Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Refleksi Isra Miraj 1442 H: Dasein dan Puncak Perjalanan Manusia

Puncak
Sumber: ibtimes.id

“Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan, dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu, untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan.” (QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 40-41)

***

Akhir-akhir ini saya lebih banyak membaca tentang hal-hal yang bertemu (sinkretik). Misalnya soal pertemuan Islam dan Komunisme di Surakarta di awal abad 20; juga pertemuan konsep al-Mahdi dalam Sunni dan Syiah; dan yang paling terpenting bagi saya adalah pertemuan antara perjalanan Dasein (manusia yang mengada dan mewaktu) Martin Heidegger dengan teori mengingat kembali oleh Plato dengan teori menuju puncak ala Mulla Sadra (Shadruddin al-Shirazi).

Sinkretisme Islam dan Komunisme di tangan Haji Misbach, tokoh SI Merah Surakarta, adalah pertemuan yang tiba-tiba, temporal, dan karena adanya kesamaan yang prinsip: memusuhi kapitalisme-kolonialisme yang menindas rakyat, yang notabene adalah mayoritas beragama Islam. Meminjam istilah Dawam Rahardjo, “Islam dan Marxisme ketemu di tengah jalan, dan suatu saat akan berpisah.”

Pertemuan Sunni dan Syiah tentang konsep al-Mahdi, yaitu adanya kesamaan penerimaan terhadap hadis-hadis mahdawiyah (tentang kehadiran imam akhir zaman). Hanya saja keduanya memiliki pandangan khas masing-masing mengenai cara kehadiran sosok Imam Mahdi di akhir zaman. Syiah meyakini Imam Mahdi muncul dari kegaibannya, Sunni menyakini Imam Mahdi muncul dari kelahirannya. Tetapi cirinya sama, ia adalah keturunan Nabi (ahlul bait) dan namanya sama dengan Nabi (Muhammad).

Namun, pertemuan antara Heidegger, Plato, dan Mulla Sadra lebih menarik. Karena, selain berasal dari tiga zaman yang berbeda, agama yang berbeda, juga berasal dari tradisi yang berbeda.

Antara Plato, Heidegger dan Mulla Sadra

Plato (427 – 347) berasal dari Yunani pertengahan yang tradisi berpikirnya masih naturalsentris. Kesimpulan-kesimpulan dan pemaknaan-pemaknaan hidup dilakukan dengan menjadikan alam semesta sebagai objeknya. Kehadiran alam diterjemahkan sebagai simbolisasi kehidupan, harmoni alam mengharuskan harmoni kehidupan manusia, kehendak alam mengharuskan pengertian manusia.

Baca Juga  Al-Zamakhsyari: Antara Tafsir al-Kasyaf dan Paham Muktazilah

Sebelum segalanya memiliki bentuk di dunia ini, realita yang disaksikan hari ini berasal dari satu alam yang tinggi yang disebutnya sebagai “alam ide”. Manusia dalam bayangan Plato adalah makhluk yang sudah ada sebelum ia berbentuk materi. Manusia menjadi makhluk materi mengalami proses lupa, dan hidup di dunia dalam rangka mengingat kembali. Mengumpulkan serpih-serpih ingatan menjadi utuh kembali. Puncaknya manusia mati, pulang ke alam ide dan menjadi sempurna kembali.

Heidegger (1889 – 1976), berasal dari Eropa modern, karenanya pandangannya tak lagi naturalsentris melainkan antroposentris. Heidegger memiliki pandangan yang hampir mirip dengan Plato. Hanya saja Heidegger menafikan alam pra-kehadiran manusia. Manusia hadir begitu saja, berada di sana (das sein). Ia kemudian mengalami keterlemparan melalui proses fenomenologi. Benda-benda lain juga sama hadirnya dengan dirinya, dan semuanya tampak asing. Di situ manusia merasa mengalami keterlemparan.

Cara manusia berada adalah dengan verstehen (memahami). Tetapi kehadirannya bukan sebagai makhluk tetap yang bisa disimpulkan pada saat itu juga. Manusia itu mewaktu, verstehen mengantarkannya naik setahap demi setahap. Memahami adalah cara manusia berada, demikian Heidegger.

Manusia memukimi ruang hidup, terkadang tenggelam dalam–meminjam istilah F. Budi Hardiman–“kolam keseharian”. Kematian menjadi cambuk bagi manusia untuk segera menyadari kehadirannya, bangun dari kolam keseharian yang menenggelamkannya. Manusia sendiri berada untuk mati. Dan setelah mati, ia memukimi dunia ingatan orang-orang.

Heidegger di sini hendak menginformasikan kepada kita, bahwa betapapun manusia dalam pandangannya hanya berakhir di dunia, tetapi kematian adalah puncak dunia yang lebih sempurna ketimbang kelahiran, di mana manusia hadir dengan memerlukan verstehen agar tetap berada di dunia. Hidupnya hadir dan mewaktu.

