Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Peran Sentral Keluarga dalam Kisah Nabi Yusuf

sentral
Sumber: http://www.halimizuhdy.com

Nabi Yusuf a.s merupakan salah seorang utusan Allah yang namanya secara khusus menjadi nama surah dalam al-Qur’an. Bahkan, ada suatu riwayat yang mengatakan bahwa kisah Nabi Yusuf disebut-sebut sebagai aḥsan al-qaṣaṣ yang diceritakan al-Qur’an. Dari sekian banyak episode kisah Nabi Yusuf dalam surahnya, tulisan ini secara khusus memperbincangkan sentral permulaan kisah sebelum diangkat menjadi seorang nabi. Lebih tepatnya, saat ia menerima mimpi sebagaimana diceritakan dalam Q.S. Yusuf [12]: 4 berikut.

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ

(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.”

Ayat di atas mengisahkan bahwa Nabi Yusuf bercerita kepada ayahnya, Ya’qub, mengenai mimpi yang dialaminya. Panggilan Yusuf: yā abati, menurut Rasyid Ridha huruf ta’ merupakan pengganti dari ya’ mutakallim yang biasa terdengar oleh orang Arab sebagai panggilan kepada ayah dan ibu. (Tafsīr al-Manār, 12/209)

***

Shofyan Hadi, berpendapat bahwa pemilihan kata yā abati bukan yā abī, menunjukkan bentuk panggilan sayang dan rasa hormat seorang anak kepada ayahnya. Ini menandakan bahwa Yusuf merupakan seorang anak yang amat dekat dengan ayahnya, Ya’qub. (Tafsir Qashashi Jilid II: Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Musa a.s, 5)

Dikatakan bahwa dalam mimpinya terdapat aḥada ‘asyara kaukaban (sebelas bintang), al-syams (matahari), dan al-qamar (bulan). Kesemuanya bersujud kepada Nabi Yusuf sebagai sentral. Ketiga objek yang dilihat oleh Nabi Yusuf dalam mimpinya tersebut sebetulnya merupakan sebuah perumpamaan, seperti yang akan dijelaskan berikut ini.

Makna Mimpi Nabi Yusuf

Diriwayatkan oleh Jabir, ayat di atas berkenaan dengan seorang Yahudi yang mendatangi Rasulullah dan berkata: “Ya Muhammad! Ceritakan kepadaku tentang bintang-bintang yang dilihat oleh Yusuf.” Rasulullah diam menanggapi ucapan Yahudi tersebut, kemudian Jibril turun menceritakan kepada Rasulullah terkait permintaan itu. Setelah Rasulullah mengetahuinya, ia bertanya kepada seorang Yahudi tersebut, “Jika aku menceritakan kepadamu, apakah engkau mau beriman?” ia menjawab, “Ya” Rasulullah menjawab, “Diantara bintang-bintang itu ialah Jaryān, Ṭāriq, Żayal, Qābis, ‘Amūdān, Fulaiq, Muṣabbiḥ, Ṣarūkh, Faragh, Waṡṡāb, Żū al-Katifayn, mereka semua ini yang dilihat Yusuf. Kemudian matahari dan rembulan turun dari langit, dan bersujud kepada Yusuf.” Seorang Yahudi menjawab, “Memang benar, demi Allah, itulah nama-nama bintang tersebut.”

Baca Juga  Dinamika Studi Tafsir Nusantara Era Digital

Al-Ulaimi dalam penafsirannya mengatakan bahwa bintang-bintang (kaukab) merupakan saudara-saudaranya yang berjumlah sebelas. Karena ia diterangi oleh saudara-saudaranya sebagaimana ia diterangi oleh bintang-bintang. Matahari (al-syams) adalah ibunya, Rahil, dan bulan (al-qamar) adalah ayahnya, Ya’qub. (Fatḥ al-Raḥmān fī Tafsīr al-Qur’ān, 3/390-391)

