Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pemikiran Tafsir Asghar Ali Engineer Tentang Makna Jihad

asghar
Sumber: istockphoto.com

Asghar Ali Engineer merupakan aktivis sekaligus pemikir yang terkenal dengan kontribusinya pada studi Islam dan gerakan progresif. Salah satu karya besar yang dihadirkan oleh Engineer adalah pemikirannya tentang “Islam dan Teologi Pembebasan”. Ia meninggalkan begitu banyak buah pemikiran yang membahas pelbagai topik: sejarah Islam, teologi pembebasan, studi konflik etnis dan komunal, analisa gender, dan lain sebagainya.

Melihat begitu besarnya kontribusi Engineer bagi dunia Islam dan gerakan Islam progresif pada umumnya, maka saya tertarik untuk memperbincangkan kembali buah pemikirannya yang brilian ini. Namun dikarenakan banyaknya jumlah dan luasnya cakupan pemikiran Engineer, adalah mustahil untuk membahasnya secara mendetail. Oleh karena itu, saya akan fokus pada tema bagaimana penafsiran Asghar Ali Engineer terhadap makna jihad.

Sekilas Tentang Asghar Ali Engineer

Asghar Ali Engineer lahir di India pada tanggal 10 Maret 1939 di sebuah daerah bernama Salumbar Rajasthan. Ia berasal dari keluarga Bohras yang merupakan sekte dari Syiah Ismailiyah. Ayahnya, Syekh Qurban Husain, salah seorang ulama dan pemimpin Dawoodi Bohras, dan ibunya bernama Maryam.

Komunitas Bohras termasuk sekte Syiah yang beraliran ekstrem-fundamental. Kendati demikian, ayah Engineer lebih dikenal sebagai ulama liberal, terbuka dan berpikiran inklusif terutama ketika melakukan diskusi-diskusi dengan kelompok yang berbeda aliran atau agama.

Engineer kecil memperoleh pendidikan agama pertama kali dari ayahnya sendiri seperti bahasa Arab, tafsir, kitab suci al-Quran, hadis, dan fikih. Hal ini wajar, karena ayah Engineer adalah seorang ulama yang menguasai pelbagai bidang ilmu agama.

Yang menarik dari keluarga Engineer adalah ayahnya tidak membatasi Engineer mempelajari ilmu agama semata, tetapi ia mendorongnya untuk mempelajari pelbagai disiplin ilmu tanpa melakukan pemisahan antara ilmu sekuler modern dengan ilmu agama. Kondisi ini mempertegas bahwa lingkungan keluarga Engineer adalah lingkungan pluralis, inklusif, dan moderat.

Baca Juga  Faham Feminisme Tidak Bertentangan dengan Islam?

Sebelum memfokuskan dirinya pada dunia pemikiran dan aktivisme, Engineer bekerja di BUMN India sebagai seorang engineer profesional selama 20 tahun sebelum akhirnya bergabung pada gerakan reformasi Dawoodi Bohras sekitar tahun 1970-an. Kebetulan, sewaktu kuliah, ia mengambil jurusan teknik sipil di Universitas Virkam.

Selama kariernya, ia mendirikan dan menakhodai sejumlah lembaga yang bergerak dalam penyebaran ide-ide progresif, seperti Institut of Islamic Studies (IIS), Center for Study of Society and Secularism (CSSS), dan Asian Muslim Action Network (AMAN). Tidak hanya itu, Engineer termasuk intelektual produktif. Dia menulis kurang lebih 40 buku dalam berbagai bidang keislaman dan menulis berbagai artikel yang telah dipublikasikan di berbagai penerbit dan website.

Jihad Menurut Asghar Ali Engineer

Beberapa tahun terakhir, terminologi jihad mengalami distorsi makna bahkan kerap kali dimanipulasi oleh sebagian kelompok untuk memuluskan agendanya, seperti HTI, ISIS, JI, JAD dan lain sebagainya. Tak ayal, yang tampak ke permukaan adalah sikap radikal, ekstrem, klaim kebenaran tunggal hingga aksi teror. Ini, tentu memerlukan pemahaman kembali ihwal hakikat jihad itu sendiri.

Dalam pandangan Asghar Ali Engineer, jihad haruslah dimaknai sebagai suatu gerakan perjuangan untuk menghapus segala bentuk eksploitasi, diskriminasi, korupsi dan kezaliman dalam pelbagai bentuknya. Pun, perjuangan ini senantiasa digalakkan hingga pengaruh destruktif hilang secara permanen di muka bumi.

Pemaknaan Engineer semacam ini, berlandaskan kepada semangat pembebasan dalam Al-Quran. Dimana Al-Quran, diturunkan bertujuan untuk membebaskan umat manusia dari pelbagai belenggu yang mengitarinya, baik persoalan ekonomi maupun sosial. Bahkan, pada praktiknya jihad tidak bisa dipisahkan dari keimanan seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula kepeduliannya terhadap masyarakat tertindas.

Baca Juga  2 Ranah Peran Perempuan dalam Perspektif Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu, menurut Asghar Ali Engineer struktur sosial yang sangat menindas dan mengeksploitasi terhadap manusia harus diubah melalui jihad atau perjuangan yang kerap menagih pengorbanan. Sehingga, tatanan kehidupan yang adil dan sejahtera bisa tercapai.

Contoh penafsiran Engineer terhadap jihad dalam QS. Al-Baqarah (2): 190, yakni:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

​Artinya, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Baqarah (2): 190)

Menurut Engineer, ayat di atas menunjukkan dua hal yang sangat penting. Pertama, berperang diperbolehkan bagi kaum Muslimin ketika mereka diperangi terlebih dahulu. Kedua, ketika kaum Muslimin berperang, sangat dilarang untuk berbuat melampaui batas.

Jihad Melawan Penindasan

Bahkan menurut Engineer, pedang bukanlah satu-satunya senjata dalam berjihad. Namun, senjata yang sebenarnya adalah keyakinan diri dan usaha tanpa henti dalam menebarkan cinta-kasih dan kedamaian serta keadilan dalam menjalani kehidupan. Sebab, Al-Quran menganjurkan untuk senantiasa menyampaikan segala sesuatu dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Karena, hal ini lebih baik daripada menggunakan kekerasan.

Selain itu, Engineer juga merujuk pada QS. Al-Anfal (8): 39, yaitu:

وَقَاتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهٗ لِلّٰهِۚ فَاِنِ انْتَهَوْا فَاِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya, “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya supaya agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal (8): 39)

Menurut Asghar Ali Engineer, ayat di atas mengisyaratkan bahwa Allah menginginkan seseorang yang beriman untuk selalu berjuang secara penuh sehingga segala bentuk penindasan yang bermuara pada penyengsaraan masyarakat di muka bumi berhenti. Dan, umat Islam tidak sekadar menjadi “penonton” melainkan juga menjadi aktor dalam mewujudkan perubahan dengan cara bekerja secara aktif atau berjihad.

Baca Juga  Stoikisme: Bersyukur atas Segala Kehendak Allah

Dengan demikian, jelaslah bahwa penafsiran Asghar Ali Engineer terhadap jihad tidak seperti kebanyakan para kelompok radikal-ekstremis yang kerap memaknainya terbatas pada kekerasan. Tetapi, penafsiran Engineer lebih bersifat transformatif dan lebih ‘dekat’ pula pada tatanan kehidupan umat manusia.

Editor: An-Najmi Fikri R