Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pernikahan Dini Menurut Psikologi, Benarkah Merusak Mental?

Pernikahan Dini
Gambar: jogja.antaranews.com

Sebelum itu apakah kalian tahu apa itu pernikahan dini? Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilaksanakan oleh mempelai yang diantaranya masih dibawah umur. Undang-undang pernikahan yang legal yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan.

Kedudukan Pernikahan dalam Islam

Bagi beberapa orang, pernikahan menjadi salah satu pokok hidup utama dalam kehidupan masyarakat yang sempurna. Pernikahan sebagai wujud penyempurnaan agama, khususnya agama Islam. Dengan pernikahan dua orang yang berlawanan jenis resmi menjadi ikatan suami dan istri dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga nantinya menjadi bagian dari kelompok masyarakat, di mana dalam membangun sebuah keluarga sudah harus siap dihadapkan dengan banyak masalah dan tangung jawab.

Pernikahan yang kita ketahui dilakukan oleh dua orang yang telah mencapai umur dewasa. Hal ini kita nilai karena orang dewasa sudah mencapai pada umur ideal untuk menjalani sebuah pernikahan. Umur dewasa dianggap sebagai umur yang cukup dalam kesiapannya, yang dimaksud di sini adalah kesiapan dalam fisik, mental, bahkan kesiapan materinya. Mereka yang sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan, biasanya sudah tahu apa yang akan menjadi tanggung jawab mereka kedepannya.

Banyak yang dipertimbangkan orang dewasa ketika ingin menjalani sebuah pernikahan. Maka dari itu, mengapa banyak yang menilai bahwa usia dewasa adalah usia yang pas untuk menjalani sebuah pernikahan. Apalagi dalam Al-Qur’an (baca QS. An-Nisa: 21) pernikahan disebut sebagai mistaqan ghaliza atau perjanjian agung. Hal itu tak lain karena pernikahan merupakan ibadah yang sakral, berat dan harus dijalani penuh tanggung jawab.

Ketetapan Undang-Undang

Lalu bagaimana dengan pernikahan dini? Dari banyak hal yang diperbincangkan saat ini, menikah dini masuk ke dalamnya. Namun, nyatanya pembahasan pernikahan dini sudah ada sejak dahulu loh. Tetapi, nilai baiknya saat ini beberapa dari kita sudah banyak yang aware terhadap adanya pernikahan dini. Beberapa dari mereka lebih memilih untuk menikah di usia dini atau usia yang masih terbilang dalam masa pubertas.

Baca Juga  Islam dan Tradisi dalam Surah Al-A’raf Ayat 199

Dapat disebut pernikahan dini apabila ia dilakukan pada usia di bawah 19 tahun. Pada usia ini, individu masih belum bisa maksimal dari kesiapan atau kematangannya. Dalam UU nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan pada UU nomor 1 tahun 1947 mengenai perkawinan, menyatakan bahwa perkawinan hanya dizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.

Mengapa usia menjadi hal yang dipertimbangkan sih dalam pernikahan? Nah, jawabannya itu karena dalam sebuah pernikahan perlu adanya kedewasaa mental. Perkawinan yang terlalu muda dapat menyebabkan tingkat perceraian yang tinggi loh. Kok bisa ya? Hal ini dikarenakan mereka yang menikah pada usia muda masih belum bisa mengendalikan mood mereka. Padahal bisa mengakibatkan kurangnya rasa tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga?

Bukan Solusi Menghindari Zina

Lalu bagaimana dengan keinginan orang tua untuk menikahkan anaknya di usianya yang terbilang muda? Biasanya orang tua, ingin anaknya terhindar dari perbuatan maksiat, terkhusus adanya zina. Sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan anak-anaknya. Hal ini ternyata bukan menjadi solusi yang tepat loh.

Ada beberapa solusi lain yang ternyata bisa kita terapkan selain menjadikan nikah muda sebagai solusi. Yaitu, kita sebagai orang tua sebaiknya memberikan pemahaman kepada anak, seperti pemahaman agama, psikologi, atau pehaman lainnya yang di mana itu bisa menjadi tameng bagi anak untuk menghindari terjadinya perzinaan atau hal hal yang seharusnya tidak dilakukan di luar pernikahan.

Mengapa pernikahan dini tidak dianjurkan? Dari yang kita ketahui usia tersebut atau usia remaja seperti kita saat ini, masih dalam proses pertumbuhan pada fisik. Kemudian secara emosi kita masih terbilang labil. Masih diperlukannya peran orang tua dalam mengontrol perilaku remaja. Nikah dini juga bisa berdampak secara biologis, di mana remaja belum mampu untuk melakukan hubungan fisik terhadap lawan jenis, dan juga hal itu berdampak pada mental dan emosi yang masih berubah-ubah. Di usia remaja ini, mereka masih senang mencoba banyak hal baru dan tidak suka dengan adanya aturan yang membuat diri mereka tidak merasa bebas. Sehingga hal tersebut pasti sangat memengaruhi proses perkembangan mereka.

Baca Juga  Tafsir Aktual: Jasa Parkir Antara Eksploitasi, Pungli, dan Etos Kerja

Dampak Pernikahan Dini

Nikah dini sebenarnya sangat berdampak pada sisi perempuan. Hal ini terlihat jelas dampaknya pada kesehatan perempuan, di mana remaja perempuan masih belum siap untuk mengandung serta melahirkan. Pada usia di bawah 19 atau 20 tahun, apabila terjadi pernikahan dini atau hubungan seksual akan mempertinggi risiko terjadinya kanker serviks dan diyakini akan mengalami penyakit menular seksual seperti HIV. Di usia tersebut organ-organ reproduksi belum sepenuhnya matang atau siap untuk reproduksi, sehingga bisa menyebabkan infeksi.

Mereka juga harus menjalani peran mereka sebagai istri maupun ibu, yang berdampak pada pendidikan mereka. Hal ini menjadi sangat berdampak negatif ketika kesiapan mental mereka belum stabil atau optimal. Membuat diri mereka merasa tertekan secara psikologis.

Pengembangan diri mereka menjadi terbatas, karena adanya rasa tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Di samping itu mereka masih belum siap untuk melakukan peran ganda dalam keluarga. Nikah dini berarti menghilangkan kehidupan remaja mereka. Ketika mereka tidak mampu menyeimbangkan keduanya, hal ini akan berdampak pada kehidupan sosial, di mana akan terjadinya perceraian.

Hal ini disebabkan oleh keadaan psikologis yang belum matang, emosional serta ego remaja yang masih tinggi membuat remaja belum mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan baik

Pernikahan Dini Perlu Kematangan Emosional

Pernikahan dini sangat rentan terhadap masalah karena tingkat pengendalian emosi yang belum stabil. Sebab ia akan dihadapi banyaknya permasalahan yang menuntut kedewasaan. Dan dalam penanganannya ibadah ini tidak boleh hanya dipandang sebagai kesiapan materi belaka, tetapi juga kesiapan mental dan kedewasaan untuk mengarunginya.

Biasanya yang sering terjadi, kondisi di mana pasangan yang tidak sanggup menyelesaikan serta menanggulangi permasalahan yang terjadi dapat menimbulkan menaggulangi permasalahan seperti emosi tidak stabil, tidak mengurus diri sendiri, peran ekonomi, peran orang tua serta tekanan-tekanan yang menyebabkan stres hingga berujung bunuh diri ataupun perceraian.

Baca Juga  Tradisi Literasi dan Non-Literasi dalam Studi Kitab Suci: Membaca Tawaran Sam D. Gill

Banyaknya dampak negatif dari adanya nikah dini. Lalu apakah ia masih dapat mewujudkan adanya kasih sayang dan kedamaian? Hal ini bisa saja, tetapi perlu beberapa hal untuk diperhatikan. Yaitu adanya pencerahan dari orang dewasa serta tidak adanya bentuk menghakimi kepada diri sendiri, dan paling penting adanya rasa saling memahami di antara kedua pasangan, yang menjadikan diri keduanya berproses ke sifat dewasa

Penyunting: Bukhari