Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Pandangan Teoritis Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Hermeneutika sebagai kajian bahasa dan pemahaman (meaning), memberikan ruang baru untuk menginterpretasi Al-Qur’an agar menyesuaikan konteks kehidupan kekinian. Maka, hermeneutika sebagai salah satu perangkat dalam memahami makna literal dan signifikasi kandungan Al-Qur’an.[1]  Dalam hal ini, kita akan mengkaji pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang memiliki ciri khusus dalam merumuskan aplikasi hermeneutika dalam memaknai kandungan ayat Al-Qur’an.

Dalam memahami makna dan kandungan Al-Qur’an, Abu Zaid memberikan petunjuk yang menarik. Hal ini, agar penafsir mampu mengungkap makna literal dan mampu mengontekstualisasikan kandungan makna dalam kehidupan kekinian.

Dua Ragam Teks

Pada dasarnya Abu Zaid membagi teks menjadi dua; primer dan sekunder. Teks primer adalah All-Qur’an dan teks sekunder adalah hadith Nabi. Karya-karya ulama dikategorikan dalam teks sekunder, karena membantu memahami kajian teks sekunder (hadith) dan tekas primer (Al-Qur’an).

Selain itu, dalam buku Mafhum An-Nash menjelaskan perbedaan teks (nash) dan mushaf (buku). Teks lebih merujuk kepada makna (dalālah) yang memerlukan pemahaman dan mushaf merujuk kepada benda.[2]  Tekstualitas Al-Qur’an yang menafikan penggunaan perangkat-perangkat ilmiah modern, akan menghasilkan penafsiran dengan makna yang beku (kaku), sehingga sangat mudah dimanipulasi dengan ideologis tertentu.[3]

Proses penurunan teks Al-Qur’an dalam peradaban budaya yang diyakini merupakan kalam allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad melalui malaikat jibril menjadi keyakinan oleh masyrakat Islam. Namun, menurut Abu Zaid, proses pewahyuan Al-Qur’an adalah bentuk komunikasi (act comunication). Sehingga beliau tetap yakin bahwa sang penyampai risalah adalah Allah.

Namun, ketika teks Al-Qur’an telah beradaptasi dengan budaya manusia maka status teks Al-Qur’an yang mulanya bersifat wahyu (tanzīl) berubah menjadi interpretasi (takwil). [4]

Baca Juga  Hamid Algar tentang Wahhabisme (2): Mengapa Wahhabi Begitu Berkembang?

Teks dan interpretasi merupakan satu hal yang beriringan, karena proses interpretasi merupakan cara untuk mengungkap makna yang dikandung teks. Namun, dalam hal interpretasi, Abu Zaid menggunakan istilah takwil. Karena takwil menurutnya berkaitan dengan proses penguakan dan penemuan (istinbāt) yang tidak dapat dicapai melalui tafsir yang hanya menyentuh makna luar saja. Dalam takwil peran pembaca dalam pemahaman dan penguakan makna teks adalah lebih signifikan ketimbang tafsir.[5]

Pendekatan Sastra: Teori dan Kritik Sastra

Pendekatan sastra atas teks Al-Qur’an telah dilakukan sejak masa awal Islam, yakni masa Abdullah Ibnu Abbas. Yang mana menggunakan puisi lama dalam menginterpretasi Al-Qur’an. Namun pada perkembangannya pendekatan sastra telah ditinggalkan oleh para ilmuan muslim liberal dan konservatif.

Muhammad Abduh mengatakan bahwa pendekatan sastra bukanlah pertunjukan kepintaran para ahli bahasa dalam menjelaskan dimensi bahasa dan sastra Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bersifat spiritual dan religus. Pendapat ini dibantah oleh Amin Al-Khulli, beliau menyatakan bahwa para ilmuan tidak akan menagkap makna literal teks Al-Qur’an pada masa pewahyuan jika tidak mendalami dimensi bahasa dan sastranya.

Muhammad Ahmad Khalafallah menerapkan metode Amin Al-Khulli, untuk menganalisis kisah Profetik dalam Al-Qur’an. Dalam mengkaji hubungan antara teks dan realitas historis, ia membedakan antara “kebenaran” dan “realitas”.

Tujuan Kisah Al-Qur’an

Menurutnya kisah-kisah profetik dalam Al-Qur’an bukanlah merupakan kisah historis sedemikian rupa, namun merupakan sebuah kisah kharismatik. Kisah-kisah itu diulang-ulang untuk tujuan-tujuan moral religius dan diulang-ulang dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan konteks dan situasinya. Al-Qur’an menerapkan gambaran-gambaran sastra yang atraktif (memiliki daya tarik) untuk mengeskpresikan kebenaran psikologis dan religius. Maka dari itu, Abu Zaid mengatakan bahwa untuk mencapai makna interpretasi Al-Qur’an secara objektif adalah dengan pendekatan ini. Karena menempatkan teks pada posisi sentral sehingga penafsir menuju ke arah penggunaan kesadaran ilmiah dan menghindari tendensi-tendensi ideologis.

Baca Juga  Survival Strategy Pesantren Pasca Bom Bali

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho

Daftar Referensi:

[1] Sahiron Syamsuddin. Hermeneutika dan pengembangn ulumul qur’an. Nawesea Press. Yogyakarta. 2017. 41

[2] Alfitri. Studi Quran Kontemporer telaah atas Hermeneutika pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid. Millah Vol. II. No.l, Agustus 2002. 57

[3] Ibid. 57

[4] Nasr Hamid Abu Zayd, 1993,op.cit., hal. 126.

[5] Alfitri. Studi Quran Kontemporer telaah atas Hermeneutika pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid. Millah Vol. II. No.l, Agustus 2002. 59