Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Oksidentalisme Sebagai Counter atas Superioritas Barat

Oksidentalisme
Gambar: qureta.com

Sudah menjadi prinsip yang lumrah bagi para akademisi maupun para mahasiswa yang berkutat dalam mimbar akademik, bahwasannya sebagai pengkaji ilmu harus memiliki pandangan luas dan objektif. Dengan kata lain, akademisi tidak boleh berpandangan sempit. Hanya berdasarkan perkara suka atau benci terhadap objek yang ingin ditelusuri. Akademisi dituntut untuk selalu menggali objek keilmuan untuk menghasilkan kesimpulan yang mencerahkan, jujur, dan yang terpenting ialah netral.

Namun, saat ini kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa tidak semua akademisi mempunyai pemikiran yang seidealis itu. Sebut saja ketika diberikan suatu solusi yang dinamakan oksidentalisme dalam upaya meng-counter superioritas barat, masih banyak yang terkesan geli dan enggan untuk mengkajinya. Dengan alasan itu bukan caranya umat Islam dan tetap teguh dalam prinsip kunonya.

Oksidentalisme dan Sejarahnya

Kata oksidentalisme berasal dari bahasa Inggris “occident” yang berarti negeri Barat. Maksudnya apa?Bahwa oksidentalisme ini adalah studi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan Barat dari segala aspeknya. Sesuai dengan judul bahwa oksidentalisme merupakan lawan dari orientalisme.

Oksidentalisme merupakan suatu disiplin ilmu yang dilakukan oleh orang-orang Timur dalam mempelajari dunia Barat alias mengkaji peradaban Barat. Namun masih dalam tinjauan pandangan Timur. Berkebalikan dengan orientalisme yang membahas segala sesuatu yang berbau Timur dari segala aspeknya.

Penulis jadi sedikit teringat dari kutipan suatu buku yang cukup sarkas dalam menggambarkan fenomena dunia Barat dan Timur. Orang Timur diibaratkan sebagai hewan langka yang unik dan layak untuk dimanfaati. Sedangkan Barat sebagai ilmuwan yang mengkaji hewan tersebut dengan sikap yang telaten, totalitas, berintegritas dan siap mengorbankan segalanya demi hewan langka yang ingin dipelajari tersebut.

Kita kembali pada pembahasan oksidentalisme. Jika ditinjau dari sejarahnya oksidentalisme muncul sebagai counter dari orientalisme yang telah lama lahir, jauh sebelum oksidentalisme muncul. Sumber-sumber mengenai oksidentalisme dapat dilacak ketika terjadinya hubungan antara kita dengan Yunani-Romawi di masa lalu.

Baca Juga  Al-Quran Bukan dari Bahasa Arab: Sanggahan Terhadap Pemikiran Christoph Luxenberg

Ketika itu peradaban Islam dijadikan sebagai objek yang dikaji oleh para orientalis sehingga Barat diklaim sebagai kiblat dari segala kemajuan. Atas dasar itulah oksidentalisme ingin mengakhiri superioritas Barat sebagai kiblat dari seluruh umat manusia dan sebagai pusat kemajuan dengan cara mempelajari Barat sesuai tinjauan dari kacamata Timur.

Dampak Orientalisme

Orientalisme bukan hanya menyebabkan adanya rasa inferioritas pada dunia Timur, melainkan juga merebak dan tumbuh suburnya westernisasi di berbagai dunia Timur. Maka atas dasar penolakan akan westernisasi tersebut lahirlah berbagai gerakan fundamentalis dalam dunia Islam. Seperti meninggalkan pakaian yang tradisional dan diganti dengan pakaian yang lebih Islami dan dijadikan sebagai pakaian resmi dari umat Islam.

Tidak hanya itu saja, hal tersebut juga disusul dengan munculnya suatu ikon sebagai identitas diri. Seperti pakaian khas Arab lengkap dengan sorban di kepala, kemudian cadar dan baju yang panjang hingga menjulai ketanah bagi perempuan. Itu semua, menurut penulis merupakan cara sebagian orang dalam melawan westenisasi. Semakin kuat budaya Barat, maka semakin kuat pula menjaga identitas tersebut.

