Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pemikiran Abu Ubaid Dengan Perekonomian Di Masa Pandemi

abu ubaid
Sumber: http://www.wartanusantara.id/

Sejarah pemikiran ekonomi Islam berawal sejak masa Rasullullah SAW, yaitu ketika al-Quran dan al-Hadits diturunkan. Pemikiran-pemikiran para cendikiawan muslim pada dasarnya berusaha untuk mengembangkan konsep-konsep Islam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan tetap bersandar kepada al-Quran dan al-Hadits.

Harus diakui bahwa para cendikiawan muslim pada masa lalu banyak membaca karya-karya pemikir Yunani dan Romawi. Akan tetapi, mereka tidak menjiplak tulisan-tulisan tersebut, melainkan memperdalam, mengembangkan, memperkaya dan memodifikasi sesuai dengan ajaran Islam.

Menurut Muhammad Nejatullah al-Shiddiqi, pemikiran ekonomi Islam adalah respon para cendikiawan muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam tersebut diilhami dan dipandu oleh ajaran al-Quran, al-Hadits, ijtihad dan pengalaman empiris mereka.

Salah satu pemikir ekonomi Islam tersebut adalah Abu Ubaid, ia merupakan orang pertama yang memotret kegiatan perekonomian di zaman orang pertama yang memotret kegiatan perekonomian di zaman Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, para sahabat dan tabi’in-tabi’in.

Konsep dan Teori Ekonomi Abu Ubaid

Dari Kitab al Amwal, maka secara filosofis hukum akan jelas bahwa Abu Ubaid menekankan keadilan sebagai prinsip utama. Bagi Abu Ubaid, pengimplementasian dari prinsip-prinsip ini akan membawa kepada kesejahteraan ekonomi dan keselarasan sosial. Abu Ubaid juga memiliki pendekatan yang seimbang terhadap hak-hak individu, publik dan negara.

Pada masa keemasan Islam, yaitu pada masa Dinasti Abassiah, maka Abu Ubaid menitik beratkan tulisannya pada masalah yang berkaitan dengan khalifah dalam rangka mengambil suatu kebijakan dalam memutuskan suatu perkara selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan kepentingan masyarakat.

Sehingga dengan demikian, Abu Ubaid menyatakan bahwa zakat tabungan dapat diberikan kepada negara atau pribadi penerima secara langsung, tapi bagi zakat komoditas harus diberikan kepada pemerintah dan jika tidak, maka kewajiban agama diasumsikan tidak dilaksanakan.

Baca Juga  Manusia dan Pandemi Covid-19

Di sisi lain, Abu Ubaid juga menekankan bahwa perbendaharaan negara tidak boleh disalahgunakan atau dimamfaatkan untuk kepentingan pribadi. Dengan kata lain, perbendaharaan negara harus digunakan untuk kepentingan publik.

Ketika membahas masalah pajak atau kharaj dan jizyah, Abu Ubaid menyinggung tentang pentingnya keseimbangan antara kekuatan finansial penduduk non muslim dengan kepentingan dari golongan Muslim yang berhak menerimanya.

Abu Ubaid juga menyatakan bahwa tarif pajak kontraktual tidak dapat ditunaikan, bahkan dapat diturunkan apabila terjadi ketidakmampuan membayarnya.Jika seorang penduduk non muslim mengajukan permohonan bebas utang dan dibenarkn oleh saksi Muslim, maka barang perdagangan mereka tersebut yang setara dengan jumlah utangnya.

Dalam masalah pemungutan kharaj, jizyah, ushur dan zakat, Abu Ubaid tidak memaksa masyarakat agar memenuhi kewajiban finansialnya secara teratur dan seharusnya, dengan kata lain, Abu Ubaid menghentikan system diskriminasi dan eksploitasi serta dan penindasan dalam perpajakan serta upaya penghindari pajak.

Analisis Pemikiran Abu Ubaid Dengan Perekonomian Modern

Pandangan ekonomi menurut Abu Ubaid yang relevan dengan perekonomian modern meliputi perdagangan Internasional antar negara yang melintasi batas-batas suatu negara. Jauh sebelum teori perdagangan internasional ditemukan di Barat, Islam telah menerapkan konsep-konsep perdagangan internasional.

Abu Ubaid memiliki pendekatan yang berimbang terhadap hak individu, publik dan Negara. Kepentingan individu berbenturan dengan kepentingan publik, Abu Ubaid akan berpihak pada kepentingan publik.

Dalam kitab al-Amwal, menyatakan bahwa segala kebijakan yang hanya menguntungkan sekelompok masyarakat dan membebani sekelompok masyarakat yang lainya harus dihindari Negara semaksimal mungkin.

Jelas bahwa doktrin yang disampaikan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Al-Amwal adalah pembelaan terhadap pelaksanaan distribusi kekayaan secara adil dan merata berdasarkan prinsip keadilan fiskal dengan sebaik mungkin.

Baca Juga  Paulo Freire: Filsafat Pendidikan dan Peradaban Islam (2)

Abu Ubaid ingin menyatakan bahwa semua kebijakan yang hanya menguntungkan sekelompok masyarakat dan membebani kelompok masyarakat lain harus dihindari oleh negara. Kekayaan negara harus selalu digunakan untuk kebaikan bersama dan mengawasi hak milik pribadi agar tidak disalahgunakanbagi masyarakat umum.

Selain itu, Abu Ubaid juga dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah harus memberikan jaminan standar kehidupan yang layak bagi setiap individu dalam masyarakat.

Pada dasarnya, peran dan hubungan erat antara uang dan kegiatan ekonomi dapat dianggap sebagai hal yang wajar karena semua kegiatan ekonomi modern, seperti produksi, investasi, dan konsumsi, selalu melibatkan uang. Uang adalah objek yang dapat ditukarkan untuk objek lain, dapat digunakan untuk menilai objek lain, dan dapat disimpan.

Pandangan Pemikiran Abu UbaidTerhadap Pandemi Saat Ini

Hampir setahun lebih penyebaran pandemi Covid-19 menimpa Indonesia, virus ini bukan hanya merampas ribuan nyawa, namun juga merampas perekonomiann negara dan masyarakat serta merampas kehidupan sosial. Seperti, para pekerja yang dipulangkan, hancurnya dunia UMKM, sehingga berpotensi naiknya tingkat kemiskinan.

Pada masa pandemi Covid-19, indonesia sebagai negara populasi muslim terbesar di dunia, umat muslim dapat memberikan peran terbaiknya melalui berbagai cara, peran tersebut diharapkan dapat mengatasi dampak yang diakibatkan oleh covid-19, yakni keguncangan ekonomi serta bertambahnya angka kemiskinan.

Jika di kaitan dengan pemikiran Abu ‘Ubaid al-Qasim yang menggunakan perspektif hukum Islam di antaranya adalah Zakat. Abu Ubaid berpendapat bahwa zakat menjadi wajib di tunaikan ketika eorang muslim sudah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dirinya, keluarganya, dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Masyarakat muslim diingatkan untuk selalu membantu sesama terlebih kepada kaum yang lemah (berdampak) melalui zakat. terlebih, potensi zakat di Indonesia selama ini sangat berpengaruh besar untuk pemerdayaan ekonomi masyarakat. Dana zakat bisa digunakan sebagai pengelolaan bencana musibah.

Baca Juga  Rusaknya Agama Seiring Rusaknya Lingkungan

Pemanfaatan dana zakat yang digunakan untuk keperluan bencana dapat disalurkan untuk orang-orang yang membutuhkan atau terdampak pandemi. Dampak yang diakibatkan dari pandemi ini membuat perekonomian masyarakat kurang stabil, selain itu terjadinya penambahan jumlah kemiskinan di Indonesia yang di akibatkan oleh pandemic covid-19.

Sebagai solusi menanggulangi Covid-19 yang saat ini tengah dihadap.Zakat dalammengupayakan dampak Covid-19 menfokuskan pendayagunaan dan pendistribusian pada program penyaluran khusus. Penyaluran zakat menjadi solusi dimasa pandemi yang diberikan kepada masyarakat terdampak baik muslim maupun non muslim.

Pemikiran ekonomi islam Abu Ubaid dapat dijadikan pedoman dalam berekonomi. Jika program-programnya bisa terselenggarakan dengan baik, serta penanganan yang tepat, maka zakat menjadi sumber dana yang mampu digunakan untuk kesejahteraan umum.

Editor: An-Najmi Fikri R