Puncak Perjalanan Manusia

Mulla Sadra (1572-1640) berasal dari tradisi filsafat Islam mutakhir–yaitu tradisi filsafat iluminasi al-Isyraqi, melampaui tradisi filsafat paripatetik Ibnu Sina hingga Ibnu Rusyd. Soal kehadiran manusia di muka bumi, pandangannya lebih lengkap. Ia memperkenalkan teori menuju kesempurnaan dengan empat tahapan perjalanan spiritual.

Baca Juga  Bagaimana Menafsirkan Al-Qur'an dengan Pendekatan Semiotika?

Pertama, dari makhluk menuju Tuhan. Pada tahap ini manusia beranjak meninggalkan keterikatan-keterikatannya pada materi, dan mengenal Tuhan. Mempelajari dan mengamalkan agama, pengetahuan, dan apa saja yang mengantarkannya pada Tuhan adalah jalan spiritual tahap pertama. Jadi tidak sekadar verstehen semata.

Kedua, perjalanan dengan Tuhan di dalam Tuhan. Manusia awam belum sampai pada tahap ini. Yaitu tahap di mana setelah manusia mengenal Tuhan, ia tenggelam di dalamnya, menyempurnakan diri dalam sifat-sifat-Nya. Ia bukan lagi sekadar mengenal, melainkan telah berusaha mewarisi sifat-sifat-Nya.

Ketiga, perjalanan bersama Tuhan menuju makhluk. Setelah mewarisi sifat-sifat-Nya, manusia melihat kepada makhluk, dan menyaksikan bahwa di dalam makhluk terdapat manifestasi ketuhanan.

Keempat, perjalanan dalam makhluk bersama Tuhan. Pada tahap ini manusia berusaha membimbing masyarakat untuk melakukan perjalanan menuju Tuhan, agar masyarakat melakukan perjalanan sebagaimana yang ditempuh oleh si penempuh perjalanan.

Mengapa ujung-ujungnya harus kembali ke makhluk, atau lebih spesifik ke tengah masyarakat? Mari kita perhatikan bagaimana akhir dari kisah perjalanan Nabi Muhammad saw ketika melakukan Isra’ dan Miraj.

Kembali Pada Masyarakat

Dalam ilmu tasawuf, puncak kebahagiaan tertinggi seorang hamba adalah ketika ia bertemu dengan Tuhannya. Kebahagiaan itu mengalahkan segala kenikmatan yang didapatkan di surga. Nabi Muhammad ketika di Sidratul Muntaha ia berjumpa dengan Allah. Kita mungkin jarang ada yang membayangkan bahwa pertemuan langsung dengan Allah adalah kenikmatan tertinggi yang dialami oleh Nabi.

Tetapi ia bukannya terbuai oleh kebahagiaan yang manusia manapun belum pernah merasakannya, ia malah meminta agar bisa kembali kepada umatnya. Kembalinya Nabi ke tengah-tengah masyarakatnya adalah manifestasi perjalanan spiritual tertinggi dalam kehidupan umat manusia.

Nabi Muhammad datang dari menghadap Tuhan, semakin membawa nilai-nilai ketuhanan untuk membimbing umat. Ia tak lagi berhitung-hitung tentang keuntungan bagi dirinya. Kehendaknya, perkataannya, dan perbuatannya sebagaimana digambarkan dalam Q.S. an-Najm (53) ayat 3-4, ” … dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Baca Juga  Tafsir Sufistik: Pesan Tersirat di Hari Raya Idul Adha

Namun sesungguhnya, perjalanan spiritual kembali ke tengah-tengah masyarakat bukanlah akhir dari segalanya. Sebab bergelut di tengah masyarakat tak lepas dari jalan lain yang berhadap-hadapan dengan jalan spiritual. Yakni jalan materialisme. Akan terjadi gesekan bahkan pertentangan ideologi, perebutan pengaruh dan lain sebagainya. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah.

Puncak para penempuh jalan materialisme akan jatuh pada dua kemungkinan, kalau bukan menjadi kaum kapitalisme dengan segala hasrat kepemilikan pribadi yang dimilikinya, mereka akan menjadi kaum sosialis diktator, yang menjunjung kesetaraan lewat aksi-aksi kekerasan. Motif tindakan kedua golongan itu sama, yakni materi sebagai hal utama yang harus dikejar. Puncak hidup ini tidak lain adalah kebutuhan materi semata.

Mengalahkan Materialisme

Walaupun dalam pandangan Islam kehidupan yang penuh spiritualitas adalah yang paling diridhai Allah, tetapi alam yang kita tempati ini adalah kehidupan materi yang tak lepas dari hukum besinya. Maka dari itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.”

Sebaliknya, kebenaran yang dibawa oleh kaum penempuh perjalanan spiritual, apabila terorganisir dengan rapi, maka akan mengalahkan kaum materialisme yang kini merajai bumi. Hal itu kita yakini diperkuat oleh Q.S. Al-Maarij (70) ayat 40 – 41:

“Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan, dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu, untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan.”

Penyunting: M. Bukhari Muslim