Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pemaknaan Ayat Cahaya (3): Mendaki Lapisan Cahaya

lapisan
Gambar: dictio.id

Cahaya dan kegelapan kadang ditafsirkan sebagai dua hal yang saling mengharuskan keberadaan lainnya. Dikatakan, kegelapan mempunyai suatu aspek tertentu sebab cahaya tidak dapat mewujudkan dirinya sendiri tanpa kegelapan. Dalam batasan ini, wajar Ibn ‘Arabi berkata, “kegelapan itu sejenis cahaya”. Senada dengan ini, Sachiko Murata menafsirkan pendapat ‘Azīz al-Dīn Nasafi, bahwa di dalam kosmos, cahaya dan kegelapan saling membutuhkan dan tidak terpisahkan satu sama lain.

Meskipun cahaya secara inheren terwujud, dalam dirinya sendiri — dalam Tuhan — ia tidak dapat dilihat dikarenakan intensitas perwujudannnya. Jadi kegelapan adalah yin yang memungkinkan cahaya yang untuk muncul. Dan dalam Sūrat al-Nūr: 35, cahaya menjadi terwujud hanya dalam sebuah ceruk, yang merupakan kegelapan.

Suhrāwardi dan Dua Kategori Cahaya

Dalam hikmat al-isyrāq, Suhrāwardi, yang menurut Fazlur Rahman berusaha menerjemahkan fenomena kognisi ke dalam istilah “cahaya”, mengelompokkan cahaya dalam dua kategori (lapisan). Pertama, cahaya dalam realitas dirinya sendiri (nūr fī haqīqat nafsih). Yang ini, ia bagi lagi menjadi: 1) cahaya aksidental (al-nūr al-‘āridh) yang merupakan “bentuk/kondisi” (hay’ah) sesuatu yang lain, terkandung dalam sesuatu itu, seperti cahaya matahari dan api; 2) cahaya asli (al-nūr al-mahdh), pada lapisan ini cahaya yang dimaksud ialah cahaya yang menghidupi sendiri, tak tercampur dan tak inheren dalam sesuatu yang lain, yaitu Cahaya Segala Cahaya.

Kedua, yang bukan cahaya dalam dirinya sendiri. Yang ini ia bagi lagi menjadi beberapa lapisan: 1) “substansi gelap” (jawhar ghāsiq), sesuatu yang tidak memerlukan tempat (mustaghni ‘an al-mahall); 2) “bentuk gelap” (hay’ah zhulmāniyyah), yang merupakan keadaan/bentuk bagi sesuatu yang lain; 3) yang merupakan perantara atau “objek pertengahan” (barzakh), yakni badan. Sedangkan yang terakhir ia bagi lagi menjadi lapisan: 1) yang menjadi gelap ketika cahaya menghilang darinya; 2) yang gelap tetapi memenuhi diri ketika cahaya menghilang darinya,  dan 3) yang tak pernah terpisah dari cahaya.

Suhrāwardi juga meyakini bahwa cahaya mempunyai gradasi. Cahaya bersifat “mesti” pada suatu tataran (martabah) dan “mungkin” (mumkin) pada tataran lain, substansi pada suatu tataran dan aksiden pada tataran lain. Dikatakan, segala sesuatu dalam kosmos merefleksikan cahaya dalam tataran yang berbeda. Ada hirarki yang amat luas, jika bukan tak terhingga.

Perumpamaan Cahaya Allah

Pada ayat sebelumnya (24:34), Allah menjelaskan bahwa Dia menurunkan āyāt mubayyināt dan matsal. Ayat ini seolah menjadi pembatas bagi hukum-hukum Allah yang gamblang dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya dengan perumpamaan-perumpamaan yang tertuang pada ayat-ayat selanjutnya.

Berikut kita tengok beberapa pendapat di seputar tasybīh tamtsīli yang dikandung ayat 35 dengan berpatokan pada beberapa kata kuncinya, seperti ceruk, lampu, kaca, bintang, pohon, Timur dan Barat, minyak, serta api. Perlu diketahui sesungguhnya terdapat empat pendapat para mufasir mengenai penisbatan cahaya dalam ayat ini (dalam frase “matsal nūrih”), yakni: 1) cahaya Allah (di hati Muhammad atau di hati mukmin), 2) cahaya Muhammad (di hati mukmin), 3) cahaya mukmin (di hati mereka), dan 4) cahaya al-Qur’an (di hati Muhammad). Hanya saja, mayoritas mufasir memegang pendapat bahwa yang dimaksud frasa itu ialah cahaya Allah (di hati orang beriman).

Baca Juga  Sumbangsi Besar Al-Quran Terhadap Perkembangan Sains Modern

Dari Ibn ‘Abbās diriwayatkan takwil bahwa hati Nabi Saw disamakan dengan bintang yang bercahaya (al-kawkab al-durrīy). Pohon yang berbarakah melambangkan Ibrahim as. “Tidak Timur dan tidak Barat” bermakna bukan Nasrani yang shalat menghadap ke timur, bukan pula Yahudi yang shalat menghadap ke barat. “Minyak yang jernih” melambangkan agama Ibrāhim as. yang hanīf itu.

Ghazāli memahami perumpamaan itu sebagai gambaran tentang potensi daya tangkap manusia. Misykāt ibarat ruh inderawi atau panca indera (sensory spirit), pelita ibarat akal (h ‘aqli, intelligential spirit) yang menerima informasi dari panca indera kemudian mengolahnya sehingga melahirkan makna-makna dan ide-ide (yang dibatasi oleh “kaca”), kaca ibarat daya imajinasi manusia (h khayāli) yang menampung ide-ide (membatasi dan memberi bentuknya), pohon ibarat nalar logika (ratiocinative spirit)yang memperoleh data dari akal dan menggabungkan semuanya serta menyimpulkan pengetahuan yang abstrak, sementara minyak ibarat ruh suci kenabian (h al-quds al-nabawi), yakni wahyu, ilham atau intuisi.

Beberapa Perumpamaan

Ruh suci kenabian secara spesifik minyaknya nyaris bersinar, walaupun tidak pernah disentuh api. Bila telah disentuh api, ruh itu menjadi “cahaya di atas cahaya”. Sementara api adalah perumpamaan yang paling tepat untuk “ruh ilahiah” yang berdiam di alam atas. Api inilah yang juga dimisalkan dengan api yang menampakkan diri kepada Nabi Musa as. di balik gunung Sinai.

Beberapa waktu sebelum Ghazāli, Ibn Sinā sudah merenungkan makna ayat ini. Ceruk adalah kemampuan reseptivitas (qūwah isti‘dādīyah). Pohon zaitun adalah kontemplasi. Minyak dari pohon zaitun adalah dugaan. Kaca adalah akal habitual. Sedangkan api adalah Akal Aktif.

Nasafi, mirip-mirip dengan Ghazāli, juga memahami perumpamaan itu sebagai padanan untuk ruh-ruh yang dimiliki oleh manusia. Menurutnya, manusia mempunyai lima ruh: 1) ruh alamiah yang terletak di dalam hati sisi kanan, 2) ruh hewan yang terletak di dalam jantung sisi kiri, 3) ruh psikis dalam otak, 4) ruh manusia dalam ruh psikis, dan 5) ruh suci dalam ruh manusia. Ruh suci seperti api, ruh manusia seperti minyak, ruh psikis seperti sumbu, ruh hewan seperti kaca, dan ruh alamiah seperti ceruk.

Pendapat ‘Abd al-Razzāq, Ibn ‘Arabi dan Wahbah Zuhaili

Lain lagi persamaan yang dipakai ‘Abd al-Razzāq Kasyāni. Menurut pendapatnya dalam Ta’wīlāt, hati ibarat “kaca” dan “bintang bercahaya”, ruh ibarat “lampu”, jiwa ibarat “pohon”, sedangkan badan ibarat “relung kaca” sebab ia gelap dan menjadi bercahaya akibat cahaya dari ruh. Sementara indera adalah ibarat terali jendela (badan), dan cahaya bersinarnya dari balik terali.

Baca Juga  Tafsir Al-Qurthubi: Permasalahan Khamr dalam Al-Qur'an

“Kaca” adalah kiasan bagi hati yang disinari oleh ruh dan menerangi segala sesuatu di sekelilingnya dengan jalan menyinarkan cahayanya pada mereka. “Barat” berarti dunia badan, “timur” berarti dunia ruh, “api” adalah Akal Aktif (sumber cahaya dan petunjuk yang harus diterima), sedangkan “minyak” (zayt)ialah persiapan jiwa untuk menerima cahaya suci yang berkaitan dengan perangai aslinya yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri.

Adapun “hampir berkilauan” artinya hampir muncul dalam aktualitas dan mencapai kesempurnaannya melalui dirinya sendiri. Kashani membedakan ruh, hati, dan jiwa; hati berada di tengah dua lainnya.

Ibn ‘Arabi dalam Tafsir-nya memiliki pandangan sendiri. Baginya, misykāt melambangkan jasad, lampu melambangkan ruh, kaca melambangkan hati, pohon melambangkan jiwa suci (al-nafs al-qudsiyah), dan api melambangkan “akal fa‘al” (al-aql al-fa‘‘āl), sedangkan barat adalah alam jasad dan timur alam ruh. Kaca (hati) disamakan dengan bintang karena cahayanya yang sedang dan tempatnya yang tinggi. Adapun keberkahan dari pohon (jiwa suci) menunjuk pada faidah, manfaat, dan buahnya yang berupa akhlaq, amal, serta pengetahuan.

Sementara itu menurut Wahbah Zuhaili dalam al-Munir: lampu adalah al-Qur’an, kaca adalah hati mukmin, misykāt adalah lisan dan pemahamannya, pohon adalah pohon wahyu, “hampir saja menerangi” artinya hujah-hujah al-Qur’an hampir matang walau belum dibaca.

