Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Resiprositas dalam Rumah Tangga Perspektif Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman dalam kehidupan umat Islam, selain hadis. Setiap kehidupan umat Islam diatur dalam Al-Qur’an. Tidak hanya kehidupan umat Islam, namun juga kehidupan manusia, beserta seluruh makhluk. Al-Qur’an tidak hanya membahas seputar ibadah atau hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga membahas seluk beluk terkait muammalah atau hubungan antar manusia, maupun dengan makhluk lain. Lantas, bagaimana Al-Qur’an membahas perihal keluarga terutama dalam peran ibu dan ayah di rumah tangga? Apakah terdapat perbedaan atau persamaan di antara keduanya dan bagaimana Al-Qur’an membahas hubungan di antara keduanya?

Peran Ibu dalam Al-Qur’an

Peran ibu dalam keluarga sangat penting dan tidak dapat diragukan lagi. Al-Qur’an mencatat peran ibu dalam beberapa ayat pada Al-Qur’an, meliputi

  • Mengandung anak

Pembuahan antara pasangan laki-laki dan perempuan akan menghasilkan janin dalam perut sang perempuan. Perjalanan perempuan sebagai ibu dimulai dari proses mengandung anak dalam rahimnya selama kurang lebih 9 bulan.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْن

Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah …

Luqmān  [31]:14

Dalam Q.S An- Najm (53): 32 juga dijelaskan mengenai kehamilan seorang ibu

هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ 

Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu.

***

  • Melahirkan anak

Setelah mengandung selama kurang lebih 9 bulan, janin yang ada dalam rahim seorang ibu kemudian dilahirkan. Proses kelahiran janin ini digambarkan dengan sangat payah dan melelahkan (Q.S. Lukman: 14). Salah satu ayat yang menyebutkan mengenai peran ibu dalam melahirkan seorang anak dalam Q.S. An-Nahl (16): 78

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ

Allah mengeluarkanmu dari dalam perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun….

  • Menyusui anak

Air susu ibu merupakan anugrah dari Allah yang diberikan kepada anak melalui seorang ibu. Proses menyusui seorang bayi dalam al-Qur’an disebutkan selama kurang lebih 2 tahun hingga 30 bulan.

وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Baca Juga  Tafsir Tematik (9): Bahaya Zina

Ibu-ibu hendaknlah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 233)

حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗ

Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya hingga 30 bulan… (Q.S. Al-Ahqaf (46): 15)

Terdapat beberapa tokoh yang ditulis dalam al-Qur’an untuk menggambarkan peran seorang ibu, seperti Sarah, istri dari Nabi Ibrahim yang ingin sekali mengandung seorang anak, ia berdo’a sepanjang hari, hingga akhirnya Allah membawakan kabar gembira bahwa Sarah akan mengandung Ishaq dalam Q.S. Hud ayat 71-73, istri Nabi Zakaria yang ingin mengandung seorang anak juga dalam Q.S Maryam ayat 4-5, ibu Nabi Musa yang diberikan ilham mengenai cara menyelamatkan anaknya dalam masa kepemimpinan fir’aun yang keji dalam Q.S. Al-Qashash ayat 7, hingga Maryam, ibu dari Nabi Isa yang menjadi nama sebuah surat dalam al-Qur’an. Kesucian yang dimiliki Maryam membuatnya mendapat anugrah dari Allah bahwasannya ia akan mengandung seorang anak tanpa perlu disentuh oleh seorang laki-laki.

Peran Ayah dalam Al-Qur’an

Sebagian masyarakat masih banyak yang berpandangan bahwa ibu hanya menghabiskan waktu di rumah untuk merawat menjaga anak-anaknya dengan baik, sementara ayah hanya mencari nafkah saja. Padahal tidak demikian. Bahwasanya ayah juga  dibebani untuk mengendalikan rumah tangga sehingga setiap anggota keluarga dapat menikmati makna sebuah keluarga dan dapat secara terus menerus meningkatkan kualitas pribadinya dalam berbagai segi, baik segi hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia, segi penguasaan pengetahuan dan sebagainya, terutama hubungannya dengan keluarganya.

Selain itu juga ayah dituntut untuk bisa membina jiwa seorang istri sebagai orang yang mengatur dalam kehidupan rumah tangga yang dipimpin oleh ayah, menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya. Seorang suami juga bertugas mengajarkan kepada istrinya akan arti kehidupan yang sebenarnya sesuai dengan fitrahnya untuk menjadi istri yang shalihah yaitu dengan mengajarinya ilmu pengetahuan agama dengan baik. Dalam hal ini tidak hanya kepada istrinya saja namun apabila dalam keluarga tersebut memiliki anak maka ayah berperan menjadi panutan anak-anaknya.

