Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Resensi Buku: Terorisme dan Paham Agama yang Sempit

teroris
Sumber: https://suaramuhammadiyah.id/

Memperhatikan realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tampaknya radikalisme dan terorisme masih menjadi ‘momok’ yang kian menakutkan. Pada tanggal 28 maret 2021 lalu, tepatnya pukul 10.28 Wita menjelang perayaan paskah, masyarakat kembali dikejutkan dengan bombunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar. Ini merupakan kejahatan yang sangat keji yang kembali dilakukan oleh orang-orang dengan pemahaman agama yang sempit.

Menurut Donald Holbrook (2010) dalam“Using the Qur’an to Justify Terrorist Violence” Perspectives on Terrorism bahwa teroris Islam membenarkan segala tindakan terorisme dan kekerasan berdasarkan visi politik utopis yang menginginkan persatuan negara-negara Islam di bawah naungan hukum syariah dan demi mewujudkan kembali zaman keemasan Islam. Pemahaman ini dikombinasikan dengan penafsiran fundamentalis (non-tradisional) dari konsep jihadmati syahid, dan konsep agama lainnya yang berasal dari Quran dan Hadits. Tentu hal ini terjadi akibat dari pemahaman agama yang salah, sempit dan dianggap sebagai kepercayaan yang paling benar dalam beragama.

Pergeseran dalam Keberagamaan

Buku yang ditulis oleh Ahmad Najib Burhani yang berjudul “Heresy and Politics How Indonesian Islam Deals With Extremism, Pluralism, and Populism” telah membuka kesadaran kita– khususnya umat Islam di Indonesia yang mengalami pergeseran dalam keberagamaan – untuk membuka kembali pemahaman terhadap agama yang cenderung jauh dari nilai-nilai raḥmatan lil’ālāmīn.

Dalam bukunya, penulis membagi perkembangan Islam di Indonesia dalam tiga dekade terakhir. Pertama, pada era tahun 1990 digambarkan sebagai “Islam Turn” yang ditandai dengan perpindahan beberapa kaum santri ke dalam pemerintahan. Kedua, di era 2000-an sebagai “Conservative Turn” di mana pertumbuhan radikalisme dan terorisme sebagai indikator yang paling jelas. Sedangkan yang ketiga, pada tahun 2010 yang disebut “demokrasi yang taat atau tidak liberal”. Pada dekade ini, sejumlah kaum Islamis menjauhkan diri dari kekerasan dan terorisme, mengalihkan gerakan mereka menjadi lebih demokratis dan ‘Pancasilais’ serta mengubah wajah konservatisme menjadi wajah yang lebih familiar dengan realitas masyarakat kebanyakan.

Baca Juga  Menemukan Tjokro di Era Kiwari

Buku yang ditulis oleh peneliti senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) ini membahas dinamika antara agama dan realitas sosial-politik. Penggunaan istilah“Heresy” di sini mengacu pada hasil dari keterlibatan itu dalam empat tingkatan. Pertama, pengadopsian narasi, istilah-istilah dan jargon keagamaan dalam persaingan politik. Kedua, keterlibatan politik dalam kampanye “antibidah” yang menyatakan mereka yang memiliki pandangan agama  berbeda sebagai orang murtad atau “sesat dan menyesatkan” (menyimpang dan disesatkan). Ketiga, komodifikasi dan politisasi ritual keagamaan untuk keuntungan ekonomi dan politik. Keempat, kampanye khilafah, politik yang berorientasi pada syariah dan penyebaran radikalisme agama dan terorisme. Fenomene ini dapat dilihat sebagai “bid’ah baru” yang hanya dapat ditemukan pada zaman modern sebagai hasil dari ikatan antara agama dan politik.

Buku Heresy and Politics

Buku “Heresy and Politics How Indonesian Islam Deals With Extremism, Pluralism, and Populism” memiliki tujuh bab yang membahas isu-isu keagamaan di Indonesia. Pada bagian awal buku ini penulis mencoba menjelaskan mengenai politik identitas. Politik identitas dapat dilihat dalam pemilihan kepala daerah dan presiden. Gejolak ini mulai terihat manakala tuduhan terhadap calon pemimpin yang dianggap tidak religius, komunis dan anti Islam. Hal-hal semacam ini merupakan strategi politik yang digunakan untuk menjatuhkan lawan dan meraih kekuasaan. Tak hanya melalui tuduhan, fatwa ’ulama juga berperan dalam kancah perpolitikan. Politik identitas begitu masif dilancarkan melalui aksi-aksi keagamaan yang dikenal dengan istilah “Aksi Bela Islam dan Aksi Bela Tauhid”.

Bagian kedua penulis menjelaskan keterlibatan ormas keagamaan Islam dalam politik praktis. Di bagian ini juga penulis menjelaskan keterlibatan tokoh agama dalam pemilihan umum yang menjadi pasangan politik. Bagian ketiga menjelaskan tentang Ahmadiyah dan Islam ortodox. Penulis mencoba menyadarkan kepada umat Islam Indonesia yang cenderung membenci Ahmadiyah untuk tidak mempersekusi dan menindas. Ketidakselarasan pemahaman tentang Islam dalam konteks keindonesiaan penulis mengajak kita untuk menerima, memaklumi dan memaafkan. Bukan kepada ajaran Ahmadiyyah, namun sebagai warga negara yang harus menjaga kerukunan dan menjalin hidup harmonis sesama warga bangsa.

Baca Juga  Tafsir Al-Furqan; Tafsir Indonesia Karya Ahmad Hassan

Perkembangan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Bagian selanjutnya penulis menguraikan perkembangan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Penulis juga menjelaskan terorisme global dan lokal dan bagaimana hubungan Abu Jandal dan genealogi Islam radikal serta memahami sosiologi agama terorisme. Selanjutnya di bagian akhir penulis memaparkan Islam Indonesia antara ideologi,ritual dan sosial praktis. Di sini penulis menjelaskan fenomena Hijab di Indonesia dari penindasan sampai ke gaya hidup hingga menjadi trend fashion. Kemudian perkembangan antara ibadah ritual Islam dan realitas. Penulis juga memaparkan kepentingan Ideologis dalam mentafsirkan al-Qur’an. Dalam penafsiran al-Qur’an terkadang cenderung dijadikan sebagai alat untuk melegitimasi ideologi tertentu.

Apabila ditarik kesimpulan dari setiap bagian yang ada di buku ini penulis telah mengamati perkembangan Islam di Indonesia. Perkembangan Islam di Indonesia dalam tiga dekade terakhir telah mengalami pergeseran. Dan apabila menyoroti pada bagian radikalisme dan terorisme di mana terdapat kisah Abu Jandal dan Abu Bashir pada awal perjanjian Hudaibiyah, disitulah akar dan latar belakang dari kelompok fundamentalis yang membolehkan dakwah menggunakan jalan kekerasan.

Dengan adanya buku yang mencerahkan karya Ahmad Najib Burhani ini pembaca diajak untuk membuka kembali pemahaman keagamaan yang cenderung konservatif dan keliru. Membacanya akan menggugah kesadaran kita bahwa dalam beragama harus memiliki pandangan yang luas sehingga tidak terjebak dalam kubangan lumpur yang akan menenggelamkan diri sendiri. wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

Editor: An-Najmi Fikri R