Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Prinsip Rasulullah Dalam Menyampaikan Risalah Islam

prinsip rasulullah
Sumber: https://www.freepik.com

Jamak diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah salah satu dari sekian banyak tokoh berpengaruh di dunia sepanjang masa. Bahkan sejarawan Amerika, Michael Hart, tak ragu menulis Baginda Nabi sebagai; orang pertama dari seratus orang berpengaruh di dunia sepanjang masa. Hart meletakan beliau sebagai orang pertama dalam daftar bukan tanpa alasan; mengingat bagaimana prinsip rasulullah mengubah sistem agama sekaligus pemerintahan lewat dakwah di hamparan negeri Arab; dan keadaan itu bertahan berabad-abad setelahnya.

Dalam mencapai keberhasilan dakwah itu, tentu Nabi dituntun langsung oleh Allah Swt. lewat Al-Quran. Namun, usaha dan kepiawaian dakwah nabi juga tak bisa dilepaskan dari padanya. Nabi berdakwah tidak kurang dari dua dekade, dan selama itu pula ia konsisten dalam jalan dakwahnya meski berbagai rintangan—dari cibiran hingga ancaman pembunuhan—berdatangan.

Jika dilihat dan ditelaah ulang, sebenarnya ada beberapa prinsip yang dipakai rasulullah Saw. dalam berkomunikasi; sehingga dakwahnya bisa tersebar luas dan bertahan berabad-abad lamanya. Paling tidak, ada dua prinsip utama yang selalu beliau pegang. Kedua prinsip itu adalah sikap lemah lembut dan ketegasan.

Lemah Lembut

Salah satu prinsip dakwah Rasulullah Saw. adalah lemah lembut yang disarikan dari Al-Quran Surat Ali Imran ayat 159 yang bebunyi:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Rasulullah dikenal dengan sikap lemah lembutnya terhadap sesama, baik itu muslim maupun non-muslim. Dalam asbabun nuzulnya, ayat ini memang berkaitan dengan perang uhud dan kekalahan yang diderita umat islam. Namun dalam beberapa pendapat, salah satu inti risalah ayat ini adalah agar bersikap lemah lembut kepada siapapun, terutama sasaran dakwah. Mengenai lemah lembut, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Ra. bahwa Nabi bersabda:

Baca Juga  Sejarah Perpindahan Kiblat dalam Al-Qur’an

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”

***

Para ulama mengatakan: kata “syai’in(sesuatu)” pada kalimat di atas adalah nakirah (kata tidak tertentu) yang berada pada rangkaian peniadaan, sehingga mengenai segala  perkara. maksudnya bahwa lemah-lembut  terpuji di dalam segala urusan, termasuk berdakwah.

Masyhur dikisahkan bagaiamana seorang arab badui pernah berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat yang geram segera memarahi dan mengusir seorang arab badui tersebut. Namun, Rasulullah justru melarang sahabatnya, dan memanggil seorang badui tersebut dan menasihatinya dengan suara yang lembut. Dengan kelembutan beliau akhirnya seorang badui tersebut tersadar akan kesalahannya dan bersimpati pada Rasulullah Saw. ini sebuah contoh keteladanan yang penting. Bagaimana ketika nasihat disampaikan dengan lembut akan membuat orang cenderung bersimpati; pada kita daripada dengan nada keras dan kasar.

Ketegasan

Sikap lemah lembut Rasulullah tidak menjadikan beliau kemudian lunak dan lembut kepada segala hal. Kepada hal-hal yang mungkar dan kufar beliau memiliki ketegasan tersendiri. Inilah yang kemudian membuat karakter Rasulullah Saw. kuat dan mempunyai wibawa meski dikenal berlemah lembut.

Selain bersifat lemah lembut Nabi Muhammad SAW, dalam mengkomunikasikan pesan-pesan dakwahnya, juga bersifat Assyidaau ‘alal kuffaar, tegas terhadap kekufuran. Sifat lemah lembut yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, bukan bermakna bahwa; beliau adalah seorang yang tidak tegas, ikut sana, ikut sini, tidak mempunyai pendirian ataupun sangat toleran.  

Ketegasan ini tercermin dalam sebuah kisah. Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah Ra. menuturkan; bahwa suatu saat ada seorang pencuri dari bani Makhzumiyyah yang dikhawatirkan nasibnya oleh orang-orang Quraisy. Kemudian mereka meminta Usamah bin Zaid untuk mengadukan perkara ini kepada Rasulullah agar diminta keringanannya; sebab Usamah adalah orang yang dicintai oleh Beliau. Rasulullah yang mendengar ini kemudian geram lalu bersabda “Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?” sebentar kemudian Beliau berdiri dan bersabda:

Baca Juga  Ungkapan Cinta Allah: "Like and Dislike" Dalam Al-Qur'an

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya”

***

Bahkan untuk menghukum putrinya sendiri, Rasulullah tegas bersumpah akan menghukumnya jika itu melanggar hak Allah. Sikap inilah yang membuat karakter Rasulullah kuat sehingga ia berwibawa di mata siapapun termasuk objek dakwahnya. Menghukum kalangan sendiri (putrinya) jika ia terbukti melanggar hak Allah adalah bentuk integritas yang kuat dan sulit dilakukan oleh pemimpin manapun.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menuturkan (tentang hadits di atas). ”Demikianlah, wajib atas pemimpin untuk tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Mereka tidak boleh memihak seorang pun; karena hubungan dekat, kekayaannya, kemuliaannya di masyarakat (kabilah/sukunya), atau sebab lainnya”.

Dua sikap ini—lemah lembut dan tegas—bukan tidak mungkin dimiliki secara bersamaan oleh seseorang; Justru ketika dimiliki akan memberikan karakter yang kuat kepada seseorang. Kedua sikap ini pula yang menjadi prinsip Rasulullah dalam berdakwah sehingga sasaran dakwahnya bisa simpatik dan menghormatinya.