Dalam alquran pembinaan jiwa moral terhadap anak telah di ajarkan dalam surat Q.S. Hud ayat 42

Baca Juga  Tuntunan Membangun Keluarga Harmonis dalam Islam

وَهِىَ تَجْرِى بِهِمْ فِى مَوْجٍ كَٱلْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”

***

Ayat di atas menceritakan tentang kisah Nabi Nuh dan anaknya, dapat diketahui bahwa seorang ayah memiliki pengaruh yang penting dalam mendidik anaknya. Didalam ayat tersebut terdapat dua kata yang menjadi sorotan yang pertama ialah kata ibnahu dan ya bunayya. Menurut Quraisy Shihab dalam Tafsir Al Misbah beliau menjelaskan bahwasanya lafal ya bunayya memiliki arti anak ku yang mungil disini panggilan tersebut digunakan untuk memanggil anak dengan penuh kasih sayanggg dan itu semua harus dibarengi dengan terus memberika contoh” yang baik terhadap anak sehingga anak dapat meniru apa yang telah dicontohkan oleh orang tua nya terutama ayahnya.

Al-Qur’an mengisahkan beberapa sosok ayah yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran, misalanya kisah Nabi Nuh dan anaknya dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233, kisah Nabi Ya’qub dan anaknya dalam Q.S. Yusuf ayat 4-5, kisah Nabi Ibrahim dan anaknya, kisah Nabi Syu’aib dalam Q.S. Qashash ayat 26-27, Nabi Nuh dan anaknya yang tidak beriman dalam Q.S. Hud ayat 42-43, dan peran Lukman sebagai ayah dalam Q.S. Luqman ayat 13-19.

Resiprositas dalam Rumah Tangga

Al-Qur’an telah menyebutkan mengenai peran seorang ibu dan ayah dalam rumah tangga, termasuk dalam hal pengasuhan anak seperti yang telah disebutkan di atas. Peran antara ibu dan ayah dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Keduanya saling membentuk hubungan timbal balik saling berbalasan. Hubungan timbal balik dan saling berbalas dalam ilmu sosial bisa kita sebut dengan resiprositas. Reprositas mewajibkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya untuk saling bekerja sama, tidak ada yang superior maupun inferior di antara keduanya.

Baca Juga  Refleksi Hari Kartini: Kenapa Mufasir Perempuan Jarang Dilirik?

Muhammad Syahrur dalam bukunya al-Islam wa al-Iman menyebutkan bahwa orang tua dalam al-Qur’an disebut dengan 2 term yang memiliki perbedaan makna yang saling berkorelasi, yakni waalidaini dan abawaini. Kata waalidaini terdiri atas al-waalidah dan al-waalid, sedangkan abawaini terdiri atas al-abu dan al-umm. Syahrur menegaskan korelasi di antara 2 term di atas, perempuan disebut sebagai al-waalidah (pemilik indung telur) ketika telah melalui fase pembuahan. Setelah pembuahan berhasil, akan terjadi kehamilan hingga melahirkan. Saat setelah itulah, al-waalidah dapat disebut dengan al-umm yang memiliki makna pemeliharaan serta tarbiyah atau pendidikan. Begitu pula dengan laki-laki, laki-laki disebut sebagai al-waalid karena perannya sebagai penyumbang sel sperma. Al-waalid dapat disebut sebagai al-abu apabila ayah memiliki peran dalam penjagaan, pemeliharaan, pemenuhan kebutuhan (nafkah) terhadap anak dan istri saat masa kehamilan.

Kesimpulan

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasanya kedua orang tua yaitu ibu dan ayah itu harus bekerjasama. Tidak ada yang superior maupun inferior untuk bisa membangun keluarga yang harmonis. Banyak ayat juga yang telah menjelaskan mengenai hal ini, misalnya pada QS. Al-Hujurat ayat 13, surat ini menjelaskan mengenai tujuan penciptakan laki-laki dan perempuan oleh Allah adalah untuk saling mengenal, lalu pada surat lain Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwasanya Allah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan agar diantaranya ada rasa tentram dan kasih sayang.

Peran ayah dan ibu dalam pengasuhan anak dalam Al-Qur’an memang disebutkan berbeda dalam rumah tangga. Misalnya ibu yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai orang yang memiliki peran dalam mengandung, melahirkan, menyusui, hingga mendidik anak. Ayah yang memiliki peran utama dalam pemenuhan kebutuhan anak dan istrinya, baik kebutuhan fisik seperti harta, dan kebutuhan non fisik seperti ilmu, kenyamanan, dan lain-lain. Perbedaan di antara keduanya ini bukan tidak berkaitan. Justru, perbedaan di antara keduanya menimbulkan sikap saling melengkapi dan saling kerja sama satu sama lain. Berdasarkan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, maka dapat kita telisik adanya hubungan saling membutuhkan dan timbal balik atau resiprositas antara laki-laki dan perempuan dalam konteks keluarga yaitu ibu dan ayah. 

Editor: An-Najmi