Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pengembangan Asbabun Nuzul, Mungkinkah?

Asbabun nuzul
Gambar: bincangsyariah.com

Ilmu asbabun nuzul menempati posisi yang sangat penting dalam kajian Al-Qur’an. Bahkan para ulama mengatakan, seseorang tidak mungkin dapat menafsirkan Al-Qur’an dengan baik sebelum ia mengetahui asbabun nuzul-nya.

Di era klasik, asbabun nuzul hanya terbatas pada riwayat-riwayat yang terkait dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, seiring berjalannya waktu, ilmu asbabun nuzul klasik dirasa banyak memiliki kekurangan serta belum bisa menjadi pisau analisis yang tajam dalam proses penafsiran. Sehingga beberapa ulama menawarkan gagasannya untuk menyempurnakan ilmu asbabun nuzul klasik.

Pengertian Asbabun Nuzul

Secara etimologi, asbab an-nuzul terdiri dari dua kata yaitu, asbab (jamak dari sabab) yang bisa dimaknai latar belakang atau sebab, dan nuzul yang berarti turun. Para ulama berbeda pendapat ketika mendefinisikan asbab an-nuzul. Menurut Muhammad Chirzin, meskipun para ulama berbeda pendapat ketika mendefinisikan asbab an-nuzul, tapi pada hakikatnya definisi yang mereka kemukakan senada.

Asbab an-nuzul dapat didefinisikan sebagai “peristiwa-peristiwa yang direspon oleh satu ayat Al-Qur’an atau lebih. Peristiwa yang dimaksud disini bisa berupa pertanyaan sahabat Nabi Saw tentang suatu hal atau berupa perilaku seseorang yang kemudian dijawab atau direspon oleh Al-Qur’an.’ Menurut Sahiron Syamsuddin, peristiwa-peristiwa tersebut hanya dapat diketahui melalui riwayat.

Sejarah Perkembangan

Menurut Bassam al-Jamal yang saya kutip dari tulisan Mu’ammar Zayn Qadafi, ia membagi sejarah perkembangan ilmu asbab an-nuzul menjadi tiga periode. Periode pertama berlangsung dari abad pertama hingga pertengahan abad kedua Hijriyah. Pada periode ini ‘ilmu asbab an-nuzul belum menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Di masa Nabi, mayoritas informasi asbab an-nuzul yang dicari adalah seputar sirah dan magazi Nabi saw.

Sedangkan periode kedua (dimulai dari pertengahan abad kedua hingga abad keemmpat Hijriyah), riwayat-riwayat asbab an-nuzul mendapat perhatian serius dari para ulama. Bahkan dianggap sebagai pengantar utama dalam memahami Al-Qur’an. Kemudian pada periode ketiga, ilmu asbab an-nuzul mulai menjadi disiplin ilmu tersendiri.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 79: Menulis Kitab Buatan Sendiri

Masih menurut Bassam al-Jamal, secara formal, peletak dasar ilmu asbabun nuzul adalah Al-Wahidi. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan, ilmu asbabun nuzul semakin mendapat perhatian lebih dari para ulama. Karya-karya terkait asbabun nuzul pun terus bermunculan.

Melihat perkembangan ‘ilmu asbab an-nuzul dari era klasik sampai kontemporer, menunjukan bahwa ilmu ini masih terbuka untuk dikaji dan disempurnakan. Tujuan pengembangan ilmu asbab an-nuzul, tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan akan tafsir Al-Qur’an yang pembahasannya makin kompleks.

Kelemahan Asbabun Nuzul Mikro (Asbabun Nuzul Klasik)

Yang dimaksud dengan asbab an-nuzul mikro (menurut al-Dihlawi; asbab an-nuzul khass) adalah riwaayat-riwayat mengenai turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Menurut Mu’ammar Zayn Qadafi, ada beberapa problem akademis terkait asbab an-nuzul mikro. Sebagai berikut: pertama, riwayat asbabun nuzul seringkali dikutip, namun tidak dijadikan pisau analisis untuk menemukan makna terdalam Al-Qur’an.

Kedua, karena mengandalkan mekanisme kritik sanad, maka data-data asbab an-nuzul sulit diverifikasi fakta historisnya. Ketiga, kaidah ‘al-‘ibrah bi ‘umumi lafdzi la bikhususis sabab’ memiliki kelemahan yaitu mengabaikan detail peristiwa. Begitupun sebaliknya, kaidah ‘al-‘ibrah bikhususis sabab la bi ‘umumi lafdzi’, juga memiliki kelemahan yaitu, membatasi qiyas(analogi)  hanyapada logika formal saja. Keempat, asbab an-nuzul seringkali disalahgunakan untuk melegitimasi ismah (keterjangan dari dosa) golongan tertentu.

Asbabun Nuzul Makro Sebagai Penyempurna Asbabun Nuzul Mikro

Bertolak dari kritik diatas, maka munculah kesadaran untuk mengembangkan rumusan asbab annuzul yang tidak hanya mengacu pada mekanisme periwayatan saja. Karena sudah terbukti, banyak riwayat-riwayat tentang asbab an-nuzul yang dinilai cacat sanadnya. Ditambah lagi ada beberapa ahli hadis yang melampirkan banyak cerita terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang sebenarnya bukan asbab an-nuzul, dengan tujuan untuk mendukung penafsirannya.

Baca Juga  Meneropong Metodologi Tafsir Tarbawi

Adalah asy-Syatibi yang mula-mula mencetuskan pentingnya mengetahui konteks sejarah besar sebelum menafsirkan Al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan oleh al-Dihlawi yang membedakan antara asbab annuzul khss (asbab an-nuzul khusus) yang hanya bisa diketahui dari riwayat saja dan asbab an-nuzul haqiqiyyah (asbab an-nuzul principal, dewasa ini dikenal dengan istilah asbab an-nuzul makro) .

Yang dimaksud dengan asbab annuzul makro menurut Sahiron Syamsudin adalah situasi dan kondisi bangsa Arab dan sekitarnya. Khususnya pada abad ke-7 M yang mendapat respon dari Al-Qur’an. Asbab an-nuzul makro oleh al-Dihlawi disebut dengan asbab an-nuzul al-haqiqiyyah (asbab an-nuzul yang principal). Asy-Syatibi menyebutnya dengan konteks sejarah besar. Sedangkan Fazlur Rahman menyebutnya dengan istilah macrosituation (situasi makro).

Mereka pada dasarnya ingin memperlihatkan bahwa konsep asbab annuzul yang sudah dianggap mapan terbukti tidak cukup digunakan sebagai satu-satunya alat bantu tafsir dalam hal kajian sejarah. Tapi ini tidak berarti bahwa teori asbab an-nuzul klasik sepenuhnya tidak dapat dijadikan alat bantu tafsir untuk saat ini. Menurut asy-Syatibi, justru riwayat-riwayat tentang asbab annuzul dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk memahami konteks sejarah yang lebih besar disekitar turunnya A-Qur’an.

Penyunting: M. Bukhari Muslim