Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Relevansi Filsafat Bahasa dalam Memahami Al-Qur’an

Sumber: https://www.performancephilosophy.org/

Bahasa merupakan sarana komunikasi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Akan tetapi, sering kali muncul berbagai persoalan mengenai bahasa dan dicari jawaban atasnya. Mulai dari pertanyaan apa itu bahasa? dari mana asal bahasa itu? Sehingga muncul berbagai jawaban dan teori-teori untuk menjawabnya. Akan tetapi, semua jawaban yang didapatkan belum tentu memuaskan.

Bahasa senantiasa hadir dalam diri manusia, karena itulah karunia Tuhan Maha Segalanya dan dihadirkan dengan berbagai ucapan, tanda dan isyarat. Tuhan sendiri menampakkan diri pada manusia bukan melalui Zat-Nya, melainkan dengan bahasa-Nya, yaitu bahasa alam dan kitab suci.

Dalam memahami isi dari apa yang terkandung ayat-ayat Al-Qur’an, berbagai kitab-kitab tafsir yang telah ada dari yang klasik hingga kontemporer. Dalam menafsirkan sebuah makna dari ayat-Nya, sebagian para mufasir menggunakan filsafat bahasa. Maka hal ini, filsafat bahasa memiliki peran besar dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Pengertian Filsafat Bahasa

Jika dilihat dari ilmu asal-usul kata atau etimologi, istilah filsafat diambil dari kata falsafah yang berasal dari bahasa Arab. Istilah ini diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu dari kata Philosophia. Kata ini terdiri dari kata philein yang berarti cinta (Love), dan sophia yang berarti kebijaksanaan (Wisdom).  Dengan demikian, secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksaan. Artinya seorang yang sangat cinta kebijaksanaan secara mendalam, yang di ungkapkan dengan bertanya mengenai suatu hal.

Kecintaan manusia terhadap sesuatu menimbulkan berbagai pertanyaan atas ketidakpuasan jawaban yang didapatnya. Mempertanyakan tentang suatu realitas yang tidak hanya mengenai dunia yang konkret. Akan tetapi juga seluruh realitas yang sebagian orang menganggap itu tabu untuk dipertanyakan, seperti itulah Filsafat. Bukan hanya pertanyaan saja yang dilontarkan akan tetapi, diharapkan memunculkan sebuah jawaban yang memuaskan.

Baca Juga  Kelakuan Bani Isra'il dalam Al-Qur'an

Definisi Bahasa

Bahasa memiliki arti sebagai alat komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication. Berasal dari bahasa latin communicatio. Atau bersumber dari kata communis yang berarti “sama” yang artinya sama makna. Keterlibatan dua orang ketika berkomunikasi. Misalnya dalam sebuah percakapan mereka paham dengan apa yang mereka ucapkan.

Adapun bahasa didefinisikan sebagai sistem simbol-simbol bunyi arbriter yang terstruktur digunakan oleh seseorang atau suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi. Kata simbol berasal dari bahasa Yunani. Dari kata Symbolon yang artinya tanda mengenal, lencana atau semboyan. Jadi simbol memiliki arti sebagai sesuatu yang menyatakan sesuatu lain. Artinya bahwa sekeliling kita ini terdapat banyak sekali simbol. Simbol itu bisa dari alam, fikiran, manusia, wahyu, kehidupan, dan lain-lain.

Hubungan Filsafat dan Bahasa

Filsafat tersendiri adalah mempertanyakan dengan kritis dalam mencari jawaban tentang suatu realitas. Pertanyaan ini pada hakikatnya mencakup seluruh yang ada: alam semesta, manusia, agama, politik, budaya, seni, bahasa, dan lainnya. Mengenai sebuah pertanyaan tentunya membutuhkan bahasa dalam memahaminya. Maka dari itu, filsafat dan bahasa adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, yang mana bahasa memiliki fugsi sebagai alat komunikasi dalam memahami.

