Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Refleksi Hari Pahlawan: Implementasi Altruisme dalam Al-Qur’an

Pahlawan
Gambar: https://human-initiative.org/

Pada tanggal 10 November pemerintah telah menetapkan peringatan sebagai “Hari Pahlawan”. Penetapan tersebut salah satu tujuannya adalah sebagai bentuk mengenang jasa pahlawan yang telah gugur di medan perang. Terlebih dalam peristiwa historis pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945. Bentuk sikap kepahlawanan merupakan suatu perilaku pro sosial dan bukan bagian dari ekslusif. Tentu tindakan seorang pahlawan dapat mengontrol dirinya terutama dalam menerobos sifat egois.

Ruang Lingkup Pahlawanan

Secara eksplisit pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Lebih jelasnya, momok urgent yang dimiliki karakter seorang pahlawan adalah peduli dan tidak egois. Bentuk kepeduliaan tersebut merupakan  rangkaian struktural dari istilah pengorbanan. Sehingga implikasinya menunjukkan adanya sebuah kontribusi dan menginspirasi kepada orang lain.

Penjelasan karakter seorang pahlawan diatas sama halnya dengan sikap altruisme. Karena sikap tersebut mengidentifikasikan mode kemurahan hati yang lebih mempersembahkan kehidupannya untuk orang lain. Karakter demikian, jelas menjadikan hidup untuk kebaikan. Hal ini tentunya altruisme berkebalikan dengan egoisme yang merupakan kunci dari karakter heroisme. Lalu bagaimana altruisme dalam al-Qur’an? Apakah al-Qur’an menyinggungnya?

Altruisme lebih identik kepada tindakan yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain dengan cara sukarela yang mempunyai intensi untuk menolong tanpa pamrih. Dalam al-Qur’an yang berdekatan dengan altruisme adalah kata “al-itsar”. Al-Itsar berarti memprioritaskan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Sedangkan kata “itsar” dalam al-Qur’an hanya disebutkan satu kali yang terdapat pada QS. Al-Hasyr [59]:9 :

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩

Artinya : “Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al-Hasyr [59]:9).

Penafsiran QS.Al-Hasyr [59]:9 dan Sikap Pahlawan

Itsar adalah tindakan yang ditujukan untuk meraih ridha Allah SWT. Sebagaimana ayat di atas, bahwa itsar sendiri telah dipraktikkan sejak periode awal Islam oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Mufasir abad modern Hasby Ash-shiddieqy dalam Tafsir An-Nur menjelaskan bahwa orang-orang Anshar penduduk Madinah merupakan kaum yang sudah beriman dengan tulus sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Bahkan kaum Anshar mencintai dan menerima para muslim pendatang.

Baca Juga  Ibu, Maafkan Anakmu Telah Lalai: Refleksi QS. Luqman 14

Tidak ada rasa iri diantara mereka. Hal ini dapat dilihat saat Rasulullah SAW memberikan seluruh harta rampasan perang dari Bani Nadhir untuk kaum pendatang (Muhajirin) dan pada saat itu sahabat Anshar tidak memperoleh apapun, karena lebih mengutamakan kaum yang berhijrah.

Senada disusul perspektif mufasir kontemporer Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbahnya bahwa QS.Al-Hasyar [59]:9 merupakan ayat yang mengandung pujian untuk kaum Anshar. Bentuk kecintaan mereka terhadap kaum Muhajirin sangatlah besar. Tidak ada terbesit kaum Anshar untuk memperoleh keinginan apa yang diberikan Rasulullah SAW kepada para Muhajirin sekalipun kaum Anshar memiliki keperluan yang mendesak. Bahkan HAMKA menyebutkan dalam Tafsir Al-Azhar bahwa kaum Anshar adalah kaum pembela dan penolong Rasulullah SAW maupun kaum yang menerima sekelompok Muhajirin walaupun dalam keadaan miskin.

Pemaparan diatas, sejarah telah menginformasikan tindakan yang dilakukan kaum Anshar kepada kaum Muhajirin adalah sebagai teladan yang baik untuk diaplikasikan. QS.Al-Hasyr ayat 9 secara implisit telah merekam jejak perbuatan Rasulullah SAW maupun sahabat sebagai bentuk anjuran berbuat baik dan menghadirkan rasa kepedulian. Orientasinya akan menghadirkan kesejahteraan maupun kedamaian terhadap sesama.

Kesimpulan

Penyebutan kata itsar dalam al-Qur’an yang terdapat pada QS.Al-Hasyr [59]:9 mempunyai persamaan dengan sikap antuisme yang tergolong dari karakter sikap pahlawan. Semuanya memberikan tendensi untuk berbuat baik dan merendahkan egoisme dalam diri. Bentuk solidaritas sosial yang tinggi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, karena bagaimanapun juga memperdulikan orang lain adalah bentuk dari seorang pahlawan yang dapat berkontribusi dengan baik. Semoga refleksi di Hari Pahlawan dapat menyadarkan semua untuk selalu mempunyai sisi baik kepada orang lain dan meningkatnya kepekaan untuk saling tolong menolong. Wallahu A’lam Bishowab

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Sosok Ibu Sekaligus Ulama Indonesia