan teks-teks yang mengitari al-Qur’an pada saat itu (disebut sebagai masa Late Antiquity). Di antaranya kitab suci kaum Kristen (Aramaik) dan Yahudi (Ibrani), retorika Yahudi serta puisi Arab. Dalam hal ini, Neuwirth memberi penegasan bahwa al-Qur`an mulanya bukan kitab suci umat Islam, melainkan teks yang ditujukan pada masyarakat beragam pada masa Late Antiquity. Dengan melibatkan teks-teks lain dalam pembacaan al-Qur`an, maka akan diperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai al-Qur`an.

Langkah Kerja Pembacaan Prakanonisasi Angelika Neuwirth

Secara rinci dan konkret, Fina membagi langkah kerja pembacaan prakanonisasi Neuwirth. Pertama, membagi surat menjadi satu atau beberapa (kelompok) ayat yang didasarkan pada grammatical structure of each segment dan the thematic contentnya. Hal itu guna menyingkap penyampaian pesan yang terkandung dalam satuan surat.

Beberapa kelompok ayat dalam surat tersebut selanjutnya dianalisis dalam kerangka referensialitas Neuwirth, yang mana menurut tafsiran Fina terdapat tiga aspek: terhadap teks dalam surat untuk membangun kepaduan surat. Lalu terhadap nucleus text untuk membangun informasi posisi suatu surat dalam perkembangan wahyu. Terakhir, terhadap penelusuran realitas di luar teks dengan dibantu data-data sejarah.

Kedua, menghadirkan kembali historisitas al-Qur`an yang berpusat pada sejarah Nabi saw, baik perihal Nabi saw. itu sendiri maupun hal-hal yang mengitari pewahyuan al-Qur`an, sehingga dapat ditemukan manfaatnya. Oleh karenanya, posisi satuan surat dapat dihidupkan dalam proses pewahyuan dan lahirnya komunitas Nabi saw. Pada langkah kedua ini, Fina berpendapat bahwa langkah ini berjalin-kelindan dengan langkah pertama Neuwirth.

Penutup

Secara keseluruhan, artikel ini patut untuk diapresiasi. Karena dapat membuka dan menjabarkan secara ringkas dan padat bentuk pembacaan prakanonisa yang ditawarkan oleh Neuwith dalam menafsirkan al-Qur`an. Tidak hanya itu, Fina memberikan keterangan dan pemikirannya dalam menanggapi dan menjelaskan pemikiran Neuwirth. Sehingga pembaca secara tidak langsung mendapat pengetahuan dari sudut pandang keduanya. Meski begitu, akan lebih menarik dan jelas tulisan ini jika dapat dilengkapi dengan contoh praktik dari bentuk pembacaan prakanonisasi al-Qur`an oleh Neuwirth tersebut. 

Baca Juga  Tafsir Metafisika Sufisme tentang Penciptaan Perempuan

Penyunting: Bukhari

Nur Laili Nabilah Nazahah Najiyah
Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (Konsentrasi Hadis) UIN Sunan Kalijaga