Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Orientalisme dan Metode Bibel dalam Pemaknaan Al-Qur’an

Al-Ra’yi
Gambar: kompasiana.com

Orientalis telah muncul terlebih dahulu dibandingkan dengan orientalisme. Orientalis adalah orang yang mendalami bahasa dan sastra dalam dunia Timur. Sedangkan orientalisme merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkaitan dengan objek kajian studi ketimuran dan keislaman di dunia Barat. Sehingga orientalisme baru ada pada abad ke-18.

Para orientalis adalah orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dan menggagalkan usaha pembangkitan kembali peradaban dan kejayaan Islam. Karena mereka punya berbagai alasan teologis dari dogma Kristen. Motif keagamaan Barat didominasi oleh Kristen yang memandang Islam adalah agama yang menentang doktrin-doktrinnya. Orientalis berasumsi bahwa Al-Qur’an bukanlah firman Allah SWT., akan tetapi termasuk dari karangan Muhammad.

Pada Islam dan Kristen terjadi konflik keagamaan bermula sejak sebelum Islam datang. Yaitu ketika bala tentara Kristen di bawah pimpinan Abrahah menyerang Ka’bah. Andai saja umat Kristen menang, maka seluruh jazirah Arab di tangan Kristen dan di Ka’bah sudah ada dan terpampang tanda salib. Selain itu, adanya Perang Salib yang telah berlangsung sekitar dua abad lalu (1096-1271) juga menjadi pemicu konflik keagamaan antara Kristen dan Islam. Perang Salib menimbulkan kesalahpahaman terhadap Islam. Islam dianggap sebagai agama teror. Sehingga Kristen benci dan menimbulkan pandangan negatif terhadap Islam. Tidak hanya benci agamanya saja, tetapi juga kitab sucinya Islam, yaitu Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengkritisi doktrin agama Kristen. Seperti firman Allah QS. Al-Maidah [5] : 72

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ …(٧٢)

Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Avllah itu dialah Al-Masih putra Maryam.”

Selain itu, QS. An-Nisa’ ayat 157

وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗ… (١٥٧)

Dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa.

Antara Al-Quran dan Bibel

Dari dua firman Allah SWT. di atas, dijelaskan bahwa umat Kristen marah atas pernyataan Al-Qur’an tersebut. Sehingga umat Kristiani menganggap bahwa Al-Qur’an bukanlah kalam illahi dan menjadikan Bibel sebagai penilaian terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an itu salah dan dianggap telah bertentangan dengan kandungan dalam Bibel. Mereka menganggap Bibel adalah God’s Word, sehingga Bibel selalu benar. Adanya firman Allah SWT. tersebut berarti Al-Qur’an telah berani mengkritik dengan tajam kata-kata Tuhan yang ada dalam Bibel. Dengan demikian, Al-Qur’an bersumber dari setan.

Baca Juga  Geiger: Benarkah Al-Qur’an Mengadopsi Ajaran Yahudi

Hujatan Al-Qur’an oleh umat Kristen sudah ada dimulai pada abad ke-8 sampai abad ke-16. Misalnya, Johannes mengatakan bahwa Al-Qur’an memuat cerita-cerita bodoh. Abdul Masih al-Kindi menyatakan apabila orang percaya Al-Qur’an bersumber dari Tuhan termasuk orang yang tolol. Karena menurutnya, Al-Quran yang dibawa Muhammad tidak bisa bermukjizat sebagaimana Nabi Musa membelah laut. Kristus juga bisa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta.

Menurut Petrus Venerabilis, hadirnya Al-Qur’an tidak terlepas dari peran setan. Ricoldo da Monte Croce menyatakan Al-Qur’an dikarang oleh setan dan setanlah yang membuat agama Islam. Ia mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an banyak terjadi penyimpangan sejarah dan susunannya tidak sistematis. Selain itu, ada juga pendapat Nicholas yang menyatakan pengarang terakhir Al-Qur’an adalah setan. Dengan demikian, para tokoh orientalis menaruh kebenciannya terhadap Al-Qur’an. Yang mana, kebenciannya terhadap Al-Qur’an dapat menjadi pengaruh munculnya pemikiran-pemikiran orientalis Al-Qur’an.

Penyunting: Bukhari