Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Perempuan Inspiratif: Membaca Kisah Siti Hajar dalam Al-Qur’an dan Al-Kitab

Sumber: https://alif.id/

Tykva Frymer Kensky, dalam Reading The Women of The Bible (Frymer-Kensky 2002)merupakan salah satu karya yang menarik untuk melihat kisah-kisah inspiratif terkait perempun. Sebagai pengenalan, Tykva merupakan seorang pakar Al-Kitab, assiriologi, dan sekaligus seorang feminis. Ia getol mengangkat isu-isu seperti pengalaman perempuan dalam masyarakat patriarki dan bagaimana relevansi Al-Kitab untuk kehidupan modern. Juga membandingkannya dengan yang terdapat dalam perspektif kalangan Islam. Termasuk kisah Siti Hajar.

Reading The Women of The Bible membahas tentang empat pola terkait perempuan. Yakni perempuan sebagai pemenang, perempuan sebagai korban, perempuan sebagai perawan, perempuan sebagai suara tuhan dan bacaan perempuan dalam Al-Kitab. Tulisan ini berusaha melihat secara lebih jauh dan khusus sajian Tykva mengenai dialektika yang dialami sosok Hagar. Yang dalam Islam, umumnya dikenal dengan sebutan Siti Hajar sebagai seorang perawan.

Siti Hajar dalam Al-Kitab

Tikva menyebutkan sekelumit kisah Hagar dengan memberikan judul “Hagar, My Other, My Self”. Bagian ini menggambarkan isi cerita dari dua orang perempuan yang hebat. Dan satu orang laki-laki yang bijaksana. Yaitu Abram(baca: Abraham)yang artinya ayah yang dimuliakan, Sarai (baca: Sarah) artinya sang putri, dan Hagaryang artinya orang luar (asing).

Hagar merupakan ‘budak’ Sarai, istri Abram yang berasal dari Mesir. Pernikahan Abram dengan Sarai selama bertahun-tahun nampaknya tidak membuahkan hasil untuk memiliki keturunan. Sehingga Sarai memerintahkan Abram untuk menikahi Hagar dengan tujuan untuk memiliki anak. Sesuai dengan kebiasaan zaman itu, sebagai budak, Hagar diberi tugas untuk melahirkan anak bagi majikannya.

Selain itu, dalam beberapa kesempatan, Hagar juga bisa disebut dengan gundik atau istri kedua dari Abraham. Cerita ini sesuai dalam Al-Kitab, Kejadian 16: 1-3, Kejadian 15: 3-6. Pasal ini merupakan sebuah proses lamaran Abram dengan Hagar. Pernikahan Abram dengan Hagar membuahkan hasil dengan diberikannya kehamilan kepada Hagar, yang kelak ia adalah Ismail.

Baca Juga  Belajar dari Gereja: Doa dan Bimbingan Keluarga

Mengetahui kehamilan Hagar, nampaknya rasa cemburu pun muncul dari diri Sarai. Dan inilah titik mula problem muncul.  Dia berpikir bahwa Hagar telah merebut kursi otoritasnya dalam rumah tangganya dengan Abram. Sarai pun mencoba untuk merebut kembali posisi dirinya dengan melakukan beberapa penindasan yang semakin semena-mena kepada Hagar dan memerintahkan Abram untuk menceraikan Hagar. Hingga akhirnya, Hagar yang sedang hamil mencoba untuk melahirakan diri ke padang gurun lalu bertemu dengan Malaikat YHWH (Yahweh).

Penindasan Ganda

Hagar, dengan menyandang identitas ganda sebagai budak dan gundik (istri kedua) terlihat juga mengalami penindasan berganda. Identitasnya sebagai gundik tidak mampu membebaskannya tradisi yang berkembang pada masa itu di Kanaan Mesir. Yakni bahwa budak hanya memberikan pelayanan penuh untuk majikannya. Meskipun dia sebagai gundik serta ibu dari anak majikannya, Hagar tidak memiliki peran apapun di dalam rumah tangganya.

Hagar mencoba bangkit untuk membebaskan dirinya dari berbagai stereotipe. Hingga menumbuhkan sebuah kesadaran dalam dirinya meskipun dia seorang budak, namun dia harus bisa merdeka. Merdeka atas kungkungan budaya patriarki dan perbudakan dari majikannya. Pengalamannya atas sebuah penindasan berganda, justru membuat ia mengalami perjumpaan yang intim dengan Tuhannya.

