Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Penggalian Ilmu Keagamaan Melalui Arkeologi Al-Qur’an

Arkeologi
Dok. Pribadi

Senin, 01 Agustus 2020, forum cangkrukan telah memasuki edisi ke-56. Pada edisi kali ini, cangkrukan menyelenggarakan acara bedah buku berjudul Arkeologi Al-Qur’an: Penggalian Pengetahuan Keagamaan. Narasumber acara kali ini adalah Dr. Ali Akbar, S.S, M.Hum. beliau adalah penulis buku ini sekaligus Arkeolog di Departemen Arkeologi Universitas Indonesia. Kemudian ditanggapi oleh Ir. Matoari, MBA. Beliau adalah Konsultan Pesantren Kehidupan Terpadu dan dilanjutkan oleh Ir. Agus. S Djamli, M.Sc. beliau adalah Dosen Teknik Pertambangan, Fakultas Sains dan Teknologi.

“…Arkeologi merupakan ilmu yang luas. Akan tetapi Al-Qur’an lebih luas lagi karena banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang Arkeologi. Di mana dalam buku ini dibahas secara santai dan bisa dibaca di saat santai maupun naik bis dan sebagainya”, ujar Ali Akbar.

Secara umum, ilmu Arkeologi tidak mengkaji teks kitab suci, akan tetapi lebih mengkaji sesuatu (benda peninggalan) yang lebih tua. Sehingga dalam prosesnya, dibutuhkan metode yang lebih maksimal. Meskipun begitu, membaca teks al-Qur’an juga bisa menjadi gerbang masuk menuju kajian tentang peninggalan-peninggalan sejarah.

Arkeologi Al-Qur’an di Mata Peneliti

Dalam perkembangan keilmuan, Arkeologi bibel lebih matang daripada Arkeologi Al-Quran. Hal ini disebabkan banyak para peneliti maupun sejarawan yang mengkajinya lebih dulu. Padahal Al-Quran telah banyak menyebutkan tentang Arkelogi seperti peninggalan Mesir, minyak zaitun, ka’bah, peristiwa nabi Luth, bahtera nabi Nuh, dan peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah menarik.

Al-Quran memang belum banyak dikaji Arkeolog. Padahal banyak ilmu arkeologi dalam Al-Quran. Misalnya dalam QS. al-Hadid ayat 4. Dijelaskan proses penciptaan alam semesta dalam 6 tahapan. Dalam proses itu terbagi lagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama itu telah menjadi bukti. Bukti bahwa alam ini benar adanya. Kedua, kejadian itu mulai bisa dijelaskan prosesnya secara ilmiah. Dan yang ketiga belum terjadi. Karena belum terjadi, maka mucul pertanyaan apakah Al-Qur’an itu fakta atau fiktif? Peristiwa-peristiwa yang belum terjadi itu seperti peristiwa metafisika dan sebagainya. Namun cepat atau lambat, hal itu juga akan terjadi.

Baca Juga  Kriteria Pemuda Sukses Dalam Perspektif Al-Qur'an

Dalam hal penciptaan alam semesta, Bibel lebih menyebut angka sehingga peneliti bisa memprediksikan lama waktu yang terhitung ketika proses penciptaan alam semesta. Sementara Al-Qur’an hanya menyebut kata yaum yang artinya bukan hari tapi periode seperti big bang, pengembangan alam semesta dan seterusnya. Maka angka akan bisa direvisi tetapi tahapannya akan selalu sama.

“…Jika ditelusuri lebih lanjut, para Arkeolog memang akan menemukan sesuatu yang dalam dari kajian Arkeologinya, akan tetapi kedalaman itu tidak bermakna apa-apa. Justru dengan Al-Qur’an yang mengandung banyak ilmu Arkeolog akan menambah makna atas penemuan Arkeologinya”, tegas Ali Akbar.

Keilmiahan Al-Qur’an

Al-Qur’an itu mukjizat. Semua muslim percaya ini. Namun seringkali kepercayaan itu justru membuat Al-Qur’an terkesan tidak ilmiah. Padahal Al-Qur’an itu ilmiah sekali. Mukjizat meskipun segala peristiwa yang terjadi seolah-olah mustahil atau metafiaik tetapi isinya dapat didekati secara ilmiah. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an itu adalah bukti atau fakta itu sendiri. Karena setiap ayat memiliki terminologinya sendiri. Sehingga ketika dikaji akan muncul saling keterkaitan antara ayat satu dengan yang lainnya.

Lebih lanjut, “…Arkeologi yang diindikasikan dalam Al-Qur’an banyak menyangkut kisah umat-umat lain, tidak hanya kisah tentang nabi-nabi. Seperti peristiwa-peristiwa zaman dahulu di mana umat yang kuat sangat mudah dibinasakan oleh Allah”, Ungkap Agus S. Djamli menanggapi pemaparan Ali Akbar.

Peristiwa-peristiwa umat terdahulu mengajarkan pada kita dalam melihat peradaban. “Meskipun kita kuat dalam perjalanan, tapi ada yang lebih kuat lagi. Mereka semua sekarang hanya meninggalkan artefak-artefaknya saja. Maka membangun peradaban itu tidak cukup hanya dengan pondasi fisik dimana nantinya bisa mengalami dekadensi moral”, imbuhnya. Akhir kata, apakah kisah dalam Al-Qur’an itu fiktif atau fakta? Jawabannya dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Salah satunya dengan meneliti melalui Arkeologi. Faktanya karena telah terjadi namun fenomena dalam ayat Al-Qur’an yang belum terjadi perlu bukti. Meskipun begitu, Al-Qur’an dikaji lewat Arkeologi dapat memberikan bukti dan pelajaran bahwa Al-Qur’an itu berbicara kebenaran atau fakta.

Baca Juga  Huseyin Atay: Interpretasi Induktif dalam Legislasi Al-Qur’an

Reporter: Muhammad Afiruddin

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.