Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Rahasia Huruf “Nun” di Dalam Surah Al-Qalam

huruf nun
Sumber: https://www.dictio.id

Perbedaan dalam penafsiran suatu huruf atau ayat dalam al-Qur’an merupakan hal yang wajar dalam sebuah kajian tafsir. Hal ini terjadi karena perbedaan pendapat dari setiap mufasir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an. Tentu tidak bisa dikatakan salah atau benar secara sepihak. Karena setiap mufasir tentunya telah melakukan ijtihad terlebih dahulu dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, tidak serta merta menafsirkan saja.

Huruf Nun yang dimaksud pada judul di atas ialah huruf Nun yang menjadi pembuka awal surah al-Qalam. Surah yang merupakan surah ke 68 dalam al-Qur’an. Sebelum mendalami makna huruf Nun tersebut, mari kita bahas nun dari perspektif ulumul qur’an.

Memahami Huruf Muqatha’ah

Secara umum huruf nun dikenal dengan huruf muqatha’ah. Huruf-huruf yang yang menjadi pembuka sebuah surah. Mereka hanya ada 29 surah dalam al-Qur’an yang diawali dengan huruf muqatha’ah. Dalam ulumul qur’an, huruf nun termasuk kategori ayat mutasyabihat dimana hanya Allah yang mengetahui pasti maknanya.

Namun, dalam kajian tafsir dapat ditemukan dalam beberapa kitab tafsir yang membahas makna dari huruf nun. Seperti halnya dalam kitab al-Kashf wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an karya; Abi Ishaq Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ibrahim al-Tha‘labi atau yang sering disebut dengan Imam al-Tha’labi.

***

Dalam kitab tafsirnya, al-Tha’labi banyak mencantumkan penafsiran melalui riwayat-riwayat yang tidak jelas atau lemah perawinya. Seringkali ia menafsirkan suatu ayat dengan berdasarkan kisah israilliyat. Sebagaimana ia menafsirkan makna huruf Nun dalam surah al-Qalam tersebut, yang juga menggunakan beberapa riwayat, seperti:

Riwayat dari imam Mujahid, imam Muqatil, Murrah al-Mahdani, Atha’ al-Khurasani, al-Suddi, dan al-Kalabi: Nun adalah ikan paus atau ikan besar yang membawa bumi.”

Baca Juga  Bukti Ilmiah Fenomena Api Pada Dasar Air Laut dalam Al-Qur’an

“Riwayat dari abi dzabyan, dari ibnu abbas ra, berkata: bahwasanya Allah SWT pada mulanya menciptakan pena pertama kali. Kemudian Allah mengambil uap air dan menciptakan langit dari uap air tersebut. Lalu dia (Allah) menciptakan “Nun” dan meletakkan bumi di atas punggung “Nun” tersebut. Kemudian “Nun” bergerak dan bumi tersebut menjadi padat. Bumi dikuatkan dengan adanya gunu-gunung yang menjulang di atasnya, lalu ibnu Abbas membaca: “ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ”.

***

Namun riwayat di atas tercatat sebagai riwayat yang lemah dalam segi periwayatannya. Sebab perawinya yang tidak dhabit; seperti abi Dzabyan, al-Suddi dan al-Kalabi. Selaras dengan kritik yang diungkapkan oleh Jalaluddin al-Suyuthi. Ia mengkritik jalur riwayat dari Ibnu Abbas bahwa; “jalur riwayat Ibnu Abbas yang paling jelek adalah jalur al-Kalbi dari Abi Salih dari Ibnu Abbas dan jika digabung dengan jalur Muhammad bin Marwan al-Sudiy al-Sagir, itu dianggap sebagai jalur dusta.”

Selain itu, disebutkan juga dalam kitab tafsir al Kasyaf karya Abul Qasim Mahmud Umar al-Zamakhsari. Beliau menyebutkan bahwa huruf “ن” merupakan satu dari huruf-huruf yang muncul pada awal surah dalam al-Quran, seperti surah al-Baqarah. Beberapa pendapat berbeda tentang makna “ن” ini. Pendapat pertama mengatakan nun itu “الحوت” (al-hut). Adapun kedua menyebut nun itu “الدواة” (ad-dawa). Sementara ketiga menyebut nun “المداد” (al-midad), atau ada yang menyebutnya “نون الرحمن” (Nun Ar-Rahman). Ada juga pandangan bahwa itu mungkin merujuk pada “النفس” (an-nafs), namun semua pendapat ini tidak memiliki dukungan yang jelas dalam Al-Quran.

Terakhir, pendapat dalam kitab al-Tafsir al-Wasit li al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Sayyid Tantawi. Beliau menyebutkan dua pandangan dalam penafsiran huruf Nun. Pandangan pertama mengatakan bahwa huruf Nun merupakan huruf muqatha’ah. Dimana hanya Allah yang mengetahui pasti maknanya. Pendapat pertama ini juga dikuatkan oleh sejumlah ulama seperti; Ibnu Abbas (dalam beberapa riwayat), Sa’id bin Jubair, Sufyan ats-Tsauri, dan banyak ulama lainnya.

Baca Juga  Hewan dalam al-Qur’an: Membaca Kisah Nabi Yunus dan Ikan Paus
***

Pendapat kedua, yang dipegang oleh beberapa ulama; mengatakan bahwa makna dari huruf-huruf muqatha’ah ini adalah diketahui dan bukan merupakan bagian dari ayat-ayat yang ambigu atau tersembunyi. Ini berarti bahwa huruf-huruf tersebut memiliki makna yang dapat dipahami; meskipun mereka mungkin tidak dimengerti sepenuhnya oleh semua orang.

Dari beberapa riwayat diatas dapat ditemukan banyaknya pendapat yang menyebutkan makna dari huruf Nun dalam surah al-QalaM. Di antara perbedaan pendapat yang telah disebutkan diatas, tentu telah melalui beberapa ijtihad para mufasir. Meskipun terdapat penafsiran yang tercatat sebagai riwayat yang lemah dalam segi periwayatannya. Tentu tidak bisa dikatakan secara mutlak bahwa penafsiran yang lemah tersebut adalah penafsiran yang salah. Karena setiap mufasir pasti memiliki karakternya tersendiri dalam menafsirkan ayat al-Qur’an.