Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Psikologi Penuaan dan Cara Menghadapinya dalam Al-Qur’an

penuaan
Sumber: istockphoto.com

Penuaan merupakan suatu keadaan yang dihadapi oleh orang yang sedang berada di usia lanjut, di mana hal ini akan berpengaruh terhadap sisi kehidupan lainnya. Sehingga orang yang mengalami penuaan sangat rentan terhadap masalah; baik masalah ekonomi, sosial, kesehatan, maupun psikologis.

Dari segi psikologis misalnya, banyak masalah yang akan dihadapi oleh orang yang mengalami penuaan dan sedang berada pada usia lanjut;  mulai dari kesepian, ketidakberdayaan, ketergantungan dan kurang percaya diri serta kecemasan-kecamasalan lainnya.

Tulisan ini secara khusus akan mengungkap psikologis atau gejala kejiwaan orang yang sedang berada pada usia lanjut dan sedang mengalami proses penuaan dalam al-Qur’an. Tokoh yang akan diangkat adalah Nabi Zakaria, yang direkam oleh al-Qur’an gejala kejiwaannya ketika memasuki usia tua atau penuaan.

Kisah Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an

Nabi Zakaria merupakan salah satu nabi yang utus oleh Allah kepada bangsa Bani Israil.  Beliau merupakan seseorang yang diberikan ujian oleh Allah berupa keterlambatan dalam mendapatkan keturunan sehingga pada masa tuanya barulah memperoleh ketururunan yang diberi nama Yahya. Yahya ini kemudian diangkat menjadi nabi menggantikan ayahnya dalam membina bangsa Bani Israil.

 Kisah Nabi Zakaria tidak diceritkakan secara runtut dan utuh oleh al-Qur’an melainkan hanya bagian-bagian atau peristiwa penting dan berhikmah saja. Kisah tersebut dapat kita temukan dalam al-Qur’an  surat Ali Imran dan surat Maryam.

Dalam surat Ali Imran misalnya diceritakan artinya “di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh”. Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?”. berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Ali Imran :38-40)

Baca Juga  Toleransi Beragama Sesama Muslim dan Non Muslim

Psikologi Penuaan dalam Al-Qur’an

Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa Nabi Zakaria merupakan orang yang diberikan ujian dengan keterlambatan dalam mendapatkan keturunan. Sedangkan dia sudah berada di usia tua, sehingga ini menimbulkan kecemasan dan berpengaruh terhadap psikologisnya.

Gejala psikologis yang dialami oleh Nabi Zakaria tersebut direkam oleh Al-Qur’an pada ayat berikut artinya  “ia berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (QS. Maryam : 4-6)

Mufassir Quraish Shihab ( :154) ketika menjelaskan ayat ini menyebutkan tiga kondisi Nabi Zakaria yaitu pertama, keadaannya sudah demikian lemah dan tua sehingga benar-benar membutuhkan seorang anak. kedua, Nabi Zakaria sangat optimis dalam berdoa karena sebelum-sebelumnya telah berdoa, dan doanya belum pernah ditolak. ketiga, Nabi Zakaria sangat mengkhawatirkan masa depan, sehingga beliau meminta keturunan yang akan melanjutkan dakwahnya.

Dari ketiga kondisi yang digambarkan oleh Quraish Shihab tadi dapat dipahami bahwa memang benar adanya bahwa Nabi Zakaria mengalami kecemasan dalam menghadapi masa tuanya, hal ini dikarenakan pada masa tuanya juga belum memiliki keturunan yang dapat melanjutkan estafet dakwahnya.

Namun gejala psikologis berupa kecemasan Nabi Zakaria tersebut sirna dan berubah menjadi kegembiraan setelah mendapatkan kabar dari malaikat “Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia.” (QS. Maryam : 7)

Baca Juga  Dakwah Itu Harus yang Mendamaikan Sains dan Agama, Bukan Sebaliknya!

Keteladanan Nabi Zakaria  Mengatasi Kecemasan

Adapun cara yang dilakukan oleh Nabi Zakaria dalam menghadapi kecemasannya adalah dengan shalat dan berdoa, hal ini dijelaskan oleh al-Qur’an yang artinya “di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (QS. Ali Imran : 38)

Ayat diatas juga memberikan pemahaman bahwa dalam menghadapi ujian, doa merupakan senjata ampuh. Selain itu doa juga berfungsi sebagai penenang hati dan penentram jiwa karena di dalam doa terdapat keyakinan bahwa ada suatu kekuatan dari yang Maha Kuat untuk menolong dan mengabulkan hajat kita.

Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh Nabi Zakaria dalam menghadapi kecemasan-kecemasan baik karena penuaan maupun keterlambatan dalam mendapat keturunan dapat dijadikan teladan dan patut untuk ditiru.

Editor: An-Najmi Fikri R

Raja Muhammad Kadri
Alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu al-Quran Sumatera Barat