Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Relasi Antara Manusia dan Alam Perspektif Al-Quran

Manusia alam
Sumber: istockphoto.com

Secara umum, manusia diciptakan oleh tuhan dengan dua peran, yang pertama sebagai ‘Abdun. Sebagai seorang ‘abdun tugas manusia tak lain dan tak bukan ialah beribadah kepada Allah semata. Namun bagaimana dengan peran manusia yang kedua? Manusia diciptakan Allah dengan karakteristik tersendiri sehingga membuatnya diperankan sebagai khalifah di muka bumi. Maka untuk memanifestasikan makna khalifah tersebut, tentu manusia membutuhkan sarana berupa alam semesta dengan segala isinya.

Artikel ini akan berusaha mencari dan menggali lebih dalam mengenai konsep manusia dan alam serta relasi diantara keduanya dalam pandangan al-Qur’an.

Konsep Manusia dalam Pandangan al-Qur’an

Menurut (Syati, 1999) istilah manusia dalam al-Qur’an disebutkan dengan menggunakan tiga term, yaitu basyar, ins, dan insan. Ketika al-Qur’an menggunakan kata basyar, maka yang tertuju ialah anak turun nabi Adam. Maka kalau kita perhatikan mengapa al-Qur’an menggunakan kata basyar kepada para Rasul dan Nabi-Nya, itu mengartikan bahwa Rasul dan Nabi juga merupakan manusia biasa seperti manusia-manusia yang lain.

Kemudian kata ins, dimaknai dengan tidak liar dan tidak biadab. Hal tersebut merupakan kebalikkan dari jin yang cenderung diartikan liar atau bebas. Dengan kata lain, bersamaan sifat kemanusiaan itu, jelas sekali manusia sangat berbeda dengan jenis makhluk lain.

Di samping itu, makna manusia yang dilontarkan oleh al-Qur’an dengan menggunakan term insan, bermakna ketinggian derajat manusia sehingga membuatnya spesial dan layak untuk dijadikan khalifah dan memikul amanat. Maka relevan dengan alasan Allah menjadikan manusia sebagai seorang khalifah pada Surah al-Baqarah ayat 30.

Karena manusia merupakan makhluk yang dirancang dengan segala kelebihannya, maka otomatis ia mempunyai potensi untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan begitu manusia tidak akan tergelincir ke dalam hal-hal yang buruk. Dengan catatan jika ia mampu dan mau mengoptimalkan dengan benar potensi yang dianugerahkan oleh Allah tersebut.

Baca Juga  Tafsir Al‐Jawahir: Mengurai Keajaiban Alam dalam Al-Qur'an (2)

Konsep Alam dalam Pandangan al-Qur’an

Biasanya kebanyakan orang memahami term ‘alam dalam al-Qur’an itu lebih bersifat universe atau alam semesta maupun jagad raya. Namun menurut buku yang berjudul Konsep Penciptaan Alam karangan Sirajuddin Zar, mengatakan bahwa penggunaan kata ‘alam dalam al-Qur’an untuk menunjukkan alam semesta dinilai kurang tepat.

Pasalnya, kata ‘alam yang digunakan oleh al-Qur’an itu merujuk kepada kumpulan-kumpulan makhluk tuhan yang berakal atau yang mendekati makhluk yang berakal. Maka untuk merujuk kepada alam semesta yang dimaksud, al-Qur’an justru selalu menggunakan kata al-samawat wa al-ardh wa ma bainahuma.

Selain itu, kata tersebut mengandung isyarat bahwa di dalamnya mencakup banyak alam. Ada yang berbeda bentuk, berbeda dimensi, dan hukum antara satu dengan yang lain. Disisi lain, dalam konsep penciptaan alam semesta, al-Qur’an menggunakan kata khalaqa, bada’a atau fathara. Namun setelah ditelusuri dari ketiga kata tersebut. Tidak dapat memberikan penjelasan yang tegas mengenai apakah alam semesta diciptakan dari sesuatu yang ada atau dari yang tidak ada. Jika penasaran mengenai hal tersebut, kalian bisa mencarinya melalui ilmu filsafat. Seperti dari pemikiran Ibnu Sina atau al-Farabi mengenai konsep emanasi.

Relasi Manusia dan Alam

Sebagai makhluk ciptaan yang paling sempurna, yang dibekali dengan akal dan perasaan. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifatullah atau pemimpin di muka bumi. Mengenai alasan mengapa Allah lebih memilih manusia ketimbang malaikat. Karena memang manusia mempunyai potensi yang lebih dibanding malaikat yang notabene selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Lantas timbul banyak pertanyaan, padahal malaikat itu selalu taat kepada Allah. Maka bukankah malaikat lebih layak untuk mendapatkan kepercayaan Allah dalam menjaga alam ini? Terkait pertanyaan umum yang sering terlontar dibenak kebanyakan orang tersebut, Fazlur Rahman sudah menjawabnya dengan mengatakan bahwa ketika malaikat diberikan suatu kompetisi epistimologis dengan meminta malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda dan menjelaskan karakteristiknya, ternyata malaikat tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berbeda dengan Adam yang bisa menjawabnya. Maka hal ini menunjukkan bahwa Manusia memiliki potensi yang lebih ketimbang malaikat dalam menjaga alam/bumi.

Baca Juga  Memahami Al-Qur'an Tidak Cukup dengan Terjemahan

Oleh karena itu, karena Allah mengetahui potensi manusia. Allah memberikan sebuah tanggung jawab kepada manusia sebagaimana yang termaktub dalam QS Al-Ahzab ayat 72:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”

Tanggung jawab atau amanat yang dimaksudkan pada ayat diatas itu memiliki makna yang sangat luas dalam artian tidak hanya mengenai praktik keagamaan melainkan juga mengenai sosial kemasyarakatan, maka menjaga alam atau melestarikan Alam juga termasuk kedalamnya.

Pendapat Toshihiko Izutsu tentang Manusia dan Alam

Di samping itu, menurut Toshihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul God, Man and Nature. Dengan perantara tanda-tanda alam, Allah memberikan kepedulian-Nya kepada manusia, baik itu berupa hujan, angin, pergantian siang dan malam dan sebagainya itu sebagai tanda yang menunjukkan keperhatian yang lebih dari Allah kepada manusia. Maka sudah seharusnya sebagai manusia kita memperhatikan dan merenungkan tanda-tanda alam tersebut untuk meningkatkan keimanan.

Ketika manusia sudah memperhatikan tanda-tanda alam tersebut sebagai bentuk kepedulian Allah kepada manusia. Maka hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta yang bersifat pasif reseptif ini, manusia akan menjaga alam tersebut dengan perlakuan yang positif dan afirmatif. Perilaku yang positif afirmatif inilah yang menjadi puncak dari bentuk ideal relasi manusia dan alam.

Namun meskipun begitu, tanpa lari dari kemunafikkan. Pembangunan infrastruktur di zaman sekarang memang sangat sulit untuk meniadakan aspek pengerusakan secara totalitas.Seberapa keras pun usaha manusia untuk membangun alam raya ini, mau tidak mau akan dihadapkan pada efek negatif terhadap alam itu sendiri. Ini berarti bahwa relasi negatif yang muncul antara manusia dan alam tidak dapat untuk dihindarkan.

Baca Juga  Mikrobiologi dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains Modern

Tentu hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk membiarkan ekses negatif tersebut semakin tak terkendali. Karena setidaknya manusia bisa berusaha untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi, sehingga selain pembangunan yang teraktualisasi juga memberikan makna tersendiri bahwa kekhalifahan manusia ini tidak menimbulkan dampak buruk yang besar, dalam artian hasil pembangunan manusia lebih banyak manfaatnya ketimbang dampak negatifnya.

Penyunting: Bukhari