Perihal hubungan antara filsafat dengan bahasa. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Filsafat dalam analisis, merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para filosof dalam memecahkan problematika kebahasaan. Seperti persoalan hakikat bahasa itu sendiri, atau pertanyaan, dan ungkapan bahasa, yang dikategorikan sebagai bahasa bermakna dan tidak bermakna.
  2. Filsafat dalam aliran tertentu, pandangan mengenai suatu tealitas. Misalnya filsafat idealisme, rasionalisme, realisme, analitik, Neo-Positivisme, strukturalisme, posmodernisme, dan sebagainya. Aliran tersebut memunculkan berbagai teori-teori yang akan memberikan sebuah corak kebahasaan. Contohnya aliran linguistik dan ilmu sastra yang dikembangkan atas filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure.
  3. Filsafat yang berfungsi memberi arah agar teori kebahasaan yang telah dikembangkan oleh para ahli ilmu bahasa. Menurut pandangan dan aliran tertentu, memiliki relevansi dengan realita kehidupan umat manusia.
  4. Termasuk juga Filsafat Bahasa, yang mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori kebahasaan. Lalu menjadi ilmu bahasa (linguistik) atau ilmu sastra. Maka hal ini sangatlah bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebahasaan secara berkelanjutan.
Baca Juga  Wahyu; Eksternal atau Internal?

Berdasarkan uraian di atas hubungan antara filsafat dengan bahasa, memiliki fungsi yang sangat luas bagi perkembangan ilmu bahasa maupun bahasa itu sendiri.

Al-Qur’an, Tafsir dan Bahasa

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisi petunjuk dengan berbagai isyrat yang jelas. Baik secara tulisan dapat dipahami langsung maupun memiliki arti yang tersembunyi. Ayat-ayat yang termaktub terdiri dari berbagai huruf hijaiyyah yang tersusun menjadi sebuah simbol yaitu kata. Sehingga kata tersebut memiliki arti dan makna sesuai konteks yang dibahas. Maka, dalam memahami isi yang terkandung dalam Al-Qur’an terdapat berbagai kitab yang disebut dengan Tafsir Al-Qur’an.

Menurut Al-Zarkasyi, Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan mejelaskan makna-makna kitab yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Serta menyimpulkan kandungan hukum dan hikmanya.

Memahami Al-Qur’an para mufasir memiliki metode atau cara tersendiri sehingga membentuk corak atau bentuk penafsiran. Corak dalam bahasa Arab berasal dari kata alwān yang merupakan bentuk jamak dari kata launun yang berarti warna. Dalam lisān al-‘Arab, ibnu Manzur menyebutkan: “warna setiap sesuatu merupakan pembeda antara sesuatu dengan sesuatu yang lain”. Mengenai corak tafsir yang digunakan para mufassir, diantaranya: corak Fiqh, Ilmi, Falsafi, Tarbawi, I’tiqadi, Adabi Ijtima’i, Sufi, dan Lughah.

Relevansi Filsafat Bahasa dalam Memahami Al-Qur’an

Filsafat bahasa dalam memahami Al-Qur’an merupakan arti dari tafsir yang bercorak lughah, yang mana tafsir tersebut menjelaskan makna-makna Al-Qur’an dengan menggunakan kaedah-kaedah kebahasaan, meliputi semiotika, sematik, etimologis, morfologis, leksikal, gramatika dan reorikal. Beberapa tafsir Al-Qur’an dengan corak Lughah atau bahasa diantaranya:

  1. Kitab al-Tibyan fi I’rab al-Qur’an karya Abdullah bin Husain al-‘Akbary yang berfokus pada pembahsan i’rab (kedudukan).
  2. Tafsir al-Qur’an Karim karya Quraish Shihab mengkaji morpologi (semiotik dan sematik) membahas aspek makna kata, isytiqaq dan korelasi antarkata.
  3. Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar karya Burhanuddin al-Buqa’y membahas korelasi anatar ayat atau surat.
  4. Kitab al-Amtsal min al-Kitab wa al-Sunnah karya Abdullah Muhammad bin Ali al-Hakim al-Turmudzi membahas perumoamaan-perumpamaan dan majaz dalam Al-Qur’an.
  5. Buku Ma’an al-Qur’an karya Abd Rahim Fu’dah yang mengkaji makna-makna kosa kata Al’Qur’an atau ensiklopedi.
  6. Kitab Tafsir al-Bayani al-Qur’an karya Aisyah Abd Rahman bint al-Syathi’ menjelaskan lafal dari akar kata kemudian dikaitkan anatara satu makna dengan makna lain.
  7. Tafsir badi’ al-Qur’an yaitu tafsir yang cenderung mengkaji al-Qur’an dari aspek keindahan susunan dan gaya bahasanya.
Baca Juga  Tafsir Saintifik: Menelisik Fenomena Tidur Ashabul Kahfi

Maka, penulis menyimpulkan, dalam memahami Al-Qur’an filsafat bahasa memiliki peran yang besar didalamnya. Berdasarkan bukti dari kitab-kitab tafsir diatas hingga sekarang masih relevan dan sering digunakan umat manusia dalam memahami Al-Qur’an.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho