Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Nyai Khairiyah Hasyim: Ulama Pejuang Pendidikan Perempuan

Nyai Khairiyah
Gambar: bincangmuslimah.com

Nyai Khairiyah merupakan seorang ulama, pemikir progresif, dan aktivis perempuan dari Jawa Timur, yang lahir di lingkungan pesantren dan memiliki cita-cita tinggi untuk memajukan kaum perempuan. Namun, sebagai seorang intelektual dan aktivis, nama Nyai Khairiyah mungkin tak sepopuler intelektual perempuan lainnya, seperti: R.A. Kartini (Jepara, Jawa Tengah), Rahmah El Yunusiah (Padang Panjang, Sumatera Barat), Rohana Kuddus (Kota Gadang, Sumatera Barat), Rasuna Said (Maninjau, Sumatera Barat), dan lain sebagainya.

Pasalnya, pemikiran yang telurkan Nyai Khairiyah hanya berkutat di lingkungan pesantren semata. Sehingga, tak jarang kebanyakan orang tidak mengetahui atau bahkan sulit untuk mengaksesnya. Kendati demikian, pemikirannya menjadi mercusuar bagi perempuan setelahnya di lingkungan pesantren secara khusus dan sekaligus bagi para aktivis perempuan secara umum. Oleh karenanya, Nyai Khairiyah sendiri patut dijadikan sebagai sosok inspirasi oleh kaum perempuan masa kini untuk melakukan suatu gebrakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sekilas tentang Nyai Khairiyah

Nyai Khairiyah lahir di Tebuireng, Jombang tahun 1326 H/1908 M. Beliau merupakan putri kedua dari sepuluh bersaudara yang lahir dari pasangan Kiai Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah. Latar belakang pendidikannya, sama sekali tak bersentuhan dengan pendidikan formal, melainkan mendapatkan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya (Kiai Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah). Sejak usia 5 tahun, ia sudah mempelajari Alquran dan kitab-kitab salaf (karya ulama klasik), seperti: fikih, tafsir, nahwu-sharraf, dan lain sebagainya.

Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal, girah Nyai Khairiyah dalam menimba ilmu tak pernah surut. Misal, pada saat Kiai Hasyim mengajarkan kitab kepada santri putra di rumahnya, ia selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajian tersebut meskipun lewat bilik-bilik tembok. Pun juga, Khairiyah kecil dikenal sebagai orang yang tekun belajar (otodidak). Dan, ketika merasa kesulitan dalam memahami apa yang dipelajarinya, ia tak segan-segan untuk bertanya langsung kepada Kiai Hasyim.

Baca Juga  Lima Faedah Puasa Syawal Usai Ramadhan

Sehingga, kapasitas keilmuan Nyai Khairiyah di bidang keagamaan tak diragukan lagi, karena mendapatkan bimbingan langsung dari Kiai Hasyim Asy’ari, di mana beliau adalah seorang ulama kesohor yang memiliki kedalaman ilmu agama dan sanad kitab Shohih Bukhori dan Shohih Muslim yang bersambung ke Rasulullah, dan beliau juga merupakan pendiri organisasi sosial-keagamaan terbesar, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Pada usia 13 tahun Nyai Khairiyah menikah dengan santri kinasih Kiai Hasyim Asy’ari, yaitu Maksum Ali dari keluarga pesantren Maskumambang, Gresik. Setelah menikah, beliau tetap melanjutkan belajarnya kepada Kiai Maksum Ali (suami Nyai Khairiyah) yang kebetulan adalah pengarang kitab Amtsilah al-Tashrifiyah, buku babon ilmu sharraf. Di antara ilmu yang dipelajarinya, yaitu tafsir, tasawuf, mantik, hadis, fikih, balaghah, dan ilmu yang lainnya. Kemudian tahun 1921, KH. Maksum Ali dan Nyai Khairiyah membuka Pesantren Seblak, yang jaraknya tidak jauh dengan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Kemudian tahun 1933, Kiai Maksum Ali wafat disebabkan penyakit paru-paru basah. Itu artinya, kepemimpinan Pesantren Seblak beralih kepada Nyai Khairiyah berlangsung hingga 1938. Beliau kemudian menikah lagi dengan Kiai Muhaimin. Setelah itu, Kiai Muhaimin dan Nyai Khairiyah berangkat haji lalu menetap (bermukim) di kota suci itu selama 10 tahun. Ada yang mengatakan sampai 20 tahun. Di sana ia belajar lagi kepada para ulama Makkah, antara lain Syekh Yasin al-Padani, seorang ahli hadis terkemuka, kelahiran Padang, Sumatera Barat.

Memperjuangkan Pendidikan Kaum Perempuan

Ketika berada di tanah suci (Makkah), semangat Nyai Khairiyah untuk memperjuangkan pendidikan bagi kalangan perempuan semakin santer. Pasalnya, sosio-kultur masyarakat Arab kala itu sangat memprihatinkan. Aktivitas seorang perempuan hanya berkutat pada tiga hal, yaitu kasur (untuk menunaikan kewajiban suami-istri), dapur (untuk menyajikan makanan), dan sumur (untuk mencuci pakaian). Apalagi pendidikan bagi kaum perempuan dianggap sesuatu yang tabu bahkan diklaim mereka tidak layak untuk memperolehnya.

Baca Juga  Agama Itu Untuk Manusia, Bukan Tuhan!

Melihat sosio-kondisi yang demikian, Nyai Khairiyah dengan lantang dan tegas menyuarakan hak-hak kaum perempuan (Arab) untuk memperoleh pendidikan laiknya seorang laki-laki. Terbukti, pada tahun 1942 ia berhasil mendirikan Madrasah Lil Banat, sekolah untuk kaum perempuan pertama di Makkah, yang terletak di kota Syamiah.

Namun, keberadaan Madrasah Lil Banat yang digagas oleh Nyai Khairiyah alih-alih ditolak oleh pemerintah Arab, tetapi seiring berjalannya waktu mulai bermunculan madrasah-madrasah lain. Misal, Madrasah Banat di Saudi Arabiah, Madrasah Ibtidaiah di Kampung Syamsiyah, dan lain sebagainya.

Setelah Nyai Khairiyah kembali ke tanah kelahirannya (Indonesia), Madrasah Lil Banat dilanjutkan oleh Syekh Yasin al-Padani. Dan, model pendidikan yang diterapkan adalah berbasis semi formal, yakni pembelajaran agama Islam yang berlandaskan Ahlussunnah Waljamaah, sains, teknologi, dan ilmu sosial. Itu artinya, meskipun Nyai Khairiyah dari Nusantara, semangat untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (khususnya masyarakat Arab) tak pernah surut. Menurutnya, dengan memperoleh pendidikan kehidupan seorang perempuan akan lebih baik.

Kemudian, setelah suaminya (Kiai Muhaimin) wafat pada tahun 1956, Nyai Khairiyah kembali ke Indonesia atas saran dari Soekarno saat berkunjung ke Makkah. Hal ini dikarenakan Indonesia sangat membutuhkan orang yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi seperti Nyai Khairiyah. Sekembalinya dari Makkah, ia kembali menjadi pemimpin (pengasuh) Pondok Pesantren Seblak.

Pada masa kepemimpinannya, Pesantren Seblak mengalami kemajuan yang cukup pesat. Selain membuka lembaga pendidikan untuk santri putri, sistem pengajarannya pun ditambah yang awalnya menggunakan sistem non-klasikal/tradisional (sorogan dan bandongan), kemudian ditambah dengan sistem pengajaran klasikal (pelajaran kelas pada umumnya) untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Yang kebetulan pesantren lain tidak menerima (sistem pengajaran klasikal).

Selain itu, Nyai Khairiyah juga mendirikan perpustakaan pertama untuk para santri dengan tujuan memberantas buta huruf. Bagi Nyai Khairiyah, membaca adalah sesuatu hal yang sangat urgen, selain memperoleh ilmu pengetahuan untuk memenuhi kewajiban umat Islam dalam menuntut ilmu, cum sebagai pijakan awal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik terutama kaum perempuan. Pun juga, di perpustakaan tersebut ia mengajar membaca huruf latin untuk para santri dan masyarakat umum terutama bagi kalangan perempuan.

Baca Juga  Implementasi Ideologi Muhammadiyah Dalam Gerakan Dakwah

Yang tak kala menariknya dari Nyai Khairiyah dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (memperoleh pendidikan), adalah bahwa ia menolak mengajarkan kitab “Uqud Al-Lujain” karya Syekh Nawawi Banten. Isi dari kitab ini membahas tentang hubungan suami istri dan hak kewajiban perempuan, yang menurut beliau, mengandung relasi yang diskriminatif dan sarat dengan pandangan yang merendahkan perempuan. Konon, Nyai Khairiyah berharap seharusnya ada kitab semacam ini yang ditulis oleh perempuan.

Demikianlah, perjuangan dan kiprah Nyai Khairiyah dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan. Meskipun beliau dari lingkungan pesantren, tetapi semangatnya tidak pernah putus dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan. Karena, bagi Nyai Khairiyah hanya dengan pendidikanlah seorang perempuan akan memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan yang dapat berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Dan ulama yang memiliki kontribusi besar tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Jombang, tepatnya pada hari Sabtu 2 Juli 1983 (21 Ramadhan 1404 H).

Penyunting: M. Bukhari Muslim