Posisi Tuhan Hagar, memiliki peranan yang sangat penting terhadap nasib hidup Hagar. Saking dekatnya Hagar dengan Tuhan, ia memiliki panggilan khusus dengan Tuhannya “El-Roi” yang artinya “Tuhan yang melihat”. Perjumpaan atau kedekatan itu membantu Hagar dalam perjuangannya mempertahankan kelangsungan hidupnya dan hidup anaknya.

Siti Hajar dalam Islam

Kisah inspiratif Hagar dalam Alkitab sepertinya juga diceritakan dalam cerita-cerita Islam. Meskipun demikian, nampaknya Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik tentang Hajar. Isyarat yang paling mendekati salah satunya dapat dilihat dalam QS. As-Saffat [37]: 99-102.

Baca Juga  Perjalanan Syaikh Ali Hasan Ahmad dalam Menimba Ilmu

Oleh beberapa kalangan, penyebutan Hagar dalam Al-Qur’an menjadi Hajar, Abram (baca: Abraham) menjadi Ibrahim. Sementara Sarai (baca: Sarah) menjadi Siti Saroh dan Ismael menjadi Ismail. Lebih lanjut, dalam tradisi Islam, Hagar bukanlah seorang budak, melainkan seorang putri yang dinikahkan dengan Abram. Juga pada midrash (cerita) Yahudi, Hagar merupakan seorang putri di rumah Fir’aun.

Apabila dibaca secara sepintas, agaknya cerita itu memiliki kemiripan yang hampir sama. Namun, ternyata ada beberapa plot cerita yang sedikit berbeda. Pertama, Ketika di dalam Al-Kitab diceritakan bahwa Hagar dan Ismael diusir dari rumah Abram dan Hagar pergi ke Padang Gurun. Berbeda dengan cerita dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim a.s dan Siti Saroh mengantarkan Siri Hajar dan Ismail ke suatu tempat yang bernama Bakka (baca: Mekkah).

Kedua, jika di dalam Al-Kitab diceritakan bahwa ketika Ismael menangis karena kehausan, Hagar meletakkannya di semak-semak belukar. Lalu berdoa kepada Tuhannya agar segera diberikan pertolongan. Lalu, Hagar menemukan sumur di dekat Ismael yang mana sumur itu sekarang menjadi sumber penghidupan oleh masyarakat sekitar.

Sedangkan dalam cerita Islam, diceritakan Ismail menangis karena merasa kehausan hingga Siti Hajar berlarian mencari air dari bukit Shofa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kaji yang disebut dengan sai. Ismail terus menangis dan menghentakan kakinya ke tanah hingga muncul sumber air yang disebut dengan zam-zam yang berarti melimpah.

Pelajaran dari Kisah Hajar

Banyak sekali Ibrah yang dapat kita petik dari Kisah Siti Hajar. Ia merupakan sosok perempuan yang bertahan di tengah kejamnya ketidaksetaraan gender, ras, dan kelas sosial pada masa itu. Tepatnya masa yang masih kuat budaya patriaki. Posisi Hagar sebagai budak yang kehidupannya rentan akan segala ketidakadilan, stereotipe, diskriminatif hingga kejamnya budaya patriarki.

Baca Juga  Khalifah Terakhir di Dunia Islam

Dengan demikian, agaknya perlu digarisbawahi bahwa Hagar merupakan sosok perempuan inspiratif. Ia telah mengajarkan ketulusan tentang bagaimana perjuangan, mencintai, merawat dan menghamba pada Tuhannya. Ia adalah manusia taat, peran dan ketokohohan Abram sangat tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Siti Hajar.

Ia dengan gigih dan hebat hingga mampu melahirkan keturunan yang baik dan membawa berkah untuk alam semesta. Hajar yang mengasuh Ismael seorang diri.  Bahkan Abram sama sekali tidak ada campur tangan dalam pola pengasuhan terhadap anaknya.

Pengalaman kemerdekaan Hagar dapat memberi inspirasi kepada kaum perempuan untuk lebih memberdayakan diri dan memikul tanggung jawab. Karena perempuan memiliki peran besar dalam menentukan nasib mereka sendiri. Perempuan harus berani menyeruakan kebenaran, keadilan, serta saling memanusiakan sesama perempuan.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho