Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Penciptaan Perempuan Pertama: Tidak Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam

Perempuan Pertama
Gambar: Dream.co.id

Menurut Al-Qur’an, hawa yang diidentifikasi sebagai perempuan pertama, tidaklah diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam yang paling bengkok. Sebagaimana pandangan mufasir terdahulu yang bersumber dari riwayat mantan ahlul kitab. Penciptaan perempuan pertama juga tidak berasal dari tulang rusuk laki-laki, melainkan diciptakan dari asal yang sama dengan laki-laki.

Oleh karena itu, tidak bijak jika penciptaan perempuan dijadikan alasan melakukan subordinasi terhadap perempuan. Sebab, perempuan dan laki-laki, menurut Al-Qur’an diciptakan dari asal yang sama. Perbedaan jenis kelamin tidak berarti perbedaan kelas dan prioritas, melainkan agar terjadi mutualis dan mitra (Azwaj) yang paling melengkapi.

Salah Kaprah Soal Perempuan Pertama

Pada hal-hal yang berkaitan dengan asal-usul penciptaan, proses reproduksi, dan tujuan penciptaan semua manusia, Al Qur’an tidak menarik kategorisasi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan keduanya yang meliputi struktur anatomi tubuh, organ reproduksi. Hal ini merupakan wujud komitmen Tuhan yang menciptakan segala kosmos secara berpasang-pasangan, dengan tujuan agar proses reproduksi dapat berjalan lancar.

Perbedaan ini sama sekali tidak dapat dijadikan dasar untuk membedakan perempuan. Namun harus dipandang sebagai sebuah keniscayaan agar tercipta hubungan mutualis dan interdependensi diantara dua jenis manusia tersebut.

Mengenai asal-usul kejadian manusia, sebagaimana disebutkan pada hampir semua kitab tafsir, dijelaskan bahwa manusia pertama adalah Adam a.s. Ia merupakan manusia yang selama ini diyakini sebagai nenek moyang semua manusia. Al-Qur’an mendeskripsikan bahwa ketika Allah menyatakan keinginannya akan menjadikan khalifah dibumi, malaikat mengajukan “keberatan” dan “protes”.

Mereka bertanya, “apakah engkau akan menjadikan makhluk yang akan melakukan kerusakan serta pertumpahan darah di dalamnya?”. Sebagian ulama mengakui bahwa ayat ini menjelaskan mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah (manusia pertama) di dunia.

Baca Juga  Tafsir Surah An-Nisa’: Self-Harm dalam Perspektif Islam

Pandangan ini, didasarkan pada penjelasan ayat selanjutnya, yaitu ayat 31 surat Al-Baqarah. Sebagian ulama memahami, ayat ini menjelaskan kelebihan Adam dibanding makhluk lainnya (malaikat dan iblis) karena diberikan ilmu untuk mengetahui segala sesuatu, mulai dari yang kecil sampai kepada yang besar, yang tidak diketahui oleh malaikat.

Jika sekiranya hawa adalah mahkluk (perempuan) pertama, maka manusia diciptakan dari dua diri. Bukannya dari satu diri. Sebab hal ini dapat diselesaikan dengan menganggap kata “min” berfungsi sebagai “bentuk pertama” (ibtida’ al-gayah), maka ketika permulaan ciptaan dan wujud terjadi pada diri Adam a.s., benarlah pernyataan bahwa “kamu sekalian diciptakan dari diri yang satu”.

Demikian pula jika dikatakan bahwa “sesungguhnya Allah Swt, berkuasa untuk menciptakan Adam dari tanah, maka ia pun akan berkuasa untuk menciptakan hawa dari tanah”. Maka apa gunanya pernyataan, “ia diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam”.

Ragam Ekspresi Penciptaan Manusia

Di dalam Al-Qur’an, istilah penciptaan manusia direpresentasikan lewat kosa kata yang beragam, sebagai berikut :

Pertama, al-ma’, jika diterjemahkan didalam bahasa Indonesia bermakna Air. Nazwar Syamsu dalam bukunya yang berjudul Al-Qur’an tentang Al-Insan, al-ma’ diterjemahkan sebagai hydrogen seperti yang terdapat pada surat al-Furqan [25]:54 وهوالذى خلق من الماءبشرافجعله نسباوصهرا، وكان ربك قدير ٥٤ , Al-Anbiya’ [21]:30 أولم سر الذين كفرو أن السموت والأرض كانتا رتقا ففتقنهما، تجعلنا من الماء كل شيءحى، أفلايؤمنون ٣٠

Kedua, annafs (tunggal) atau al-anfus (jamak) seperti terdapat dalam surat Al-Nisa [4]:1 ياايها الناس اتقواربكم الذى خلقكم من نفس وحدة وخلق منهازوجها وبث منهمارجالاكثيرا ونساء، وتقواللهالذى تساءلون به والارحام، إن اللهكان عليكم رقيبا ١, Al-A’raf [7]:189 هوالذى خلقكم من نفس وحداةوجعل منهازوجهاليسكن إليها، فلما تغشها حملت حملاخفيفافمرت به، فلماأثقلت دعوااللهربهمالئنءاتيتنا صلحالنكونن من الشكرين ١٨٩

Baca Juga  Makna Filosofis Merah Delima dalam Al-Qur’an

Ketiga, al-tin yang bermakna tanah, namun demikian, nazwar mengartikannya dengan meteor, disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun [23]:12 وايدخلقنا الانسن من سللت من طين ١٢, Al-Sajdah [32]:7 الذى أحسن كل شيء خلقه، وبدأخلق الانس من طين ٧، Sad [38]:76 قال أنا خير منه، خلقتنى من ناروخلقته من طين ٧٦

Keempat, al-turab, artinya tanah. Sedangkan menurut Nazwar Syamsu berarti sari tanah. Seperti terdapat pada surat Ali Imran [3]:59 كن فيكن  إن مثل عيسى عندالله كمثلءادم، خلقه من ترب ثم قال لهAl-Waqiah [56]:47  وكانوا يقولون أئذامتنا وكنا ترابا وعظما أءنا لمبعوثو

Kelima, nutfah, yang memiliki arti yaitu sperma, seperti terdapat dalam surat Al-Kahfi [18]:37 قال له صاحبه وهويحاوره أكفرت بالذى خلقكم من ارغب ثم من نطفة ثم سوك رجلا,  surat Fatir [35]:11 والله خلقكم من تراب ثم من نطفة ثم جعلكم أزوجا، وما تحمل من أنثى ولاتضع إلا بعلمه

Proses Penciptaan Perempuan Pertama

Sementara itu, menurut Ibnu Katsir penciptaan perempuan pertama dibagi menjadi empat konsep, sebagai berikut ini:

Pertama, penciptaan Adam dari tanah, yang dihasilkan dari laki-laki maupun perempuan. Kedua, penciptaan hawa melalui laki-laki tanpa perempuan. Ketiga, penciptaan Isa melalui perempuan dengan proses kehamilan tanpa adanya campur tangan laki-laki baik secara hukum maupun biologis.

Keempat, penciptaan manusia selain Adam, hawa, dan Isa yaitu melalui proses kehamilan dengan adanya ayah secara biologis dan hukum atau minimal secara biologis (dari pria dan wanita).

Penutup

Dari lima macam cara penciptaan manusia dan empat konsep penciptaan perempuan pertama menurut Ibnu Katsir, hanya Hawa yang asal-usulnya masih tidak jelas bagaimana mekanisme penciptaannya.

Penciptaan Hawa lebih mengacu pada kata nafs yang terdapat pada 3 ayat yaitu Qs An-Nisa’ [4]:1, Qs. Al-A’raf [7]:189, dan Qs. Az-Zumar [39]:6. Dari ketiga ayat tersebut yang dijadikan sebagai landasan, yaitu kata nafsin wahidah, minha, dan zaujaha. Begitulah konsep penciptaan perempuan dalam Al-Qur’an.

Baca Juga  Perkembangan Tafsir di Dunia Muslim Non Arab

Penyunting: Bukhari