Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pemaknaan Ulul Albab dalam Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu

izutsu

Semantik Toshihiko Izutsu

Di antara beberapa ilmuwan yang mengkaji analisis semantik al-Qur’an, Toshiko Izutsu merupakan sarjana yang menganggap bahwa semantik bukan hanya analisis sederhana terhadap struktur bentuk kata maupun kajian terhadap makna asli yang melekat pada bentuk kata tersebut (analisis etimologis). Tetapi, lebih penting lagi, sebagai kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. 

Agar tidak terjadi eliminasi dalam memahami konsep weltanschauung al- Qur’an, Izutsu berusaha untuk membiarkan al-Qur’an menjelaskan konsepnya sendiri dan berbicara untuk dirinya sendiri. Dalam konteks ini, metode yang diusung Izutsu adalah dengan mengumpulkan semua kata-kata penting yang mewakili konsep-konsep penting seperti kata Allah, Islam, nabi, iman, kafir, dan lain sebagainya. Kemudian menelaah makna kata-kata tersebut dalam konteks al-Qur’an. Kata-kata penting ini oleh Izutsu disebut sebagai istilah-istilah kunci.

Dalam pengamatan Izutsu, setiap kata sudah tentu memiliki makna dasar dan makna relasional. Makna dasar dapat disinonimkan dengan makna leksikal, sementara makna relasional hampir mendekati makna kontekstual. Oleh karena itu pembahasan tentang makna ulul albab mengunakan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Karena persoalan kronologi sejarah linguistiknya akan terlihat pada masa pra-qur’anik, qur’anik dan pasca-qur’anik. Sehingga akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan utuh tentang makna ulul albab dalam al-Qur’an.

Dengan demikian, setiap kata dalam al-Qur’an memiliki makna korelasi dengan kata disekitarnya. Sehingga dalam pemaknaannya akan menghasilkan makna yang selaras dan terlepas dari makna dasarnya. Maka dari itu, konsep semantik yang digagas oleh Toshiko Izutsu akan semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi manusia sebagai konsumen.

Makna Dasar Ulul Albab

Makna dasar yang dimaksud oleh Toshihiko Izutsu adalah makna yang selalu melekat kepada kata dan menjadi identitas dasar. Kata ulul albab atau merupakan bentuk posesif yang terdiri dari kata ulu sebagai kata pertama yang berupa muḍaf, dan kata albab sebagai kata kedua berupa muḍaf ilaih. Kata ulu merupakan bentuk jamak untuk jenis laki-laki yang mempunyai arti ذَوُو atau صَاحِب berarti ‘yang memiliki’, ‘yang dianugrahi’.

Baca Juga  Israiliyat: Contoh dan Cara Menyikapinya

Sedangkan kata al-albab ialah bentuk jamak dari kata al-lubb yang berarti isi, inti sari, sebagaimana ungkapan lubb al-mawḍū’ yang berarti ‘inti pembicaraan’. Bentuk jamak lain dari kata al-lubb adalah al-labīb yang berarti cerdik dan pandai. Menurut al-Aṣfahani kata al-lubb memiliki makna inti akal yang bersih dari beberapa kerancuan dalam berpikir, seperti ungkapan lubb al- ṭa’am bermakna inti makanan yang bersih dari kotoran.

Kata al-lubb juga dapat berarti menghabiskan segala sesuatu. Lalu digunakan untuk sebutan akal, karena akal dapat menghabiskan segala ilmu yang ada. Dengan demikian, makna dasar ūlul albāb setelah melakukan analisis dimanapun kata ini diletakkan, ia tetap mempertahankan unsur semantiknya sebagai orang yang memiliki akal pengetahuan.

Makna Sinkronik dan Diakronik Kata Ulul Albab

Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam maka dibutuhkan pendekatan sinkronik dan diakronik dalam memaknai kata. Sinkronik adalah konsep kata yang maknanya tidak berubah dari asalnya atau bersifat statis. Sedangkan diakronik adalah konsep kata yang selalu berubah pemaknaannya sesuai dengan kondisi dan konteks yang ada dengan cara yang khas. Hal ini dibagi menjadi 3 bagian, pra qur’anik, qur’anik dan pasca qur’anik menurut Toshihiko Izutsu.

Periode Pra-Qur’anik

Pada periode ini kita dapat mengacu kepada kebudayaan bangsa arab yang maju dalam bidang syair dan prosa yang berisi tentang: cinta, perdamaian, solidaritas dan permusuhan. Pada masa ini, kata ulul albab tidak berkonotasi religius, kata ini hanya digunakan untuk sebutan akal. Seperti dalam beberapa syair yang dijumpai:

قال أبو طالب : قلبي اليه مشرف الألب

Abū Ṭhalib berkata: hati saya cenderung kepadanya memuliakan yang berakal.

Kemudian syair karya Ḥakīm mengartikan kata labīb dengan makna akal Pengetahuan:

ومن الدليل على القضاء وكونه , بؤس البيب وطيب عيش الاحمق

Bukti dari adanya kekuasaan adalah kehidupan buruk bagi orang berakal dan kehidupan layak bagi orang bodoh.

Beberapa syair tersebut sejatinya menunjukkan bahwa kata albab atau labib mengandung arti kondisi seseorang yang memiliki akal pengetahuan, dan dengan pengetahuannya itu ia di anggap istimewa dan berbeda dengan yang lainnya.

Baca Juga  Tafsir Q.S. Surah Al-Baqarah Ayat 214: Integrasi Derita dan Pertolongan Allah

Periode Qur’anik

Pada masa qur’anik ini adalah masa diturunkannya al-Qur’an sekitar 23 tahun yang otoritas penafsiran dan pemaknaan dipegang penuh oleh nabi. Untuk memaknai kata ulul albab pada periode ini harus dibagi menjadi 2 periode, Makkiyah dan Madaniyah. Karena makna kata ulul albab dalam 2 periode itu berbeda.

Dalam periode Mekkah, makna ulul albab konteksnya adalah lebih cenderung pada makna orang-orang yang memiliki akal pengetahuan yang mampu mengambil setiap pelajaran dari apa yang diberikan oleh Allah untuk hamba-Nya. Pelajaran yang diberikan tersebut bisa melalui al-Qur’an dan hadis, kisah-kisah nabi terdahulu, peringatan, anjuran, ancaman dan lain sebagainya.

Sedangkan periode Madinah konteks ayat-ayat ūlū al-albāb lebih mengarah kepada perintah dalam nada seruan atau panggilan agar sosok ulul albab lebih meningkatkan ketakwaannya dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Karena semua amal yang dilakukan akan mendapat balasan yang sesuai.

Periode Pasca Qur’anik

Pada masa ini, pemaknaan kata ulul albab dibagi menjadi 3 periode. Yakni periode klasik 6-7 M, periode pertengahan 9-15 M dan periode modern-kontemporer 18-21 M.

  • Periode Klasik (6-7 M)

Pada fase ini, penafsiran al-Qur’an masih seputar ayat-ayat yang sukar dipahami. Sehingga belum terjadi interpretasi makna ulul albab pada masa ini. Karena periwayatan tafsir hanya mencakup dari hadis-hadis dan penjelasan para sahabat dan tabiin. Dengan demikian, kata ulul albab pada periode ini tetap pada makna dasarnya dan belum mengalami perkembangan makna. Yakni ulul albab dalam arti orang-orang yang memiliki akal pengetahuan.

  • Periode Pertengahan (9-15 M)

Tafsir pada periode pertengahan ini, di samping sudah mulai mengarah secara spesifik pada aliran tertentu, penafsiran al-Qur’an juga sudah dipengaruhi oleh kepentingan mufassir yang mendukung disiplin ilmu tertentu. Oleh karena itu, produk tafsir yang dihasilkan memiliki kekhususan sesuai dengan karakter mufassir pada masanya. Pada periode ini makna ulul albab tidak semata orang yang memiliki pengetahuan, tetapi sudah bervariasi. Yaitu sesuai latar belakang mufassir dan aliran yang diikuti.

Baca Juga  Tafsir Surat An-Nisa' Ayat 78: Kematian Tidak Bisa Dihindari

Ibn Katsīr misalnya menafsirkan ulul albab dengan arti orang yang mempunyai akal sempurna serta memiliki sebuah pemahaman yang benar. Abū Ḥayyān menafsirkan ulul albab sebagai orang yang bisa membedakan antara sesuatu yang benar dan salah. Definisi ini selaras dengan pendapat at-Thabari mengenai ulul albab. Yakni yang mampu membedakan yang benar dan salah, serta memiliki pemikiran yang benar. Pendapat lain dikemukakan al-Zamakhsyarī. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ulul albāb adalah seseorang yang mampu menyampaikan pesan-pesan Allah yang terdapat dalam al-Qur’an.

Perbedaan pendapat di kalangan mufassir merupakan hal yang wajar. Karena kapasitas dan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda. Sehingga pendapatnya juga menyesuaikan dengan kapasitas keilmuan.

Perkembangan Makna Ulul Albab

  • Periode Modern – Kontemporer (18-21 M)

Periode modern kontemporer ini adalah penafsiran ayat al-Qur’an yang disesuaikan dengan kondisi kekinian. Definisi ini sejalan dengan definisi tajdīd, yakni sebuah usaha untuk menyesuaikan ajaran agama dengan kehidupan kontemporer. Dengan jalan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kondisi sosial masyarakat.

Hal ini perlu dipahami, bukan berarti al-Qur’an yang harus menyesuaikan dengan kondisi. Tetapi merekonstruksi kembali produk-produk tafsir klasik yang sudah tidak memiliki relevansi dengan situasi modern-kontemporer. Tokoh-tokoh pemikir tafsir modern-kontemporer ini bisa dilacak pada tokoh semisal Muḥammad Abduh, Rasyid Riḍha, al-Maraghi, Sayyid Quṭub, Mahmud Syaltut, M. Quraish Shihab, Amina Wadud Muhsin, Hassan Hanafi, Binti Syati’, dan lain sebagainya.

Pada periode ini istilah ulul albab tidak dimaknai sesuai makna dasar melainkan beragam. Al-Maraghi dan Sayyid Quthub memaknai ulul albab sebagai mata hati yang terang. Karena tidak akan mampu menjelaskan ilmu pengetahuan jika tidak memiliki hati (rohani) yang bersih. Sedangkan Quraish Shihab mengartikan ulul albab sebagai orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kerancuan dalam berpikir.

Penyunting: M. Bukhari Muslim