Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Nuzul Qur’an: Al-Qur’an Diturunkan Bukan Hanya Untuk Dibaca

al-qur'an
Sumber: freepik.com

Bulan Ramadhan disebut juga syahrul Qur’an –karena pada bulan ini diturunkannya al-Qur’an. Banyak orang berbondong-bondong untuk lebih dekat dengan al-Qur’an, salah satunya dengan membaca sampai juga dengan mengkhatamkannya. Al-Qur’an secara bahasa memang berasal dari kata qira’ah yang berati bacaan dan merupakan masdar dari isim maf’ul yang diartikan dengan maqru’ (dibaca). Oleh karena itu tidak heran, membaca al-Qur’an dianggap sebagai ibadah ketika membacanya.

Perintah membaca al-Qur’an nampaknya telah bergeser dari makna dan tujuan sebenarnya al-Qur’an diturunkan. Mayoritas muslim di Indonesia banyak mengenal al-Qur’an itu sebatas kitab suci yang barang siapa membacanya akan mendapat pahala. Akibat yang terjadi, pendistorsian makna al-Qur’an hanyalah sebagai kitab yang dibaca setiap hari akan menghilangkan esensi dan tujuan diturunkannya.

4 Tingakatan Makna Pengulangan  Iqra’

Banyak yang menginterprerasikan landasan perintah membaca al-Qur’an bersumber dari surah al-Alaq ayat 1. Padahal tidak sepenuhnya benar, fi’il amr (kata kerja perintah) dari kata iqra’ dan tanpa ma’ful (obyek) di sana menunjukan kepada apapun semua yang dibaca. Artinya, makna ayat yang diperintahkan untuk dibaca bukan saja ayat al-Qur’an (qouliyah) tetapi ayat dalam pengertian segala sesuatu kecuali Allah adalah ayat. Termasuk pula seluruh alam raya (qouniyah) ini pun juga termasuk ayat yang mesti harus dibaca.

Dalam suatu riwayat dari Imam Ahmad dijelaskan, bahwa ketika permulaan Nabi mendapatkan wahyu pertama kali dan bertemu dengan malaikat Jibril di Gua Hira. Malaikat Jibril menyuruh Nabi Membaca: “Iqra” (bacalah!), akan tetapi Nabi yang ummiy  (tidak bisa membaca) berkata: “Aku tidak bisa membaca”. Sampai Malaikat Jibril terus mengulang iqra’ yang ketiga kalinya dan Nabi masih tidak tau apa yang bisa ia baca. Kemudian Jibril menyuruh Nabi sambil mengatakan: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan

Baca Juga  Buletin Jum'at: Memperingati Nuzulul Qur'an

Prof. Nasarudin Umar menjelaskan, dalam suatu tafsir isyari dikatakan bahwa makna pengulangan iqra’ sebanyak 4 kali memiliki 4 tingkatan perbedaan makna:

Iqra’ pertama adalah kesadaran sensorial yaitu how to read dan how to memorize. Iqra’ pada tingkatan ini hanya sebatas membacanya dan menghapalnya. Jadi kalaupun ada orang yang hanya membaca al-Qur’an 30 Juz dan begitupula hafal al-Qur’an, maka orang itu masih berada di Iqra’ yang pertama.

Iqra’ yang kedua adalah kesadaran intelektual yaitu how to learn dan how to think. ‘Iqra tingkatan ini bagaimana mempelajari al-Qur’an dengan mengetahui artinya, kandungan isi dan begitupula penjelasannya (tafsir).

Iqra’ yang ketiga adalah kesadaran emosional yaitu  how to understand dan how to mediate. Tingkatan ini tidak hanya melibatkan intelektual kita tetapi juga melibatkan emosional. Berbeda dengan iqra’ yang kedua, tingkatan ini al-Qur’an begitu dihayati sehingga menyentuh perasaan emosional.

Iqra’ yang keempat adalah kesadaran spritualitas yaitu bagaimana memukasyafahkan atau menyingkap tabir-tabir di dalam al-Qur’an. Iqra’ tingkatan terakhir ini hanya sedikit orang yang bisa mencapainya. Karena iqra’ ini melibatkan cinta kasih yang sangat mendalam, maka tidak ada satupun kata dalam al-Qur’an yang tidak bermakna.

Membumikan Al-Qur’an Sebagai Kitab Petunjuk

Membaca al-Qur’an adalah kegiatan yang positif dalam mengisi waktu di bulan Ramadhan. Namun pernahkah kita membayangkan al-Qur’an yang terus kita baca terus menerus, pernah kah kita juga sedikit memahaminya? Bahkan mungkin kita tidak pernah tau selama ini padahal kitab al-Qur’an ini memuat segala petunjuk di dalamnya? Allah Swt telah menegaskan dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ 

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”.  (Q.S Al-Baqarah: 185)

Baca Juga  Syawal dan Halal bi Halal

Dari ayat di atas, Allah mengatakan tujuan utama al-Qur’an diturunkan ialah sebagai petunjuk utama umat manusia, juga sebagai penjelas dan pembeda antara yang haq dan batil. Muhammad Abduh mengatakan: “Di akhirat kelak Allah tidak akan menanyakan kepada kita tentang pendapat orang lain tentang al-Qur’an. Allah akan menanyakan kepada kita tentang kitab-Nya yang diturunkan sebagai petunjuk dan pedoman kita.

Bahkan Abduh mengatakan lebih tegas, al-Qur’an akan dapat menjalankan fungsi adiluhungnya yaitu sebagai kitab petunjuk yang mendatangkan hidayah. Maka tentu untuk mendapatkan hidayah utama dari al-Qur’an, maka kita harus menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman kita yang paling utama.

Dari Tradisi Membaca Menuju Memahami

Penulis tidak mengatakan membaca al-Qur’an walaupun tidak paham maksudnya adalah salah. Setiap huruf yang kita baca dalam al-Qur’an adalah termasuk ibadah. Namun sampai kapan kita stagnan di posisi tingkatan iqra’ 1 saja?  Quraish Shihab menyindir: “Masyarakat dewasa muslim hari ini pun menganggumi al-Qur’an, tetapi sebagian kita hanya berhenti dalam pesona bacaan ketika dilantuntkan, seakan-akan kitab suci hanya diturunkan untuk dibaca.

Begitu juga Imam Ghazali dalam pengantar kitabnya al- jawahir mengkritik umat Islam yang enggan menyelami petunjuk-petunjuk dalam al-Qur’an:“Tidakkah kamu merasa malu terhalang mendapatkan permata dan mutiara dengan hanya terus-menerus melihat pantai dan tampilan lahir belaka? Tidakkah sampai pengetahuan padamu bahwa al-Qur’an itu bagai samudera dan darinya segala pengetahuan akan muncul, bukankah itu tugasmu untuk menyelam kedalaman agar bisa mengambil mutiaranya?

Lantas apakah salah banyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan? Hadist yang digunakan dan menjadi landasan memperbanyak membaca al-Qur’an adalah

فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآن أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَآَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ….

Baca Juga  Rasulullah itu Good Looking

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan Ramadhan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan Ramadhan, dan mengajaknya membaca dan mempelajari Al-Qur’an…” (Mutafaqun ‘Alaih)

Seperti keterangan hadits di atas, malaikat Jibril tidak hanya membaca al-Qur’an bersama Nabi tetapi juga dirasuhu (mempelajarinya). Momen bulan Ramadhan seharusnya tidak hanya dijadikan sekedar memperbanyak membaca al-Qur’an, melainkan sebaiknya juga mentadaburi dan mentafaqurinya. Karena ini Allah Swt menurunkan firman-Nya ke muka bumi sebagai petunjuk untuk dibaca. Membaca adalah proses memahami apa yang telah dibaca, karena kita bukan orang Arab dan tidak banyak mengerti bahasa Arab, maka jalan untuk memahami isi al-Qur’an salah satunya ialah membaca pula arti dan tafsirannya.

An-Najmi Fikri R
Alumni Ilmu Al-Qur'an Tafsir UMS dan Alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran