Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Perbedaan Bacaan (Qira’at) dan Pengaruhnya Terhadap Makna

Perbedaan bacaan
Gambar: www.pexels.com

Al-Qur’an  turun  pada  zaman  Nabi  Muhammad  Saw. Kurang  lebih  empat belas abad yang lalu dan sampai sekarang tidak henti-hentinya para ulama, cendekiawan dan ilmuwan dalam mengkaji isi dari kandungan al-Qur’an. Satu diantara pembahasan yang menarik adalah al-Qur’an yang memiliki variasi dalam gaya bacanya. Pembahasan ini telah melahirkan berbagai pendapat di kalangan ulama. Menurut istilah ilmiah, qira’at adalah salah satu mazhab (aliran) pengucapan lafadz al-Qur’an yang dipilih oleh salah seorang imam qurro’ sebagai satu mazhab yang berbeda dengan mazhab lainya.

Perbedaan bacaan dalam al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam dua poin. Pertama, perbedaan bacaan yang berkaitan dengan teknis pengucapan lafaz dalam lahjah/dialek kebahasaan. Kedua, perbedaan bacaan yang berkaitan dengan substansi lafaz. Perbedaan yang berkaitan dengan teknis pengucapan lafaz dalam lahjah/dialek kebahasaan tidak berpengaruh pada perubahan makna.

Perbedaan bacaan seperti ini banyak ditemukan dalam kaidah “ushul al-qira’at”, seperti membaca lafaz (والضحى) sebagian imam qira’at membaca fathah. Sebagian yang lain membaca taqlil dan yang lain membaca imalah. Perubahan bacaan seperti di atas tidak berpengaruh pada makna, karena perbedaan bacaan hanya dari sisi dialek kebahasaan. Perbedaan seperti ini lebih dominan dalam ayat-ayat al-Qur’an dibandingkan perbedaan-perbedaan yang terdapat pada substansi lafadz al-Qur’an.

Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya Terhadap Makna

Sementara perbedaan bacaan yang berkaitan dengan subtansi lafaz, pada umumnya, dapat berpengaruh pada perubahan makna. Dalam literatur ilmu qira’at, perbedaan ini lebih didominasi dalam kaidah “furusy al-qira’at”. Ada banyak contoh dalam al-Qur’an terkait perbedaan bacaan yang berpengaruh pada makna, termasuk juga pada ayat-ayat yang berbicara tentang hukum, sedikit banyak nya akan berpengaruh kepada Istinbath hukum tersebut.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Referensi Rasm Mushaf Kuno

Sebelum beranjak kepada implikasi perbedaan qira’at terhadap istinbath hukum, perlunya kita mengetahui apa itu Istinbath. Istinbath menurut bahasa berarti: “Mengeluarkan air dari mata air (dalam tanah)”. Karena itu, secara umum kata istinbath dipergunakan dalam arti istikhraj (استخراج) mengeluarkan. Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud istinbath yaitu:  إستخراج المعانى من النصوص بفرط الذهب وقوة الفريحة  “Mengeluarkan kandungan hukum dari nash-nash yang ada (al-Qur’an dan al-Sunnah), dengan ketajaman nalar serta kemampuan yang optimal”.

Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa, esensi istinbath yaitu: upaya melahirkan ketentuan-ketentuan hukum yang terdapat baik dalam al-Qur’an maupun al-sunnah. Mengenai obyek atau sasarannya yaitu dalil-dalil syar’i baik berupa nash maupun bukan nash, namun hal ini masih berpedoman pada nash.

Adapun perbedaan qira’at al-Qur’an yang khusus menyangkut ayat-ayat hukum dan berpengaruh terhadap istinbat hukum, dapat dikemukakan dalam contoh berikut:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. al-Maidah [5]: 6).

Ayat ini menjelaskan, bahwa seseorang yang mau mendirikan shalat, diwajibkan berwudhu. Adapun caranya seperti yang disebutkan dalam firman Allah di atas. Sementara itu, para ulama berbeda pendapat tentang apakah dalam berwudhu, kedua kaki ( وارجلكم) wajib dicuci ataukah hanya wajib diusap dengan air.

Contoh Pengaruh Perbedaan Bacaan

Hal ini dikarenakan adanya dua versi qira’at yang menyangkut hal ini. Ibn Katsir, Hamzah dan Abu Amr membaca وَاَرْجُلِكُمْ dengan kasrah. Nafi, Ibn Amir dan al-Kisai membaca وَاَرْجُلَكُمْ dengan fathah. Sementara Ashm riwayat Syu’bah membaca وَاَرْجُلِكُمْ, sedangkan Ashm riwayat Hafsah membaca وَاَرْجُلَكُمْ .

Baca Juga  Kaidah Memahami Kisah Al-Quran Menurut As-Sya'rawi

Qira’at وَاَرْجُلَكُمْ menurut zahirnya menunjukkan bahwa kedua kaki wajib dicuci, yang dalam hal ini ma’thuf kepada قَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ . Sementara qira’at وَاَرْجُلِكُمْ menurut zahirnya menunjukkan bahwa kedua kaki hanya wajib diusap dengan air, yang dalam hal ini ma’thuf kepada وَامْسَحُوْابِرُءُ وْسِكُمْ Jumhur ulama cenderung memilih qira’at وَاَرْجُلَكُم .

Sementara itu, sebagian ulama dari kalangan Syi’ah Immamiyyah cenderung memilih qira’at وَاَرْجُلِكُمْ. Menurut Ibn Jabir ath-Thabari berpendapat bahwa seseorang yang berwudhu, boleh memilih antara mencuci kaki dan mengusapnya (dengan air).

Dari uraian di atas tampak jelas, bahwa perbedaan qira’at atau bicaan dapat menimbulkan perbedaan istinbath hukum, qira’at وَاَرْجُلِكُمْ dipahami oleh jumhur ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudhu diwajibkan mencuci kedua kaki, sementara qira’at وَاَرْجُلِكُمْ dipahami oleh sebagian ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum bahwa dalam berwudhu tidak diwajibkan mencuci kedua kaki. Akan tetapi diwajibkan mengusapnya. Sementara ulama lainnya membolehkan untuk memilih salah satu dari kedua ketentuan hukum tersebut. Dan ada pula yang mewajibkan untuk menggabungkan kedua ketentuan hukum tersebut.

Penyunting: Bukhari