Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ragam Dimensi Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Sempurna

Sumber: https://www.freevector.com/al-quran-30310

Memahami Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk yang sempurna bagi manusia secara keseluruhan, berkonsekuensi pada keharusan adanya keluasan dimensi Al-Qur’an. Mengapa demikian? Karena, sebuah petunjuk dikatakan sempurna jika mampu dipahami oleh setiap subjek yang diberi petunjuk. Selain itu, petunjuk itu harus menyasar seluruh instrumen yang dimiliki subjek. Tema ini menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena akan membuktikan kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk sempurna bagi seluruh manusia atau tidak sama sekali.

Al-Qur’an Petunjuk Yang Sempurna

Berangkat dari pemahaman apa itu “petunjuk yang sempurna”, dan Al-Qur’an adalah petunjuk yang sempurna. Hal ini melahirkan konsep bahwa Al-Qur’an pasti memiliki beragam dimensi yang bisa dijangkau setiap manusia -tentu dalam batas kemampuan masing-masing-, serta harus menyasar seluruh potensi dan daya manusia; daya indra, daya khayal, daya rasa maupun daya akal.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengandung nilai-nilai yang universal. Artinya, nilai itu tidak lekang oleh waktu dan zaman. Hal inilah yang menjadikan Al-Qur’an senantiasa relevan sampai kapan pun. Spirit ini juga yang menjadi kesempurnaan Al-Qur’an. Namun, seorang pembaca Al-Qur’an harus mampu memahami teks dan konteks. Agar nilai-nilai universal dapat ditarik dan diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan.

Yang menarik, Al-Qur’an merupakan sandingan utama dari Nabi Muhammad. Nabi Muhammad dan Al-Qur’an adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan. Keduanya adalah cahaya petunjuk yang sempurna bagi umat manusia. Dengan demikian, Allah merupakan sumber dari kedua cahaya petunjuk tersebut.

Bisa disimpulkan, bahwa Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an yang hidup. Adapun Al-Qur’an adalah Nabi Muhammad yang terfirmankan. Jika Al-Qur’an adalah modul kehidupan, maka Nabi Muhammad adalah modelnya. Modul akan sempurna jika ada model hidup yang menjadi manifestasi dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Baca Juga  Ikhwan al-Shafa’ dan Upaya Rekonsiliasi Agama dan Filsafat

Dua Dimensi Al-Qur’an

Secara umum, ada dua dimensi Alquran. Pertama, dimensi umum yang mampu dijangkau oleh semua kalangan manusia, tanpa terkecuali. Boleh jadi dimensi ini adalah dimensi lahiriah, permukaan dari ayat-ayat Alquran (dimensi eksoteris) yang mampu dipahami seluruh manusia sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus.

Hal ini senada dengan ayat 185 dari surat Al-Baqarah. Yaitu:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Kedua, dimensi yang lebih dalam lagi. Dimensi ini memerlukan beragam kesungguhan, supaya manusia dapat meraup mata air Al-Qur’an. Dalam berbagai hadis dikenal dengan istilah “makna batin Al-Qur’an” (dimensi esoteris). Dimensi ini ditujukan bagi mereka yang haus akan sumber mata air Alquran, tentu kadar kemampuan manusia terbatas, namun kadar itu bisa meningkat seiring dengan meningkatnya ilmu, kesungguhan, kebersihan hati serta keikhlasan yang dicurahkan.

Sebagaimana ayat kedua dari surat Al-Baqarah, yang berbunyi:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Artinya, Orang-orang yang bertakwa adalah orang yang mau dan terus menggali nilai Al-Qur’an. Sehingga, selain manusia secara umum, ada orang khusus yang memiliki tekad yang kuat untuk menggali lebih dalam kandungan Al-Qur’an.

Al-Qur’an dan Spirit Zaman

Selain itu, ada dimensi zaman. Artinya, sebagian dimensi Alquran akan tampak seiring dengan berkembangnya zaman. Ibnu Abbas, murid cerdas Sayyidina Ali K.W. Meriwayatkan bahwa, “Alquran ditafsirkan oleh zaman”. Berkembangnya zaman bermakna bergeraknya manusia menuju kematangan dalam berpikir, memahami serta meneliti ayat-ayat Alquran dengan beragam pendekatan dan metodologi.

Baca Juga  Mengenal Penafsiran Al-Qur'an yang Bernuansa Filosofis

Terlepas dari itu semua, perlu dipahami juga bahwa Alquran (satu ayat) menafsirkan ayat lainnya. Hal ini tidak bertentangan dengan kedudukan Alquran sebagai cahaya dan perkataan yang jelas. Karena Alquran adalah himpunan yang utuh dan tidak terpisah-pisah, kesatuan yang padu dan tidak bertentangan satu sama lain.

Sudahkah kita mendapat petunjuk dari Al-Qur’an hari ini? Mari kita tingkatkan kedekatan kita pada Alquran-Nabi dan Allah, kemudian mendekat pada para makhluk-Nya.

Wallahu a’lam bishawab.