Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Respon Al-Qur’an Menyikapi Fenomena Berita Hoaks

Vector illustration of The word Hoax in red ink stamp

Berita tidak selamanya bersifat fakta. Adakalanya penggalian informasi yang kurang maksimal, menimbulkan sebuah kekeliruan. Ada pula segelintir orang yang bertujuan menjatuhkan citra maupun membodohi umat demi menyedot perhatian publik, mereka memilih memalsukan berita. Fenomena ini bukanlah hal yang tabu, bukan hal baru. Tidak pandang bulu, baik itu dunia sains, militer, bahkan dalam urusan agama pun terdapat banyak berita hoaks yang porak-poranda menyerbu indrawi khalayak supaya mempengaruhi, menghasut, dan menyesatkan persepsi mereka. Betapa persoalan ini begitu membahayakan, sebab melibatkan fitnah di dalamnya.   

Jika dahulu penyebaran informasi adalah dari mulut ke mulut, kini dengan mudahnya informasi mampu tersebar luas melalui media sosial. Tidak hanya satu wilayah, namun ke seluruh penjuru dunia. Lebih-lebih, fakta yang kita tangkap mengatakan bahwa eksistensi media sosial ini menjadikan mereka memiliki ketergantungan terhadapnya. Berita hoaks muncul dengan sangat deras dan memaksa untuk dikonsumsi.

Anjuran Bijak Menyaring Berita

Menyoal berita hoaks yang marak ini, al-Qur’an merespon salah satunya dalam Q.S. al-Isra’ [17]: 36 berikut.

            وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Salman Harun, dalam bukunya Tafsir Tarbawi: Nilai-nilai Pendidikan dalam al-Qur’an (h. 176) mengungkapkan bahwa lafaz taqfu merupakan bentuk fi’il muḍāri’ dari qafā-yaqfū, yang berarti melangkah, mengikuti. Sehingga, kalimat wa lā taqfu diarahkan pada makna larangan untuk mengatakan, melakukan, maupun beraksi atas mā laisa laka bihi ‘ilm, yakni sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Maksudnya, jangan asal bicara, kalau melakukan sesuatu pikirkan terlebih dahulu, dan jangan taklid buta.  

Baca Juga  Bolehkah Islam Menganjurkan Jatuh Cinta Pada Seseorang?

***

Al-Sa’di dalam Tafsīr al-Sa’dī (h. 457) memaknai wa lā taqfu mā laisa laka bihi ‘ilm, bahwa hendaknya manusia mengokohkan atau meneguhkan dirinya sendiri baik ucapan maupun perbuatannya, agar tidak mudah terbawa arus dan mudah memercayai suatu hal yang belum tentu tampak kebenarannya, baik itu melalui pendengaran (as-sam’u), penglihatan (al-baṣr), maupun sekadar feeling (al-fu’ād). Apabila demikian terjadi, jangan mengira akan membawa keberuntungan dan tidak merugikan.

Seperti yang diketahui pada umumnya, bahwa tujuan disebarkannya berita hoaks kadang ditujukan untuk menjatuhkan, menyingkirkan, dan menurunkan citra objek berita yang didzolimi atas berita palsu tersebut, atau digunakan untuk membodohi khalayak. Maka ditegaskan oleh al-Sa’di, bahwa perlakuan tersebut justru tidak memberikan keberuntungan baginya, bahkan merugikan. Meski di dunia ia menang atas itu yang memungkinkan bersifat sementara, namun kebohongan suatu saat akan dibuka oleh Allah pada waktu yang tidak dapat dipastikan oleh manusia.

Adapun di akhirat kelak, segala hal yang kita lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Hendaknya anggota badan, termasuk indra manusia, dipergunakan untuk menghamba kepada-Nya. Melakukan perbuatan baik kepada siapapun, dan mencegah perbuatan buruk.  Sebagaimana disebutkan oleh al-Khatib dalam kitab Auḍaḥ al-Tafsīr (juz 1, h. 342), ayat tersebut disimpulkan bahwa orang berakal dan bijaksana adalah orang-orang yang tidak mendengar, melihat, dan berpikir −al-Khatib lebih setuju memaknai al-fu’ād dengan pikiran− sesuatu apapun kecuali yang baik-baik. Seperti pepatah yang tidak asing di telinga kita: ambil baiknya, buang buruknya.  

Pentingnya Menyelidiki Berita

Selain perlunya menyaring berita untuk tidak mudah memercayai suatu hal yang tidak ditangkap langsung oleh indra kita sebagai sebuah fakta, menyelidiki apakah berita itu bohong atau fakta merupakan tindakan yang perlu diupayakan. Persoalan ini telah disebutkan dalam firman Allah Q.S. al-Hujurat [49]: 6 berikut.

Baca Juga  Kedudukan Anak Perempuan dalam Pembagian Harta Warisan Menurut Hukum Islam

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Al-Qarni dalam Tafsīr al-Muyassar (h.153), mengungkapkan bahwa ayat tersebut merupakan anjuran kepada umat Islam yang beriman supaya lebih berhati-hati dalam menangkap berita-berita, khususnya yang didatangkan dari orang fasik yang bermaksud menyesatkan umat Islam. Orang fasik, pada dasarnya jika ia berbicara, ia berdusta, namun memungkinkan juga untuk berkata benar. Sementara kita tidak dapat mengetahui secara pasti siapa yang fasik, dan siapa yang dapat dipercaya.

Bahkan, orang yang dipercaya-pun, sebagaimana manusia biasa yang tidak ma’shum, ia mampu berbuat fasik. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menyelidiki terlebih dahulu berita yang sampai kepada kita. Apakah berita benar, atau bohong? Hal ini sebagaimana disampaikan oleh al-Ṭabari dalam Tafsīr al-Ṭabari (juz 22, h. 286), bahwa perlunya menyediakan waktu untuk memverifikasi status berita, tidak buru-buru menerimanya.

***

Az-Zuhaili dalam Tafsīr al-Munīr (juz 26, h. 227), menjelaskan bahwa hendaknya setiap kali berita datang. Terutama jika disampaikan orang yang dinilai kurang dipercaya atau belum diketahui kepercayaannya. Maka perlu mencari tahu dan memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Tidak tergesa-gesa menghakimi.

Dampak yang dikhawatirkan jika hal ini terjadi, adalah mampu merugikan suatu kaum dan menimpakan kerugian, baik diri sendiri, orang lain, bahkan banyak orang. Maka sebelum penyesalan terjadi, alangkah baiknya memperlakukan berita dengan bijak. Menyaring, kemudian memverifikasi, baru kemudian boleh disebarluaskan jika memang terbukti kebenarannya.

Baca Juga  The Real Ta’aruf: Pacaran Mode Halal, Memang Ada?

Kesimpulan 

Peran kecerdasan akal dan hati dibutuhkan dalam mem-filter beragam bentuk informasi yang ditangkap, paling tidak, dengan cara meningkatkan kemampuan literasi, yakni klarifikasi dan memperluas referensi. Berita hoaks hanya diterima oleh orang-orang yang menidurkan akal sehatnya, dan enggan mengasah otak untuk menggali fakta. Sebagai manusia yang disempurnakan dengan kepemilikan akal sehat, hendaknya mempergunakan akal dengan bijak supaya tidak membinasakan diri dan orang lain.

Editor: An-Najmi

Fatia Salma Fiddaroyni
Alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dan Alumnus PP. Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.