Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Paulo Freire: Filsafat Pendidikan dan Peradaban Islam (2)

Sumber: https://www.pinterest.com

Jika dalam tulisan sebelumnya, penulis lebih mengemukakan konflik dan sedikit solusi perihal transformasi pendidikan sebagaimana yang diutarakan oleh Paulo Freire. Maka dalam tulisan ini, penulis hendak menyampaikan gagasan Paulo Freire mengenai tingkatan kesadaran. Hal ini perlu diperhatikan dan dinilai mampu membantu pendidikan melalui transformasi sosial. Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, “Transformation of education cannot take place before the transformation of society, but this transformation of society needs education”.

Kebangkitan Kesadaran Kritis

Dikenal sebuah istilah “Consciousness Rising/CriticalConsciousness” dalam karyanya yang bertajuk “Pedagogy of The Oppressed”. Yakni adanya kebangkitan kesadaran kritis yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia tanpa memandang status sosial. Apalagi mempertahankan ego dan kebahagiaan pribadi yang sedang dimilikinya. Sehingga, menjadikan orang tersebut takut apabila transformasi sosial akan menghapus kemegahan hidup miliknya.

Bangkitnya kesadaran kritis ini diyakini mampu memperbaiki sebuah peradaban. Karena ia mengajak kepada penolakan terhadap fatalisme, egoisme, hedonisme, dan meningkatkan kepercayaan diri suatu peradaban. Serta mencari solusi yang terbaik dalam memperbaiki keadaan. Layaknya ungkapan Paulo Freire, “Without a sense of identity, there can be no real struggle”. Jika sebuah peradaban tidak memiliki kepekaan terhadap identitas diri, maka ia tidak akan bertahan lama. Apalagi mampu membangkitkan suatu peradaban dari keterpurukan.

Konsep kesadaran yang diajukan oleh Paulo Freire ini memiliki empat tingkatan. Yakni kesadaran magis, kesadaran naif, kesadaran kritis, dan kesadaran fanatik. Sebelum mencapai tingkat kesadaran pertama, seseorang masih berada pada titik pra-kesadaran magis. Yaitu keadaan dimana seseorang hanya memikirkan kenikmatan materi. Khususnya bagi kaum tertindas, ia hanya akan berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan sesuap nasi tanpa memperdulikan kondisi dirinya.

Baca Juga  Mungkinkah Adat Menjadi Syariat?

Orang tersebut barangkali memiliki prinsip bahwa dia sudah menyerah untuk melakukan tranformasi. Ia hanya memikirkan cara seketika dengan melakukan suatu pekerjaan yang statis, sembari berharap agar anaknya tidak dalam keadaan yang sama. Namun fatalnya, harapan seperti ini hanya akan menimbulkan ketergantungan kepada generasi berikutnya.

Empat Konsep Kesadaran

Pada tingkatan pertama, tibalah seseorang pada titik kesadaran magis. Yaitu keadaan di mana seseorang telah sadar dengan kondisi umat, namun ia masih terperangkap pada mitos inferior alamiah dalam fatalisme. Misalnya, salah satu faktor pembentuk peradaban Islam yang hebat adalah dengan menekan semaksimal mungkin angka kemiskinan.

Kemudian tak jarang kita mendengar ucapan penghibur bagi orang yang miskin bahwa kemiskinan dan kekayaan sudah ditentukan Tuhan. Kekayaan harta hanya akan menimbulkan kesombongan dan mempersulit hisab. Serta berkata bahwa lebih baik menderita di dunia dari pada menderita di akhirat. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, apabila tidak dibarengi dengan transformasi, maka hanya akan menimbulkan fatalisme. Bahkan menjadi sebuah penghibur bagi umat muslim, khususnya para kaum yang tertindas.

Pada tingkatan berikutnya, seseorang telah mampu merefleksikan dirinya dengan situasi dan kondisi yang menimpa. Akan tetapi belum mampu melakukan transformasi dinamis karena keterbatasan ilmu. Kesadaran ini disebut dengan kesadaran naif. Orang yang berada pada tingkatan kesadaran naif, dapat dilihat melalui orasi mereka yang cenderung merasa cukup dengan kejayaan di masa lampau. Mereka terjebak dalam sebuah hiburan historis, dan tidak melakukan usaha transformasi yang dulu dicapai umat Islam.

Tak hanya itu, orang-orang pada tingkatan ini lebih banyak berdebat ketimbang berdialog untuk kemaslahatan umat. Maka dengan ini secara tidak langsung menimbulkan sikap egoisme dan apatis terhadap sesama. Terlebih lagi, mereka lebih sering menyalahkan pihak lain ketimbang instrospeksi diri. Mereka sibuk mencari alasan dengan menyalahkan pihak eksternal demi tetap mempertahankan harga diri semu. Dan yang demikian secara tidak disadari menimbulkan ujub pada golongannya semata.

Baca Juga  Wajah Kemajuan Peradaban Islam di Baghdad

Kesadaran Tingkat Tertinggi

Berikutnya ialah kesadaran kritis, yakni tingkatan kesadaran tertinggi. Mereka tak hanya sadar akan masalah yang dihadapi umat, namun juga memperbanyak diskusi dan aksi. Bahkan mampu menerima dan menolak gagasan yang beraneka. Mereka tidak mempertahankan ego golongannya, melainkan bersama membangun peradaban demi kemaslahatan umat.

Kesadaran seperti ini mampu menjadikan masyarakat muslim kalangan dengan status ekonomi dan sosial menengah keatas untuk berani melakukan transformasi tanpa adanya rasa takut. Selain itu, dengan kesadaran kritis ini dapat menyelamatkan kaum tertindas dari tindakan kezaliman.

Di sisi lain, terdapat kesadaran di antara kesadaran naif dan kritis yang dianggap paling berbahaya dibandingkan dengan lainnya. Disebut paling berbahaya karena kesadaran ini bukanlah untuk membangun peradaban yang ideal, melainkan hanya untuk mendapatkan status tertinggi dalam peradaban.

Perubahan yang mereka incar bukanlah sebuah transformasi, melainkan guna menduduki kursi-kursi kekuasaan dan kepemimpinan. Kemudian memanipulasi data dan fakta, mengambil hati orang-orang yang tersakiti dengan memberikan orasi palsu dan janji manis. Bahkan mereka tak segan memanfaatkan tokoh masyarakat dan agama.

Aktualisasi Kesadaran dalam Umat Islam

Dengan demikian, dari keempat tingkatan kesadaran yang diajukan oleh Paulo Freire di atas, maka umat Islam wajib berusaha mencapai kesadaran kritis. Karena kesadaran magis akan menimbulkan fatalisme yang bertentangan dengan Q.S. Ar-Ra’d ayat ke-11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum hingga ia (kaum tersebut berusaha) mengubah nasib mereka sendiri.”

Begitu pula dengan kesadaran naif yang akan menimbulkan egoisme, arogansi, dan apatis terhadap peradaban Islam, dan tak sejalan dengan Q.S. Ali Imron ayat ke-103. Artinya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan jangalah bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”

Terlebih lagi jangan sampai sebuah transformasi dijadikan kedok oleh kaum yang berada pada kesadaran fanatik, entah mereka yang tertindas maupun yang menindas. Karena sama-sama menimbulkan fanatisme dan taqlid buta. Penindasan dalam sebuah peradaban tidak akan hilang, namun bahkan terus berotasi membentuk kebencian berantai yang tak berujung.

Baca Juga  Al-Ghazali Tidak Pernah Menyembalih Ayam Bertelur Emas

Sebagaimana strategi dakwah dalam Q.S. An-Nahl ayat ke-125. Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petujuk.”

Maka dalam pencapaian tingkatan kesadaran kritis ini, akan menjadi langkah awal dalam transformasi sosial yang harus dibarengi dengan transformasi pendidikan. Penjelasan mengenai transformasi yang beriringan tersebut telah penulis ungkapkan pada tulisan sebelumnya. Yakni bahwa pendidikan tidaklah merubah dunia, melainkan merubah manusia dan manusia lah yang akan merubah dunia.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho