Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

QS. Az-Zumar 40: Fenomena Kematian Kecil dari Kisah Ashabul Kahfi

kematian kecil
Sumber: https://www.arabicdawateislami.net/

Menjadi buah pembicaraan orang pada waktu itu di Negeri Makkah. Kisah beberapa pemuda yang tertidur di dalam gua beratus tahun lamanya. Para pemuda yang melarikan diri dari tekanan dan penindasan raja yang dzalim. Ada seekor anjing yang menjaga mereka di dalam gua ketika mereka tertidur. Para pemuda tersebut dikenal sebagai Ashabul Kahfi. Pemuda yang mengalami kematian kecil.

Kisah Ashabul Kahfi sebagai satu kisah percontohan tentang iman yang teguh dan keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagi. Mereka itu adalah pemuda-pemuda yang telah beriman kepada Allah dengan iman yang benar dan suci dari segala jenis syirik serta dosa. Keadaan para pemuda penghuni gua itu seperti orang yang tidak tidur. Karena dari fisik mereka berubah menjadi menakutkan. Hal tersebut karena waktu yang begitu lama bagi mereka tertidur, sehingga menyebabkan perubahan fisik secara alami. Para pemuda tersebut oleh Allah dibolak balikkan badannya ketika tidur, sedangkan anjingnya tidak dinyatakan demikian.

Keadaan para pemuda terpelihara dari kehancuran dan kebinasaan. Jiwa mereka oleh Allah dikembalikan pada jasad mereka .ketika bangun para pemuda itu melihat segala sesuatunya masih biasa, alam sekeliling masih tetap biasa. Mereka tidak asing dengan keadaan yang pernah mereka lihat di gua. Para pemuda tidak ingat lagi bahwa mereka telah diistirahatkan dalam sekian lama dari seluruh kegiatan dan urusan mereka. Sedangkan orang-orang yang bangun dari kubur, setelah panca indra mereka tidak bekerja dan jiwa mereka ditahan adalah sama anehnya. Hal tersebut membuktikan adanya kekuasaan Allah mengenai jasad dan ruh pada manusia.

Kematian Kecil Ashabul Kahfi

Tidur adalah ibarat kematian kecil, seseorang di tengah tidurnya tidak merasakan perjalanan waktu, karena saat itu ruhnya sedang berada di alam arwah yang tidak ada perjalanan waktu di dalamnya. Seperti dalam firman Allah surah az-Zumar/39: 42:

Baca Juga  Telaah Ayat Sungai dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand de Sausure

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

Dalam penafsiran Ibnu Katsir Allah Swt berfirman, “Allah memegang jiwa ketika ia mati dan jiwa yang belum mati di waktu ia tidur; maka Dia menahan jiwa orang yang telah dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan”. Ayat ini menjadi dalil bahwa jiwa-jiwa itu berkumpul di al-Malaula’la, sebagaimana hal itu diterangkan di dalam sebuah hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Mundah dan yang lainnya, demikian pula diriwayatkan dalam Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda:

أذا اوى أحدكم أىل فراشو فلينفضو بداخلة أزاره فأنو ال يدري ما خلفو عليو مث ليقل : با مسك ريب وضعت جنيب وبك أرفعو أن أمسكت نفسي فارمحها وأن أرسلتها فاحفظها مبا حتفظ بو عبادك الصاحلني

“Apabila salah seorang di antara kamu hendak tidur maka kibaskanlah bagian dalam selimutnya karena dia tidak mengetahui apa yang ada di balik itu. Kemudian berdoalah, “Denganan nama-Mu, ya tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan nama-Mu aku angkat lambungku. Jika Engkau menahan jiwaku maka kasihanilah dia dan jika engkau melepaskannya maka jagalah ia dengan penjagaan yang engkau lakukan terhadap hamba-hamba Mu yang shaleh”.

Penafsiran Ayat

Sebagian ulama salaf mengatakan ketika menafsirkan ayat ini, “Akan dipegang ruh-ruh orang-orang yang sudah mati, bila mereka mati, dan ruh-ruh orang-orang yang masih hidup bila mereka tidur sehingga akan saling mengenal sesuai dengan kehendak Allah untuk saling mengenal”. “Maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya”, yaitu jiwa yang telah mati.“Dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan”, yaitu sampai batas waktu yang masih tersisa. Dan Ibnu Abbas mengatakan, “Jiwa-jiwa yang sudah mati ditahan dan jiwa-jiwa yang masih hidup dikembalikan lagi”. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.

Baca Juga  Mengenal Epistemologis Tafsir Karya Kiai Sholeh Darat

Seseorang dikala tidur kedua matanya terpejam sehingga tidak bisa melihat apa pun.  Indranya juga tertidur sehingga hampir tidak bisa merasakan peristiwa apa pun yang terjadi di sekitarnya. Adapun para nabi, sekalipun mereka tidur tetapi kondisinya tentu berbeda. Mata mereka bisa tertidur karena mereka adalah manusia, namun mata hati mereka dan kesadaran  mereka tidak tidur, sebab mereka adalah para nabi.

Ruh meninggalkan jasad dikala tidur, bahkan ruh tersebut ketika meninggalkan jasadnya ia ditemani oleh akal dan jiwa. Sebab, ruh, jiwa, dan akal adalah kesatuan yang tak terpisahkan sebagai esensi manusia yang disusun oleh Allah SWT pada jasad materi manusia. Keluarnya ruh dari jasad merupakan peristiwa kematian. Oleh karena itu, disaat seorang dalam kondisi tidur, itu berarti ia sedang berada dalam kondisi kematian kecil. Sebab ruhnya telah keluar dari jasadnya, hanya saja masih ada hubungan antara ruh dengan jasadnya. Wallahu’alam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi