Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Relasi Filsafat, Agama, Seni, dan Sains

Abdul Muid

Tentu hal yang mustahil membahas secara utuh keempat hal di dalam judul itu dalam sebuah artikel sumir seperti ini. Namun dengan menentukan satu noktah pijakan untuk mengengah relasi keempatnya, maka diharapkan ada penjelasan di mana keempatnya bersua dan di mana keempatnya harus bersarak.

Pada dasarnya, pengetahuan adalah sesuatu harus yang berlambarkan bukti. Makanya, bukanlah pengetahuan jika sesuatu kita tahu karena seseorang memberitahukan sesuatu itu kepada kita, sedangkan kita sendiri tidak memiliki bukti bahwa pengetahuan tersebut benar adanya. Misalnya, kita tahu bahwa Abdul Karim ganteng, tetapi kita sendiri tidak pernah berjumpa dengan Abdul Karim atau bahkan tidak pernah melihat fotonya. Itu berarti pengetahuan kita tidak memiliki bukti dan karena itu, tidak layak disebut pengetahuan.

Bukan pula pengetahuan apabila kita mengetahui sesuatu tetapi kita tidak memahami sesuatu yang kita tahu itu. Misalnya, kita tahu atau yakin bahwa Tuhan itu Esa. Namun kita tidak tahu bagaimana Tuhan bisa Esa; Esa itu apa; dan bahkan kita tidak tahu Tuhan itu apa. Dengan demikian, pengetahuan dan keyakinan kita tentang Tuhan itu Esa bukanlah pengetahuan.

Dua Peran Filosof Bagi Peradaban

Kesadaran tentang pentingnya pengetahuan adalah revolusi bagi peradaban umat manusia. Kesadaran tersebut bukan hanya mengubah peradaban manusia tetapi juga menangkaskan lajunya. Dalam menanamkan kesadaran inilah, para filosof memiliki peran. Peran para filosof itu karena mereka melakukan dua trobosan besar: pertama, mereka berusaha memahami dunia dengan menggunakan rasio semata-mata, tanpa merujuk kepada agama, wahyu, otoritas, ataupun tradisi. Terobosan itu menjadi salah satu tonggak terpenting dalam peradaban manusia.

Kedua, mereka memahami bahwa manusia bisa menggunakan rasio sendiri dan berfikir sendiri hingga menemukan kebenarannya sendiri. Konsekuensinya, para filosof tidak mengharuskan orang lain atau bahkan murid-murid mereka sendiri untuk sepakat dengan mereka. Bagi para filosof, apa yang mereka sampaikan adalah benar, menurut mereka, tapi belum tentu benar menurut orang lain atau bahkan menurut murid-murid mereka. Bahkan guru bisa salah. Kebahagiaan para filosof adalah saat murid-murid mereka menemukan gagasan-gagasan mereka sendiri.

Baca Juga  Paradigma Thomas Kuhn dalam Transformasi Penafsiran Al-Qur’an

Kedua terobosan di atas, yaitu otoritas rasio sebagai alat pencari kebenaran dan otoritas individu sebagai pemasti kebenaran adalah dua hal yang saling terkait. Keduanya adalah fondasi bagi bangunan pemikiran rasional dan membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Filsafat, Agama, Seni dan Sains

Pada noktah perbedaan posisi otoritas rasio inilah muncul beda antara filsafat dengan agama dan seni. Meskipun filsafat, agama, dan seni memiliki kesamaan utama yaitu sama-sama berkomitmen mencari kebenaran, filsafat memegang teguh rasio, sedangkan agama menggunakannya hanya kadangkala. Dalam agama, iman, wahyu, ritual, dan ketaatan memainkan peran yang lebih besar.

Seni juga berkomitmen mencari kebenaran sebagaimana filsafat dan agama. Untuk itu, ketiganya berupaya untuk menembus balik jangat hingga ke kedalaman dan mengungkap di punggung yang tertentang. Jika filsafat mengandalkan rasio dalam hal ini, maka seni mengandalkan intuisi dan pengalaman langsung daripada argumen rasional.

Satu lagi yang memiliki kemiripan dengan filsafat karena sama-sama mencari kebenaran, yaitu sains. Sains juga mengandalkan penalaran dan argumen rasional, namun sains lebih mengutamakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat diputuskan melalui eksperimen atau pengamatan.

Tidak Bertentangan Satu Sama Lain

Filsafat, agama, seni, dan sains tidak bertentangan satu sama lain. Keempatnya hanya memiliki perbedaan dan persamaan, bukan pertentangan. Bahkan pesamaannya lebih banyak dari perbedaannya. Keempatnya adalah bentuk-bentuk yang berupaya memahami misteri eksistensi dunia dan eksistensi kita sebagai manusia. Keempatnya berupa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dunia dari masa ke masa, terus-menerus.

Pengetahuan dan pengalaman manusia harus senantiasa disingkap dan dijelaskan kepada publik hingga menjadi perbendaharaan bagi generasi-generasi selanjutnya agar mereka lebih memahami eksistensi mereka sendiri. Keempatnya saling memperkaya satu-sama lain.

Baca Juga  Mengenal Penafsiran Al-Qur'an yang Bernuansa Filosofis

Bahwa hanya filsafat yang bertarik urat untuk menggenggam otoritas rasio, itu benar. Namun manusia tidak hanya memiliki rasio. Manusia juga memiliki keyakinan, intuisi, dan juga pengalaman inderawi yang mustahil begitu saja dicampakkan. Pada diri manusia, keempat hal itu bercampur sedemikian rupa hingga seringkali tidak jelas lagi mana rasio, mana keyakinan, mana intuisi, dan mana pengalaman inderawi.[] 

Editor: An-Najmi Fikri

Abdul Muid Nawawi
Kaprodi Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut PTIQ Jakarta