Cahaya di Atas Cahaya Sebagai Lapisan Tertinggi

Bagi Ghazāli, alam dipenuhi cahaya lahiriah dan cahaya batiniah. Cahaya-cahaya lahiriah terlihat oleh mata, sementara cahaya-cahaya batiniah tertangkap oleh akal. Cahaya itu berlapis-lapis. Ghazali kemudian menjelaskan, “Cahaya bawah” keberadaannya saling memancarkan cahayanya kepada lainnya, seperti pancaran cahaya pelita. Pelita itu adalah cahaya suci kenabian. Cahaya ini memperoleh pancaran cahaya dari alam atas, sebagaimana pelita mendapat limpahan cahaya dari api. Setiap cahaya atas itu saling menerima tingkatan cahaya dari yang lainnya, sesuai dengan maqamnya masing-masing. Dan itu berurutan hingga sampai pada “cahaya dari segala cahaya” sebagai sumber dari segala cahaya.

Sumber dari segala cahaya adalah cahaya pertama dan utama, yaitu Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Sehingga, cahaya-cahaya yang ada hanyalah pinjaman dari-Nya, dan cahaya hakiki hanyalah cahaya-Nya.

Mendaki Lapisan Cahaya

Setelah dimaklumi bahwa cahaya memiliki tingkatan atau beberapa lapisan, maka sesungguhnya manusia membutuhkan perjuangan untuk sampai kepada “Cahaya di atas cahaya”. Perjuangan akan menjadi sangat berat bila harus dimulai dari lorong kegelapan. Perjuangan ini menurut Suhrāwardi adalah tugas manusia. Menurutnya, tugas manusia adalah kembali dari sumur gelap di “pengasingan” barat di mana dia terpenjara oleh materi menuju timur yang penuh cahaya dan nasib masa depannya akan ditentukan oleh tingkat cahaya yang berhasil diperolehnya sepanjang hidupnya.

Baca Juga  Membaca Dekonstruksi Arkoun dalam Penafsiran Qur’an

Untuk sampai ke Sumber cahaya, seperti diisyaratkan hadis di awal pembahasan, terdapat hijāb yang demikian banyaknya dan yang uniknya cahaya sendirilah yang menjadi hijāb itu. Tak pelak, sangat mungkin kita akan terjebak dengan terangnya suatu cahaya padahal ada lapisan cahaya lagi di atasnya yang perlu didaki. Di sinilah, Ghazāli melihat bahwa cahaya menjadi hijab ketika manusia tertipu oleh kecerahannya sehingga mengira tidak ada cahaya lagi yang lebih terang.

Salik dan Lapisan Menuju Cahaya Allah

Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki. Seorang salik akan melewati pendakian dengan berbagai tanjakan. Ghazāli menggambarkannya mirip dengan pengalaman Nabi Ibrāhīm as. dalam mencari Tuhannya. Menurut Ghazāli, lapisan pertama yang akan dilewatinya adalah sesuatu yang sederajat dengan bintang. Pada tingkatan ini dia akan menyaksikan pancaran cahaya bintang dan terbuka baginya bahwa alam bawah berada di bawah kekuasaan dan cahayanya. Dengan terbukanya pesona keindahan itu, akan membuatnya berkata: “Inilah Tuhanku”.

Tetapi setelah menyaksikan cahaya yang lebih tinggi tingkatannya, seperti tingkatan cahaya bulan yang membuat redup cahaya bintang, maka dia berkata: “… Saya tidak menuhankan benda yang cahayanya bisa hilang”. Begitu seterusnya sehingga dia mencapai tingkatan cahaya matahari dan melihat matahari lebih besar dan lebih tinggi daripada bulan.

Sekalipun matahari dapat dijadikan perumpamaan, namun perumpamaan dari sesuatu yang memiliki kekurangan — seperti matahari — merupakan suatu kekurangan pula. Makanya dia berkata: “Kuhadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi sebagai orang yang condong kepada agama yang hanīf, dan aku tidak tergolong orang-orang yang menyekutukan Allah.” (Sūrat al-An’ām/6:79). Demikianlah Ghazāli memberi penafsiran mistis untuk kisah pencarian Tuhan oleh Ibrāhīm yang disebut dalam al-Qur’an.

Sebelum menerangkan hal tersebut, Ghazāli sempat mengatakan bahwa siapa pun tak akan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Sebelum ia menginjakkan kakinya ke arena hadhīrat al-quds. Yang ia maksudkan dengan hadhīrat al-quds adalah alam yang tidak dapat disadap oleh indera penglihatan maupun khayalan; kawasan di mana sesuatu yang asing tidak bisa masuk dan yang di dalam tidak bisa keluar. Secara majazi, ia dapat diartikan “ruang kesucian Ilahi”. Tetapi, Ghazāli tidak mendetilkan penjelasannya tentang hal ini. Wa Allāh a‘lam bi al-shawāb.

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tidaklah memahaminya kecuali orang-orang yang mengetahui.”(Sūrat al-‘Ankabūt [29]:43)

Penyunting: Bukhari

Izza Rohman
Akademisi Tafsir, Perumus 7 Metode Tafsir dan Dosen Universitas Prof. HAMKA