***

Perumpamaan matahari dan bulan ini terdapat ikhtilaf atau perbedaan. Senada dengan al-Ulaimi, Ibnu Juraij berpendapat bahwa matahari adalah ibunya, dan bulan adalah ayahnya. Ini beralasan bahwa lafaz al-syams menunjukkan ta’nī(perempuan) dan lafaz al-qamar menunjukkan tażkīr (laki-laki). Sebaliknya, Ibnu Qatadah dan Ibnu Abbas mengarahkan makna matahari (al-syams) adalah ayahnya, dan bulan (al-qamar) adalah ibunya. Pendapat ini yang paling banyak digunakan. (Tafsīr al-Māwardī=al-Nukat wa al-‘Uyūn, 3/6)

Sehingga, dapat ditarik kesimpulan makna bahwa para saudara Yusuf, ayah, dan ibunya bersujud kepada Yusuf. Namun dalam hal ini, sujud yang dimaksud adalah ungkapan memulyakan, menghormati, tidak sama halnya dengan sujud ketika menyembah Tuhan. Rasyid Ridha mengatakan bahwa posisi sentral sujud yang dimaksud adalah seperti ruku’, membungkukkan sedikit badan. Sebagaimana halnya adat sebagian masyarakat, seperti negara Palestina, Mesir, dan sebagian negara lain ketika menyambut seseorang yang dimuliakan. (Tafsīr al-Manār, 12/210)

Sentral Perumpamaan Mimpi Nabi Yusuf

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa perumpamaan matahari adalah ayahnya, bulan adalah ibunya.  Dua simbol tersebut menyimpan isyarat mengenai perbedaan posisi ayah dan ibu dalam sebuah keluarga.

Ayah diibaratkan sebagai matahari. Matahari membawahi planet-planet, bulan, asteroid, meteoroid, dan komet. Artinya, matahari menjadi pusat, kesemuanya berputar mengitari matahari. Oleh karenanya, matahari memiliki cahaya yang sangat kuat, terang, cerah, hangat hingga menyengat sekaligus menjadi sumber energi bagi semesta.

Baca Juga  Proses Hujan dalam Tafsir Ilmiah: Tantawi Al-Jauhari

Sebagaimana seorang ayah sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas seluruh anggota keluarganya. Sehingga, posisi demikian bagi seorang ayah hendaknya mampu memberikan cahaya terang bagi keluarganya dengan pengetahuannya, memberikan kehangatan bagi keluarga dengan kasih sayangnya, hingga terkadang fungsi menyengat dibutuhkan ketika dalam kondisi mendidik anggota keluarga yang bertindak salah dan perlu dibimbing.

***

Berbeda dengan posisi ayah, seorang ibu sebagaimana rembulan yang memiliki cahaya lembut dan indah, hendaknya menerangi kehidupan anak-anaknya dengan mendidik sebaik-baiknya sesuai tuntunan agama. Mendulang ilmu dan pengetahuan dengan cahaya keluasan ilmunya, dan memberikan teladan akhlak dan budi pekerti dengan kelembutannya. Inilah keindahan yang dimiliki seorang ibu dalam membentuk kualitas generasi umat.

Adapun posisi anak yang disimbolkan dengan kaukab, yang sebetulnya secara harfiah bermakna planet, bukan nujūm (bintang), ini menunjukkan bahwa planet bersifat mengikuti bintang. Matahari merupakan kategori bintang, dan planet bergerak mengitari bintang. Sebagai isyarat bahwa seorang anak dalam keluarga adalah sebagai pengikut, tidak berhak memerintah dan menguasai sesuatu. Mengikuti perintah dan petunjuk orang tua, selama arahnya bukan kepada maksiat. Inilah bentuk kebaktian seorang anak kepada orang tua.

Penutup

Perumpamaan matahari (al-syams), bulan (al-qamar), dan bintang (kaukab) dalam mimpi Nabi Yusuf menyiratkan makna tersendiri dalam memposisikan diri di sebuah keluarga. Masing-masing anggota keluarga berperan sesuai porsinya sendiri-sendiri. Apabila setiap anggota keluarga memerankan perannya dengan baik sesuai posisinya, maka akan membentuk keluarga yang sehat. Wallāhu A’lam.

Fatia Salma Fiddaroyni
Alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dan Alumnus PP. Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.