Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Oksidentalisme VS Orientalisme: Merebut Wacana Kajian Islam

kajian
Sumber: istockphoto.com

Begitu pesat kemajuan keintelektualan Barat, metode-metode yang baru dan relevan dalam memahami teks-teks literatur Islam dan kajian al-Qur’an, menjadikan beberapa cendikiawan muslim tertarik untuk mempelajarinya. Beberapa cendikiawan muslim yang tertarik dengan tradisi keilmuan Barat di antaranya adalah Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Iqbal.

Sementara para orientalis berusaha mempengaruhi peradaban Islam dengan maneuver-manuver pemikiran dan pengaruhnya diantara masyarakat muslim. Beberapa pemikir dan cendikiawan muslim pun mulai tersadar, perlahan melakukan sedemikian pengamatan dan penelitian dengan usahanya mereka mengkaji sejauh mana pengaruh orientalis ini memengaruhi peradaban Islam, terlebih dalam kajian al-qur’an dan as-sunnah.

Kesadaran Bangsa Barat

Jika melihat dari sejarahnya, semua berangkat dari kesadaran Barat yang ketika itu mengalami kegelapan terhadap peradaban Islam yang maju, terutama dari sisi keilmuannya. Perlahan kemudian beberapa dari mereka yang mulai mempelajari pemikiran-pemikiran para cendiawan muslim kala itu, hingga mereka manguasainya dan kembali ke tempat asal mereka untuk kemudian mengajarkan serta mempelajarinya lebih dalam.

Tidak heran kemudian beberapa sarjana Barat yang kita temui telah menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab, bahkan dapat menghafal al-qur’an dan hadits, padahal mereka non-muslim. Seperti Ignaz Goldziher yang sebenarnya beliau adalah seorang Yahudi, beliau menguasai berbagai macam aspek ilmu dalam Islam, seperti bahasa Arab, sejarah, ilmu-ilmu hadits, dan bahkan telah menghafal al-qur’an.

Para cendikiawan Barat seiring waktu mengalami kemajuan-kemajuan terutama dalam keilmuan, itu berkat keuletan dan ketekunan mereka dalam mempelajari ilmu-ilmu yang telah dikaji oleh para cendikiawan Muslim di Timur. Sejalan dengan mempelajari ilmu-ilmu dari Timur para cendikiawan Barat mulai menemukan kesadaran terhadap objek yang mereka kaji (Timur), tepatnya ketika kaum muslim kala mencapai puncak kejayaannya.

Baca Juga  Mengenal Istilah Orientalisme & Studi Qur’an di Barat

Kesadaran bangsa Barat akan kemapanan bangsa Timur dengan kejayaan yang mereka peroleh itulah yang kemudian dimanfaatkanbangsa Barat untuk melancarkan pengaruh-pengaruh mereka dengan maksud menjajah. Disinilah muncul kesadaran baru bangsa Barat kemudian melakukan langkah intervensi, melakukan pengkajian literature-literatur Islam dengan maksud memengaruhi peradaban Islam yang merepresentasikan Timur.

Kesadaran Bangsa Timur

Begitu pesat kemajuan keintelektualan Barat, metode-metode yang baru dan relevan dalam memahami teks-teks literatur Islam dan al-qur’an, menjadikan beberapa cendikiawan muslim tertarik untuk mempelajarinya. Beberapa cendikiawan muslim yang tertarik dengan tradisi keilmuan Barat diantaranya adalah Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Iqbal. Kemudian dari mereka muncul konsep Tajdid atau pembaharuan Islam, hal ini tak lepas dari tashowwur mereka terhadap majunya tradisi keilmuan Barat dankeprihatin terhadap kemerosotan peradaban Islam dari berbagai aspek, baik dari tradisi keilmuan maupun mu’amalat dalam kesehariannya.

Kemudian pada abad ke-19 kurang lebih, terbitlah buku yang berjudul Muqaddimah fi> ‘Ilmi al-Istighra>b karangan Hasan Hanafi. Terbitnya buku ini sekaligus menunjukkan awal tergagasnya kesadaran Timur atau kesadaran para cendikiawan muslim terhadap Barat yang dibungkus dengan oksidentalisme atau ‘ilmu al-Istighra>byang digagas oleh Hasan Hanafi, sehingga beliau kemudian dikenal sebagai the founding fathers of occidentalisme.

Sebagai jawaban dari terpusatnya ilmu pengetahuan kala itu, di Eropa terutama perkembangan metodologi dalam memahami al-qur’an dan teks-teks literature Islam, oksidentalisme berperan sebagai counter daripada orientalsime. Sebagai catatan bagi para pembaca baik untuk penulis pula, bahwa oksidentalisme memiliki misi yang berbeda dengan orientalisme yang akhir-akhir ini mencoba memengaruhi peradaban dan tradisi Timur.

Oksidentalisme cenderung sebaliknya, karena muncul dari kesadaran Timur atau umat muslim  terhadap Barat dan berusaha keluar dari keterpurukan dan ketertinggalan. Jika orientalis bersifat empiris dan positivisitk, sebaliknya oksidentalisme lebih kepada pembebasan dan analitik, serta berusaha menghadirkan kembali jati diri Islam. Seperti yang ditawarkan oleh Hasan Hanafi dalam bukunya Muqaddimah fi> ‘Ilmi al-Istighra>bbahwa oksidentalisme  mengajak kita melihat bagaimana sikap kita terhadap at-Turo>ts al-Qadi>m, lalu bagaimana sikap kita terhadap al-Istighra>b, dan bagaimana kita menyikapi realita, metodologi, serta at-Turo>ts al-Qadi>mdan at-Turo>ts al-Gharbi>.

Munculnya oksidentalisme adalah merubah wajah Barat dalam kacamata Timur sebagai objek yang dikaji, setelah sebelumnya Islam atau Timur sebagai objek dari kajian di Barat. Disinilah peran dari oksidentalisme terhadap kajian Barat, yaitu dengan melihat dan memahami at-Turo>ts al-Qadi>mdan at-Turo>ts al-Gharbi>. dengan melihat realita yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Kemudian dari disiplin kajian inilah perlahan muncul metodologi-metodologi baru hasil dari pemahaman terhadap 2 Turo>ts dan realita.

Baca Juga  Oksidentalisme Sebagai Counter atas Superioritas Barat

Motivasi untuk Generasi Muda Akademisi

Baik itu orientalisme maupun oksidentalisme nilai yang dapat dipetik dari tulisan di atas adalah bahwa semangat mereka dalam mencari ilmu tidak terbatas pada salah satu term saja. Agama bukan menjadi batasan seseorang untuk mencari ilmu, karena agama merupakan urusan seorang hamba terhadap tuhan yang diimaninya, sedangkan ilmu yang dipelajari adalah untuk kemashlatan manusia, sebagai pengetahuan untuk dijadikan pedoman.

Lalu, oksidentalisme muncul tidak lain merupakan sebuah langkah untuk keluar dari keterpurukan. Terutama bangsa Timur yang mayoritas merupakan adalah Muslim yang kala itu runtuk dan mengalami kejumudan, tidak berkembangnya ilmu pengetahuan setelah sebelumnya meraih masa kejayaannya. Oksidentalisme juga berperan sebagai counter dari orientalisme yang berusaha merusak peradaban dan tradisi Islam, terutama pada kajian-kajian al-qur’an dan hadits.

Editor: An-Najmi