Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Quraish Shihab: Cita Keislaman dan Wawasan Kebangsaan

Kebangsaan

Cita Keislaman

Figur Muhammad Quraish Shihab (biasa disingkat MQS) adalah satu dari sekian tokoh ulama dan cendekiawan muslim yang memberi teladan bagi bangsa yang majemuk dan mayoritas muslim terbesar di dunia ini.  Demikian adanya karena MQS selalu meletakkan gagasan dan pemikiran keislamannya untuk berikhtiar dan mendayungnya pada prinsip washatiyyah (moderasi) Islam. MQS menganggap jalan moderasi-lah yang menjadikan keislaman menjadi tenang, damai dan toleran terhadap pluralitas. Denyut moderasi pula-lah yang menjembatangi kebuntuan beragama antara kelompok ekstrimis dengan gerakan wacana liberalisme beragama.

Di satu sisi, ada kegelisahan intelektualnya jika ada klaim atas nama agama lalu merusak tenun kemanusiaan dan kebangsaan. Misi moderasinya itu kerap disuarakan dalam berbagai kesempatan dengan istilah “Membumikan al-Qur’an”. MQS menyadari bahwa membumikan al-Qur’an mesti dilakukan untuk mengembalikan misi al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk). Tentu upaya itu adalah kesadaran intelektualnya terhadap  keragaman, bumi nusantara yang begitu luas dan sangat beragam maka memahami ajaran Islam pun harus dihadirkan sesuai dengan nafas peradaban, budaya dan liku kehidupan manusia. Alasan ini sejatinya ingin meneguhkan bahwa al-Qur’an itu shalih likulli zaman wa makan (al-Qur’an selaras dengan semangat zaman dan kondisi sosial-tempat).

Konsisten Menyuarakan Kebenaran

Namun, cita keislamannya itu bukan tanpa terjal dan cobaan kerap kali hujatan, fitnah dan cacian atas gagasan keislamannya yang dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab intelektualnya.  Menariknya, MQS tidak pernah menggubris cacian, fitnah dan makian untuk mendengunkan bilik-bilik keislaman yang terbuka dan meneduhkan. Baginya beragama itu bukanlah mencari pembelaan ataupun dibenarkan, tapi beragama adalah ketulusan untuk menyampaikan kebenaran. Jika yakin itu benar sampaikanlah meskipun akan mendapatkan hujatan.

Bahkan setiap isu keagamaan yang memicu pro-kontra di ruang publik  ia tampil merespon dan memberi pencerahan pada umat. Tidak ingin membela siapa siapa pun dan tidak ingin menjatuhkan kelompok tertentu. Yang ia bela dan suarakan adalah kebenaran yang ia yakini.  Ikhtiar yang sangat elegan dan inspiratif dilakukan dengan menuangkan kritikan ataupun bentuk edukasi dalam karya buku. Kenyataan ini, mengingatkan saya pada sebuah kesempatan pengajian di rumahnya kurang lebih mengatakan: saya sejak umur 11 tahun belajar, mengkaji dan memahami agama hingga detik ini. Semakin belajar semakin luas cakrawala kedalam Islam untuk memperlihatkan kebenarannya dan saya punya tanggung jawab dan beban untuk menyampaikannya.

Baca Juga  Mengenal M. Quraish Shihab: Sang Maestro Tafsir Nusantara

Pada titik ini, MQS memberi teladan bahwa menjadi agamawan harus menjadi lentera bagi umat untuk menyampaikan kebenaran sebagaimana mestinya. Bukan menjadi pembelah apalagi hanya untuk membela kepentingan kelompok tertentu. 

Gagasan Kebangsaan

MQS bukanlah sosok politisi, tapi bukan berarti gagasan dan pikirannya tidak memihak pada kepentingan bangsa. Perjalanan panjangnya sebagai cendekiawan Muslim semakin mendorong dan mengedukasi umat untuk mencintai tanah air dan bangsanya.  MQS menulis buku “ Islam dan Kebangsaan: Tauhid, Kemanusiaan dan Kewarganegaraan”. Buku ini adalah respon intelektualnya untuk menepis kesalaha-pahaman sebagian masyarakat yang masih meragukan tentang kebangsaan untuk mencintai tanah airnya sendiri.

MQS mengajak untuk merenungi eksistensi tanah air bahwa tanah adalah asal muasal kejadian manusia. Sedangkan air adalah nafas dan sumber kehidupan manusia. Maka keliru bagi setiap anak bangsa untuk tidak mencintai dan berjuang untuk tanah airnya. Sebab dari tanah dan airlah muasal dan nafas kehidupan .

Gagasan ini sejatinya ingin mengajak kepada generasi muda khususnya untuk mencintai tanah airnya. Tidak saja sekedar mencintai tetapi melakukan ikhtiar untuk semua anak bangsa agar tali temali rasa persaudaraan menumbuhkan cinta pada tanah airnya. Hingga pada sebuah kesimpulan cinta adalah fitrah yang sangat manusiawi. Maka orang yang tidak mencintai tanah airnya bisa jadi ia mengidap penyakit yang parah, boleh jadi ia pun sebagai pengkhianat.  Seperti ungkapan sebagian orang, “Kalau ingin memahami kesetiaan seseorang, maka lihatlah pada kerinduaan pada tanah airnya”. 

Singkatnya, kita berharap kiprah  intelektual MQS di tengah usianya yang kini semakin senja untuk terus mewarnai gempita nilai keislaman dan kebangsaan di republik ini.

Penyunting: M. Bukhari Muslim