Maka tidak heran, jika kita berbicara mengenai oksidentalisme, masih ada yang salah paham hingga terkesan alergi. Karena dianggap kita malah mempelajari budaya Barat. Sehingga semakin lama, kita malah menempatkan diri pada tempat pertikaian yang tidak penting. Di saat barat sedang mengembangkan berbagai macam teknologi dan sains. Kita masih bertikai dalam permasalahan isbal ataupun jenggot.

Ini merupakan suatu dampak, atau lebih tepatnya tujuan dari orientalisme itu sendiri. Yakni memecah belah dunia Timur dengan permasalahan yang sepele.

Tinjauan Al-Qur’an

Dalam kitab suci al-Qur’an terkandung beberapa istilah yang berkenaan dengan oksidentalisme dan orientalisme. Kebanyakan dari kedua istilah itu disebutkan secara beriringan atau berpasangan dalam satu ayat, namun ada juga yang tidak. Dalam al-Qur’an terkandung banyak istilah yang bermakna “Barat, Timur, matahari terbenam atau terbit. Seperti al-maghrib, thala’at, al-masyriah, gharbiyyah, dan syarqiyyah.

Salah satunya terdapat pada kutipan ayat yang berkenaan dengan Barat dan Timur:

Baca Juga  Mengenal Penafsiran Berbasis Ma’na cum Maghza

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit / thala’at condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam/ gharabat, menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang lapang di dalamnya. Yang demikian itu adalah tanda-tanda kebesaran kekuasaan Allah. Barang siapa yang ditunjuki Allah, maka dia mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tiada akan mendapatkan seseorang yang akan membimbingnya”. (Qs. Al-Kahfi, 18:17).

Pada ayat tersebut terlihat maksud Allah yang memberikan bimbingan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki dengan cara-Nya sendiri. Manusia pun tidak akan bisa berbuat dengan serupa. Terbit dan terbenam matahari pada tempat yang sama yaitu gua dan kahf.

Oksidentalisme sebagai Counter

Oksidentalisme sejatinya diciptakan untuk menghadapi superioritas yang ditimbulkan oleh Barat. Sebab mereka mempunyai pengaruh yang begitu luas tidak hanya pada budaya dan konsepsi kita mengenai alam saja. Namun juga berkemungkinan untuk mengancam kemederkaan peradaban kita hingga merambah kepada gaya kehidupan kita sehari-hari.

Maka atas dasar itu, menurut Hasan Hanafi, oksidentalisme diperlukan untuk menanggulangi hal-hal yang semacam itu. Sudah saatnya kita sebagai umat Islam untuk menjadi pengkaji dan Barat yang menjadi objek kajian demi kemajuan peradaban kita. Sebagaimana orang Barat yang menjadi kiblat kemajuan dikarenakan mempelajari dunia Timur kita yang saat itu tengah maju-majunya.

Dengan oksidentalisme kita dapat melahirkan keseimbangan dan kesetaraan peradaban. Bahwa tidak ada yang namanya pusat peradaban maupun peradaban yang terbelakang. Tidak ada yang namanya sentrisme maupun ekstremisme. Tidak ada guru maupun murid, serta tidak ada istilah tuan dan majikan dalam suatu peradaban.

Ketika itu terjadi, maka tidak ada lagi yang namanya sikap rendah diri dari Timur terhadap Barat. Bahkan dengan itu tidak ada kata mustahil dalam melampai kehebatan dunia Barat. Peradaban kita bukan hanya dijadikan sebagai objek namun juga pengkaji sehingga pola hubungan antara peradaban  akan berupa hubungan timbal-balik, bukan hubungan yang searah.

Baca Juga  Kitab Suci Al-Qur’an dalam Pandangan Jacques Jomier

Penyunting: Bukhari